SEPERTI APA BISNIS MUSIK 2014?

On 14 January, 2014 by Aldo Sianturi

Songhack2013 telah lewat dan sekarang sudah tahun baru, tahun 2014. Perpindahan dari tanggal 31 Desember ke 1 Januari, sangat melegakan tapi hanya sesaat, karena setelah berjumpa dengan tanggal 2 Januari, para pebisnis musik sudah mendapatkan serangan butterfly on the stomach dan anxiety; rasa mules yang berlebihan ini hadir karena harus ada target yang harus dikejar di akhir bulan Januari 2014.

Target bisnis itu mungkin sudah diputuskan sejak kwartal 4 di tahun 2013 dan tidak ada alasan untuk mangkir. Karena angka penjualan yang terbukukan adalah bentuk kemenangan dalam bisnis yang berbentuk keuntungan. Karena dalam ukuran perusahaan harus ada tanggung-jawab yang harus dipenuhi seperti gaji bulanan dan segala tetek bengek yang berhubungan dengan operasional bisnis.

Menurut sebagian besar pebisnis musik yang saya temui di tahun 2013, rata-rata memandang bisnis musik semakin berat. Tidak seperti dulu. Dulu yang mana dulu? Dulu tahun 90an dan 2000an punya versi keberhasilan yang saling berbeda. Keberhasilan di dua jaman ini ditentukan oleh faktor musik, faktor teknologi dan faktor manusia. 3 faktor ini mutlak berjalan bersama bisnis musik.Faktor musik jelas menjadi hukum alam, yang enak dan bisa berbicara atas nama generasi adalah musik yang mendapatkan keuntungan berlipat di setiap era. Kedua adalah format produk yang dulu diniagakan adalah pita kaset dan cakram padat. Piringan hitam sudah ditinggalkan retailer dan masyarakat luas karena alat pemutar format produk ini sangat mahal.

Hanya sebagian diskotik yang masih bertahan mempergunakan materi ini sampai awal tahun 2000an seperti Stadium, Lava Lounge, Manna House, Embassy, Retro, Diva. Alasannya adalah karena para label musik dansa di Eropa, Amerika dan Jepang hanya merilis album dalam format piringan hitam. CD menjadi rilisan sekunder bagi label seperti Defected, Ministry of Sound, Vandit, Naked Music. Ketiga adalah manusia sebagai pembuat keputusan. Media konvergensi yang dielukan dari fisik ke digital membuat banyak yang berkampanye bahwa CD tidak akan punya waktu yang panjang. Dengan hadirnya Serato yaitu sebuah solusi paket software dan hardware yg digunakan oleh Disc Jokey untuk menjembatani dunia turntablism analog dan dunia digital audio file komputer. Dengan menggunakan turntable atau CD player biasa, peramu musik bisa melakukan mixing atau scratching file audio seperti MP3 atau WAV yg ada di laptop anda. Tak hanya itu, serato scratch live juga bisa digunakan untuk memainkan file video dan melakukan video mixing atau audio visual.

Pengaruhnya ke masyarakat luas semakin bergelombang, selama hampir 20 tahun, ada generasi yang hidup oleh produk bajakan musik yang punya variasi harga. Karena akses yang terbatas, dorongan untuk berbeda dan tidak mengerti bagaimana menghargai komposer dan tidak pernah melihat ada hukuman keras atas pelanggaran ini, maka sekian persen dari 250 juta populasi di Indonesia merasa kebal terhadap kampanye yang berseberangan dengan bisnis musik. Manusia adalah pencipta komposisi musik dan faktor “It’s All About Music” yang berarti kalau musiknya enak maka masa depannya juga enak menjadi landasan permanen di dunia musik. Banyak yang menepikan bahwa menjadi musisi harus bisa bermusik adalah penting. Akhirnya yang terjadi adalah hanya maksimal di Album Launching dan Press Conference, namun secara penjualan sama sekali tidak direspon market.

Di dunia manusia, respon ini memang tidak bisa dipercaya seratus persen. Terlalu banyak manusia yang memanfaatkan situasi di bisnis musik. Contohnya mungkin musiknya di respon, tapi karena dia tidak suka dengan pribadi orang tersebut, maka jalan menuju apresiasi masal ditutup dan mata rantai usaha akan mampet. Apalagi bagi para pelaku yang masih baru masuk ke arena bisnis musik, belum kenal banyak penentu kebijakan dan bukan siapa-siapa. Hal ini masih berlaku sampai kapanpun, mungkin bukan di Jakarta, tapi di 32 provinsi lain. Para pebisnis musik 2000an, sempat merasa nyaman karena secara berjamaah menghindari fokus bisnis untuk merilis cakram padat. Sebagian label yang masih berfokus kepada format ini punya alasan bahwa secara fisik kontennya masih ditunggu dalam format CD dan spekulasi untuk mengulang sukses. Ada yang untung dan banyak yang buntung. Yang untung biasanya bukan berdasarkan penjualan tapi biaya produksi cetak di awal yang secara hitungan sudah memberikan margin yang lumayan.

Tapi roda kehidupan selalu berputar. Di saat sebagian label masih berfokus kepada cetak cakram padat, ada sebagian label yang meyakini bahwa RBT (RingBack-Tone) yang dijual melalui Telco menggantikan pemasukan yang selama ini hampir tidak bermakna. Ring Back Tone adalah suara yang diperdengarkan di jalur telepon oleh pihak penelepon setelah selesai melakukan pemanggilan dan sebelum panggilan dijawab oleh pihak yang dihubungi. Versi personal dari nada sambung disebut nada sambung pribadi. Nada sambung dapat berbeda-beda di setiap negara tergantung kebutuhan spesifikasi nada sambung di negara tersebut. Hijrah massal ini dilakukan dengan beragam kreativitas dan agresifitas. Label besar bisa mendapatkan keuntungan 5 Milyar per bulan dan label kecil bisa meraup hampir setengah dari pembulatan.

BLACK OCTOBER

Rencana manusia untuk makmur seumur hidup ternyata tidak diamini. Maraknya pemberitaan tentang penyedotan pulsa, serta kian kuatnya desakan masyarakat untuk segera menghentikan aksi merugikan, tak pelak membuat Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengeluarkan Surat Edaran kepada para Direktur Utama 10 penyelenggara seluler dan fixed wireless (FWA). Surat Edaran bernomor 177/BRTI/2011 tanggal 14 Oktober 2011 pokok isinya adalah deaktivasi/unregistrasi layanan sms premium paling lambat Selasa 18 Oktober 2011 tengah malam jam 00.00, kecuali untuk layanan publik dan fasilitas jasa keuangan serta pasar modal sesuai peraturan perundang-undangan. Bersama BRTI, Mabes Polri menetapkan tiga tersangka kasus sedot pulsa, yakni:

Vice President Digital Music dan Content Management Telkomsel Krishnawan Pribadi
Direktur Utama PT Colibri Networks berinisial HBN alias NHB
Direktur Utama PT Mediaplay berinisial WMH

Manusia kembali menjadi faktor terbitnya keputusan ini. Karena keserakahan manusia maka teknologi yang seharusnya dapat dikembangkan menjadi mesin pencetak uang sampai menunggu perubahan besar di bisnis musik diperkosa untuk menjadi pemuas rekening sebagian orang. Imbasnya pebisnis musik kehilangan rencana besar untuk meraup keuntungan atas konten musik yang diciptakan. Bencana ini serius tapi masih banyak para pemimpin perusahaan yang berlagak seperti kebal terhadap kelumpuhan. Tetapi dalam jangka dua tahun akhirnya menyerah juga, ada yang gulung tikar dan ada yang memberhentikan karyawan. Tetapi bagi para pebisnis musik yang terlanjur kecebur atau masih melihat keuntungan di masa depan, mereka masih konsisten melakukan manuver lain untuk meraih bagian pundi yang segar dari bisnis musik.

Sebagian berfokus kepada manajemen artis dan sebagian mengintai perusahaan yang kredibel untuk mendistribusikan konten secara digital ke iTunes Stores. Apalagi sejak tanggal 4 Desember 2012, iTunes Stores masuk ke Indonesia dengan mata uang lokal. Oase baru ini akhirnya dipergunakan oleh para pemilik konten. Beberapa label lantas meraup untung dari penjualan berbasis kartu kredit dan mereka pun berpikir untuk menjadi orang tengah dari pemilik konten yang tidak berada dibawah label manapun. Investasi Google secara resmi ke Indonesia juga mendorong pertumbuhan keuntungan melalui konten visual yang dimonetisasi di YouTube. Meski tidak sebesar pendapatan penjualan RBT, tetapi penjualan yang dibukukan melalui dua platform besar ini mampu memberikan nafas baru bagi label besar. Untuk label kecil belum begitu terasa karena memang diperlukan banyak strategi dan taktik untuk bisa mendapatkan keuntungan.

Indonesia dengan populasi penduduknya selalu membuat lapar bangsa lain. Datanglah akhirnya Valleyarm yaitu agregator digital asal Australia masuk ke pasar ini setelah mengetahui bahwa penjualan di iTunes Stores cukup baik atas pasar Indonesia. Produktifitas di awal yang bagus membuat beberapa label kesengsem namun dalam perjalanan yang membutuhkan komunikasi yang reguler tidak dapat dipertahankan dan membuat para pemilik konten kembali bertanya dan bingung untuk mengembangkan bisnis secara hitam  diatas putih. Hiccup ini kembali menjadi momok dan memberikan satu pelajaran bahwa tidak mudah untuk langsung percaya kepada siapapun. Beberapa label yang memilki uang banyak akhirnya berpikir untuk melakukan distribusi sendiri dan hanya berfokus kepada pasar Indonesia. Persiapan ini sedang dilakukan dan masih menunggu sinyal terbaik untuk bisa melayani kebutuhan musik masyarakat Indonesia.

Tidak mudah ternyata berbisnis musik di Indonesia yang harus mendua yaitu fokus terhadap digital dan masih juga terhadap fisikal. Keduanya harus dijalani dalam waktu bersamaan dengan jumlah tim yang terbatas. Apalagi dengan kerjasama distribusi yang dibuka oleh retailer makanan seperti Kentucky Fried Chicken, Es Teler 77, Gokana, California Fried Chicken paling tidak yang awalnya memberikan kemerdekaan tetapi lambat laun menghadirkan negosiasi yang alot. Sementara pasar musik hidup untuk musik lokal juga mengalami kegelisahan atas dibatasinya perusahaan rokok sebagai sponsor. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan, perusahaan rokok dilarang mensponsori pergelaran musik. Peraturan itu berlaku efektif di tahun ini.

Akumulasi kegelisahan ini menggelayuti kepala para pebisnis musik hari ini. Seperti apakah road-map yang dibuat oleh masing-masing pebisnis musik di Indonesia. Beruntung di Indonesia ini masih ada layanan penjualan seperti Nokia Music, MelOn Indonesia, Langit Musik yang diremajakan, KlikMusik dan distribusi ke beragam platform musik seperti Deezer, Spotify, Amazon, 7Digital, YouTube, iTunes, Emusic oleh Raksasa Distribusi yaitu Believe Digital dari Prancis. Tetapi semua ini belum bisa dibilang aman, hari ini adalah permulaan distribusi digital musik yang baru akan dinikmati dua tahun mendatang. Perlu dimengerti juga ada pergeseran pasar dari pembelian FTD (Full-Track Download) beralih ke Music Streaming (Mendengarkan Music dari Cloud/Server dengan bantuan broadband atau data). Ini adalah masa transisi untuk pebisnis musik melihat dunia dengan kacamata baru tanpa kembali lagi ke zaman emas Ring Back Tone yang tidak mungkin lagi semoncer silam. Ini adalah masa yang tepat untuk berproduksi dengan sangat baik dan mempersiapkan rencana rilis yang matang dan kalau bisa bukan hanya untuk pasar lokal saja.

Kita masih punya setahun kedepan, masih ada 3 kwartal yang harus direncanakan dengan baik. Masih banyak cara mencari   pemasukan dengan nawaitu yang baik dan masih banyak pebisnis musik di Indonesia yang tidak rakus. Bisnis Musik bukan melulu bisnis rekaman. Setiap orang yang mengatakan akan mati di musik harus memiliki multi paradigma untuk menciptakan akar pemasukan yang berbasis bisnis musik. Agar bisa sukses di pasar bisnis musik 2014, tidak ada rahasia, tidak ada prediksi, hanya kerja keras. Bon Courage! Good Luck! @2014/AldoSianturi/Photo: Songhack

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense