SURGA ALBUM FISIK ITU MENGHILANG LAGI

Pusat Perbelanjaan Sarinah sedang berbenah diri untuk berfokus menjadi sentra etalase UMKM Indonesia. Untuk itu, status semua tenant diterminasi untuk beberapa tahun ke depan. Angin perubahan ini sebenarnya sudah terdengar sejak tahun 2005, dimana realisasi penutupan permanen baru dimulai tahun ini. Sarinah pertama kali dibuka untuk umum pada tanggal 15 Agustus 1966. Tempat ini konon pernah disebut sebagai “Toko Raksasa” karena juga diamini sebagai gedung pencakar langit pertama di DKI Jakarta. Penggagas toko serba ada ini adalah Presiden Indonesia Pertama Ir. Soekarno dan Sarinah adalah nama pengasuh kecilnya yang mengilhaminya.

Sarinah adalah pusat perbelanjaan yang letaknya sangat strategis di Jakarta Pusat. Tempat ini sempat menjadi destinasi utama bagi pencari album fisik karena beroperasinya sebuah toko kaset yang bernama MusikPlus. Toko ini sudah beroperasi selama 40 tahun. Sebelumnya bernama Music City milik Ibu Harry dan berganti menjadi MusikPlus ketika diakuisisi pada tahun 2000. MusikPlus adalah salah satu retail bergengsi di Jakarta selain Aquarius, Duta Suara, Bulletin dan Disc Tarra. Sebelumnya MusikPlus juga pernah memiliki toko di Mall Taman Anggrek, Kelapa Gading, Blok M Plaza, Setiabudi One dan Summarecon Bekasi.

 

 

Sejak bulan Mei, semua produk dan rak yang biasanya menyambut para penyuka musik di MusikPlus dibongkar tuntas. MusikPlus Sarinah adalah retail besar yang dulu sempat memiliki 10 karyawan untuk mengantisipasi animo pembeli yang membludak setiap pagi sampai jam toko tutup. Sebelum keputusan ini disampaikan, memang performa pertokoan album fisik telah berada di zona sunset. Dari jarak dekat pun kita bisa berasumsi kalau penjualan bulanan tiap toko berangsur menurun. Keluarnya para staff satu per satu juga menjadi penanda pendukung sebuah bisnis yang interaktif mengalami hambatan penjualan.

Pada tahun 2000, omzet MusikPlus pernah menyentuh angka 1 Milyar per bulan dimana rata-rata penjualan per bulan selalu di atas 500 juta. Beragam perubahan faktor ekonomi menjadi kemunduran bisnis retail musik sejak tahun 2012. Angka penjualan menjadi terjun bebas tanpa diketahui solusi ampuhnya. Namun konsistensi MusikPlus perlu diacungi dua jempol. Pemiliknya memiliki daya tahan dalam menghadapi badai resesi penjualan album fisik. Para pebisnis musik Indonesia harus memberikan simpati atas figur bisnis MusikPlus. Begitu juga Duta Suara milik Andy Suharlan yang bertahan dengan ruko terakhirnya di Jalan Sabang.

MusikPlus yang sempat menjadi titik temu sakral bagi para kolektor album kini telah tiada. Kabar ini tentunya sangat emosional bagi generasi yang pernah punya pengalaman mengkonsumsi album musik fisik atau sekedar mampir ke MusikPlus Sarinah untuk berputar-putar melihat judul album dan harga album. Dalam waktu bersamaan memang pembeli album masih punya pilihan tempat untuk membeli album fisik di Blok M Square, Pasar Santa dan Pertokoan Jalan Surabaya. Namun alur distribusi penjualan album para perusahaan rekaman sebelumnya adalah selalu bermuara di Toko Kaset/CD yang disebut sebagai Traditional Channel.

Kabar ditutupnya retail fisik terakhir MusikPlus ini mungkin tidak seheboh ketika Retail Disc Tarra menutup 40 gerainya secara bersamaan pada Tanggal 5 November 2015. Namun penutupan ini juga adalah sejarah bisnis musik di Indonesia yang harus direspon dan dijadikan penanda bahwa senjakala bisnis selalu bisa terjadi di bisnis apapun. Ketika saya menghubungi pemilik MusikPlus menyampaikan bahwa mereka akan melanjutkan penjualan di medium online sambil mencari terobosan yang menguntungkan atas penjualan album fisik baik untuk rilisan lokal maupun impor. Terima kasih MusikPlus dan sampai jumpa di toko online!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *