SIAPA YANG BILANG “BOYZ GOT NO BRAIN” NGGAK PUNYA OTAK?

On 31 October, 2017 by Aldo Sianturi

Suasana Launching BGNB – Bunga Trotoar

Ketika dihubungi oleh Gerry Koenadi (Xaqhala) untuk menjadi Moderator di acara launching album Boyz Got No Brain (BGNB) – Bunga Trotoar untuk Tanggal 13 Oktober 2017 di Twenty Fifth, Wijaya, Jakarta Selatan; saya langsung menyanggupi ajakan spesial tersebut untuk hadir dan memandu acara rilis sekaligus Talk Show yang bertajuk “Timbul Tenggelam Musik Rap Indonesia”. Ada beberapa alasan penting dimana saya menerima undangan tersebut di tengah kesibukan yang grafiknya sedang tinggi. Pertama adalah Xaqhala dan Rullionzo (Aplhonzo Parulian) adalah teman baik saya dan album ini hadir sangat spesial sebagai album pertama dan terakhir untuk BGNB. Saya datang bersama kedua anak saya bernama Dante dan Danesh yang juga sedang menggilai musik.

Satu jam sebelum acara dimulai, coffee shop di bilangan Jakarta Selatan tersebut mulai dipenuhi oleh para aktifis musik Hip Hop Indonesia seperti Ucok “Homicide”, Remon & John Doe “Sweet Martabak”, Erik & Doyz “Black Kumuh”, Alex Sinaga “Hellhouse Records”, Jawir “Represent”, Derry “NEO”, DJ Schizo, Yudis Dwikorana (Guest Music) dan para music enthusiast yang melebur bersama jurnalis menanti gong acara dimulai dan mengikuti menit demi menit isi acara yang telah dipersiapkan secara optimal. Suasana acara tersebut sangat santai, akrab dan ramai. Riuh audiens terus terang membuat acara semakin seru meskipun BGNB sama sekali tidak beraksi musik di depan khalayak. Saya terus terang belum santai karena saya bingung masih ada orang yang rilis album di jaman sekarang. Namun BGNB punya otak ketika mengatur rencana dan berusaha jujur dengan realitanya.

Akhirnya, bagi saya BGNB punya diferensiasi yang cukup kuat dari beragam sisi. Bonding yang cukup kuat sejak mereka berdua masih berusia 3 tahun dan bertemu saat tampil bernyanyi di acara ulang tahun karena satu area pemukiman di daerah Cawang, Jakarta Timur adalah dasar dari persaudaraan musik mereka terbentuk. Meski sempat terpisah jarak namun mereka bertemu kembali di sebuah acara karena menggeluti Rap. Secara karakter mereka berdua juga dikenal memiliki nyali dan mental di atas rata-rata dalam urusan pertemanan. Ketika masih remaja mereka cukup terkenal bengis dan keji ketika ada orang yang mengusik kenyamanan tanpa alasan yang masuk akal.

Secara musikal, mereka berdua punya karakter rap yang jauh berbeda, namun sangat lugas dan solid setiap kali memuntahkan pesan yang dituju lewat rumusan kata yang dibundel dengan notasi lagu yang “singable” dan elegan. Teknik rap mereka terasah karena jam terbang dan konsistensi yang panjang sejak mereka dihadapkan dengan pasar melalui Kompilasi Pesta Rap melalui single “Nyamuk” yang sarat interfensi label Musica’s Studio di tahun 90an sebagai distributor fisiknya.

Gerry dan Rulli sepertinya juga bingung dengan jalan cerita BGNB apalagi di titik nadir saat keduanya sempat jatuh di kelamnya dunia narkoba masa silam. Mereka juga sempat kecewa karena album mereka dengan BMG tidak jadi dirilis meski kadung direkam. Mereka seperti dianggap tidak ada dan saat itu mereka mati suri. Untungnya mereka bisa berdamai dengan gejolak domestik tersebut meski harus terpisah kembali dan menjalani prioritas hidup dengan jalur solo.

Sekarang mereka sudah tua, mereka sudah melewati usia 40an, namun mereka masih ada dan suka tidak suka BGNB hidup kembali di kancah musik yang sangat berbeda dinamikanya dengan era 90an. Sekarang mereka bertemu dengan rapper-rapper baru yang punya beragam versi pribadi yang semakin unik. Mereka harus menelan semua meskipun merasa risih, contohnya adalah bila melihat pribadi Rapper yang tidak memiliki sopan santun ketimuran yang menjadi roots dari budaya kebersamaan di Indonesia. Beruntung mereka telah memiliki keturunan dan berusaha untuk sebijak mungkin melihat perubahan etika yang terjadi di kehidupan hari ini. Pemikiran tersebut epiknya masuk di dalam format album BGNB “Bunga Trotoar”.

Dalam kesempatan tersebut, BGNB juga merilis single kedua yang diperkuat oleh materi video klip yang ekspresif namun low-budget yaitu “Rantaiku Putus”. Lagu ini menyusul single pertama “Belaga Belgi” yang cukup menghibur mata dengan kesederhanaan anak tongkrongan yang bebas berkelana dengan sepeda, bertelanjang dada tanpa batasan duniawi apapun. Perlu diingat sekali lagi bahwa begitu banyak musisi di Indonesia yang kondisinya setipe dengan BGNB ┬ádalam urusan merilis album. Banyak yang tidak tau lagi harus bagaimana berbisnis di musik.

Atas “Twist” ini, maka saya harus angkat topi kepada mereka dan labelnya Hellhouse Records. Otak mereka memang cemerlang untuk urusan kreatifitas dan penting untuk memiliki album terbatas ini. BGNB adalah salah satu pintu kemunculan dari rapper2 yang hadir di era Y2K dan mereka tidak boleh dianggap selesai, mereka harus tetap disemangati agar bisa memberikan kemampuannya kepada penerusnya dan hadir di beragam kolaborasi musik yang menarik. Siapa bilang mereka nggak punya otak? @2017/AldoSianturi/Photo: Spesial

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense