VCD EKONOMIS BUKAN CUMA PEMANIS

On 13 April, 2015 by Aldo Sianturi

VCD1

Musik dan Musisi selalu punya jodoh dalam urusan nilai ekonomi. Ada musisi yang cuma laris manis mendulang rezeki melalui penjualan Kaset, Compact Disc, Piringan Hitam, Digital Album. Tetapi ada juga yang menerima pemasukan gemuk dari RBT, Karaoke, Live Performance dan Merchandise. Meski tidak masuk akal, tetapi penjualan VCD (Video Compat Disc) cukup stabil di beberapa provinsi di luar DKI Jakarta. Produk ini biasa disebut dengan VCD Ekonomis, dimana cover album hanya dilapisi oleh plastik bening.

Penjualan VCD Nomor Satu di Maluku.

Penjualan VCD Nomor Satu di Maluku.

Ketika bepergian ke Medan, Surabaya, Ambon, Aceh, Menado, Balikpapan, saya beberapa kali membeli rilisan lagu Batak, Jawa, Ambon dan Tembang Kenangan dalam VCD Ekonomis di Pasar Tradisional. Meski terkesan kumuh, bau, semrawut, selalu  saja ada lapak yang konsisten menjual tipe produk musik tersebut. Biasanya, para penjual produk ini bernaung di bawah tenda plus speaker mikro dan TV berukuran 14 inchi. Harga yang dibandrol untuk 1 VCD adalah Rp. 20,000 s/d Rp. 35,000,-.

VCD3

Ketika kita berbicara dengan target pembeli VCD Ekonomis, maka kita tidak bisa dengan mudah menyebut kaum bawah sebagai prioritas utama. Masyarakat kita punya kedekatan dengan tradisi masing-masing sejak masa kecil dan rilisan VCD Ekonomis yang notabene sekitar 80% adalah musik dengan lirik lagu daerah maka sudah pasti diminati dengan harga yang terjangkau. Lepas dari parameter kelas sosial, selalu ada populasi yang bertahan dengan identitas musik primordial dan tidak tergoda untuk menggilai musik populer.

Bagi siapapun yang tinggal di kota besar, pasti tercengang mengetahui bahwa VCD Ekonomis  masih bisa punya angka penjualan yang tinggi tanpa apresiasi media massa. Padahal biasanya kita cuma melihat format produk ini pada modul pembelajaran anak di toko buku. Untuk sebuah judul VCD Ekonomis yang Hits bisa membukukan angka 2 juta keping dalam 6 bulan. Namun jika selintas terpikir untuk mengambil jejak merilis dalam format yang sama. maka ada baiknya untuk menelaah lebih jauh dan siap menerima kenyataan bahwa belum tentu semua aliran musik cocok untuk dirilis dengan kemasan VCD Ekonomis.

Pengetahuan ini akhirnya terjawab setelah saya berhubungan dekat dengan beberapa distributor barang asli di Glodok Plaza. Meskipun banyak yang mengatakan kalau tempat ini adalah sentra video bajakan namun diantara para pemain kiri ternyata ada yang merilis produk asli. Glodok ini cukup bersejarah untuk dunia rekaman bahkan Koes Bersaudara menciptakan lagu berjudul Glodok Plaza Biru di saat mereka dipenjara karena musiknya yang disebut ngak-ngik-ngok oleh Presiden Soekarno.@2015/AldoSianturi/Photo: Spesial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense