PERTEMUAN TERBUKA PERSATUAN DISC JOCKEY INDONESIA (PDJI)

On 2 January, 2016 by Aldo Sianturi

P1

Pada Tanggal 5 Desember 2015, saya diundang oleh Erfan Kusuma (Mantan Ketua Persatuan Disc Jockey Indonesia) ke acara pertemuan PDJI yang digagas oleh Ketua Umum PDJI yaitu Jacky Mussry. Awalnya saya tidak tahu apa yang dibahas di pertemuan. Saya datang terlambat dan ketika memasuki ruangan, terdengar ingar bingar dari para audiens yang notabene adalah Disc Jockey dari beragam tempat di Indonesia. Diantaranya ada Tendry Masengi, Kitting Lee, Olly Tanjung, Iman Djohan, Naldo, Akhda dan sebagainya. Kedatangan saya disana adalah karena sebelumnya saya menempati posisi Bidang Usaha di kepengurusan PDJI sebelumnya.

P2

Di ruangan yang bertempat di kantor MarkPlus, saya bertemu dengan Ary Juliano Gema & Ricky Pesik dari Bekraf (Badan Ekonomi Kreatif). Saya memang tidak mengikuti sejak awal namun beberapa audiens menuangkan aspirasi dan hampir semuanya bentuknya menjadi curhat. Hal seperti ini sudah sering saya lihat di dalam dunia hiburan. Biar bagaimanapun harus ada yang angkat bicara dari sisi bisnis musik. Untunglah saya mendapatkan sela menyampaikan perspektif saya yang terbaik untuk menjalankan PDJI di Tahun 2016.

P3

Saya sampaikan bahwa positioning Disc Jockey di Indonesia dianggap sebagai lapisan kedua. Bahkan perusahaan rekaman saja menghargai Disc Jockey sebagai unsur pemanis dan seremonial rilisan saja. Sewaktu saya bekerja di Universal Music Indonesia, saya tepis situasi tersebut dengan merilis album Non-Stop Mix Hip-Hop pertama di Indonesia milik DJ Schizo dengan judul Invasion. Setelah itu perusahaan rekaman tidak pernah merealisasikan kecuali artisnya yang datang ke label dan bekerjasama untuk pendistribusian.

P4

Rupanya urusan bisnis musik seperti ini tidak begitu dipahami oleh para Disc Jockey. Mereka notabene hanya paham kalau revenue stream itu datang dari kontrak sebagai DJ Resident tempat hiburan, event musik beragam skala dan menjadi pengajar di sekolah Disc Jockey. Bahkan dari sisi digital saja selama 3 tahun belakangan ini tidak ada nama-nama dari dunia dance music Indonesia yang mendistribusikan karya ciptanya. Kemudian hal klasik yaitu adanya jarak antara DJ satu sama lain juga menjadi penghambat berkembangnya persatuan yang berbasis individu secara karir ini.

P5

Saya juga menyampaikan bahwa PDJI sebagai badan yang telah memiliki payung hukum harus segera membuat perencanaan bisnis, sehingga dengan mudah dapat mencari pekerja untuk mengurus operasional secara total. Karena tidak mungkin meminta volunterisme Disc Jockey. Mereka tidak mungkin bisa berjalan dua kaki. Namun tanpa mendengarkan masukan dari saya, maka persatuan ini tidak akan kredibel di mata siapapun yang pada akhirnya akan menanyakan profit dan benefit untuk menjadi anggota di Persatuan Disc Jockey Indonesia.

Hal ini perlu segera dirumuskan karena kita sudah hidup bersama MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) di 2016.  Bahkan yang paling penting adalah follow-up dari pertemuan ini seperti apa. Sudah tidak jaman untuk membuat pertemuan hanya sebagai simbol seremonial tanpa produktifitas. @2016/AldoSianturi/Foto: Aldo Sianturi, Bekraf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense