SINYAL BISNIS DARI MUSIC MATTERS 2015

On 19 July, 2015 by Aldo Sianturi
MM1

Keceriaan Pebisnis Musik Indonesia

Untuk kedua kalinya saya menyambangi acara Music Matters yang berlangsung pada Tangal 20-23 Mei 2015 di Hotel Ritz Carlton, Singapura. Kali pertama saya datang ke acara ini adalah dua tahun silam dan dikirim oleh Believe Digital. Karena kalau pribadi untuk menanggung biayanya cukup besar. Berbeda dengan pengalaman sebelumnya, kali ini acara ini terhitung sepi, mungkin karena MIDEM 2015 pindah ke bulan Juni mulai tahun ini dan yang berbeda juga adalah semua Country Manager dari Believe Digital Asia berkumpul menjadi satu yaitu Syaheed (Singapore & Malaysia), Ping (Thailand), Jeff Joson (Filipina), Vivek Raina (India) dan saya mewakili Indonesia. Pasalnya setelah Music Matters berakhir kami mengadakan Internal Training yang menjadi menu penting pekerjaan.

Hari Terakhir Music Matters 2015

Hari Terakhir Music Matters 2015

Jadwal Acara

Jadwal Acara

Sekilas membaca isi acara Music Matters 2015 terkesan cukup gamblang dengan optimalisasi musik dalam notabene digital. Saya langsung menangkap sinyal yang kuat bahwa ada pergerakan yang reaktif atas pertumbuhan bisnis digital ke pasar Asia. Cukup menggoda untuk mendatangi panel-panel yang menempatkan banyak nama praktisi dari perusahaan besar, namun skala prioritas harus dijalankan. Misi kami adalah bertemu dengan para wakil dari Digital Stores (Spotify, Rdio, Guvera, Line Music, MixRadio) untuk membicarakan informasi terkini yang akan terjadi di setiap negara di Asia.

MM2

Mampir Ke Kantor Facebook Asia

Dua tahun lalu, pertemuan yang banyak saya lakukan adalah masih bersifat perkenalan dan pemahaman pasar dan bentuk layanan. Kali ini lebih ke “What’s Next” yang menghimpun beberapa poin yang saling berbeda untuk memberikan kepastian pertumbuhan atas nilai ekonomi atas distribusi musik secara digital. ¬†Saat itu semua saling membicarakan “Apple Music” yang dilansir pada tanggal 30 Juni 2015. Semua pemain “Audio Streaming” bersiap untuk apapun yang dilakukan iTunes Stores yang memiliki lebih dari 200 juta akun berbasis kartu kredit di seluruh dunia.

Beruntung juga dalam perjalanan ini saya dipersilakan untuk masuk dan mengenal lebih dekat kantor Facebook Asia, Spotify dan Rdio. Sambil bertamu saya melakukan pertemuan sederhana untuk peluang kerjasama yang punya multi dampak atas profil musisi dan karya ciptanya.

Sudden Meet-Up

Sudden Meet-Up

KONTINGEN INDONESIA Seperti biasa, tidak banyak pembuat keputusan bisnis musik dari Indonesia yang mendatangi Music Matters. Mungkin bagi mereka alasannya terlampau mahal atau pertemuan yang terjadi tidak langsung memberikan pemasukan. Para pebisnis musik yang menyukai arus uang yang cepat tidak begitu suka dengan ekposur atas pertemuan terbuka yang lebih banyak ke retorika asumsi penjualan. Namun di Music Matters 2015, saya bertemu dengan praktisi bisnis musik seperti Irfan, Robin Malau, Sarah Deshita, Christian Rijanto, Riri Muktamar, Yusak Sutiono, Dahlia Wijaya dan Nadia Yustina. Saya yakin semua punya agenda bisnis yang menarik untuk disimpulkan dalam waktu dekat.

Gateway To Indonesia Panel

Gateway To Indonesia Panel

Sebagian dari nama di atas tampil pada panel khusus yang disesaki oleh praktisi bisnis musik dunia. Namun saya yang sedari awal mengikuti panel bertajuk “Gateway To Indonesia” kurang begitu puas mendengar isi pembicaraan dari para panelis. Apalagi setelah panel India berlangsung dengan cair, maka panel Indonesia saya rasa kurang lentur dan terkesan kaku. Sebaiknya obyektif yang harus disampaikan kepada praktisi bisnis dunia adalah bagaimana mereka bisa mendapatkan penjelasan yang crystal clear dan dorongan untuk merumuskan perspektif terbaik untuk masuk dan menanam modal di Indonesia atau setidaknya menjadi penghubung Indonesia kepada lanskap bisnis musik dunia dalam konteks G2G.

Di luar hal tersebut, saya selalu senang melihat geliat para pebisnis musik dari Indonesia yang tidak pernah padam semangatnya. Namun dibalik itu semua dari perspektif makro bisnis musik, saya sadar bahwa Indonesia masih membutuhkan waktu untuk dapat menuai pencapaian masukan yang tidak recehan. Saya dibuat cemburu mendengar pemasukan negara lain di Asia yang dimana di negaranya Digital Stores telah bekerjasama dengan Telco setempat. Hal ini cukup berpengaruh kepada rotasi konten yang tidak semuanya terekspos karena faktor back catalogue yang membutuhkan waktu untuk naik ke permukaan.

Faktor lain adalah mau tidak mau, latar belakang struktur bisnis musik memiliki andil atas kelambatan hal tersebut. Di pola bisnis yang super cepat, Indonesia belum siap untuk mengkomersialisasikan karya cipta dengan siap jual. Ada saja yang belum terselesaikan dari sisi pemilik konten belum lagi perihal kecepatan internet di Indonesia yang masih menjadi pertanyaan massal dan belum terjawab transparansinya. Internet Matters!@2015/AldoSianturi/Photo: Aldo Sianturi, Graham Perkins

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense