SEMUA SUKA MUSIK POP DI FILIPINA

On 2 June, 2015 by Aldo Sianturi

OPM2

Hampir seminggu penuh di tanggal 19 – 24 April 2015, saya melancong ke Filipina bersama Octav Panggabean untuk urusan bisnis musik. Perjalanan kali ini mengingatkan saya kepada tulisan yang pernah dipublikasikan pada tahun 2012 mengenai latar belakang musik OPM (Original Pinoy Music) melalui blog ini. Bagi saya, Filipina selalu menarik untuk dikunjungi dan diteladani.

Ketika sampai di Makati, perubahan ekonomi makro dapat saya rasakan atas pertumbuhan infrastruktur yang berkembang pesat dan tentu hal ini menjadi motivasi penduduk Filipina untuk semakin maju. Meski petang itu, matahari bersinar terik namun rencana untuk bertemu para pebisnis musik lokal sangat menggebu.

F1

THE REAL PHILIPPINE IDOLS Akhirnya sebuah pertemuan yang luar biasa terjadi dengan dedengkot bisnis musik Filipina yang bernama Danee Samonte pemilik Steve O’Neal Productions yang juga dikenal sebagai arsitek revolusi musik Filipina sejak tahun 1967. Saya juga diajak untuk menghadiri konser John Ford Coley & Kyle Vincent yang dipromotorinya di Midas Hotel & Casino.

Yang paling membuat saya tidak bisa tidur adalah ketika dipertemukan dengan Male Rigor yaitu personal termuda VST & Company. Saya berjanji untuk membawa dia konser ke Indonesia. Sejenak saya berpikir ketika disampaikan bahwa di Manila mempunyai banyak Casino yang menjadi tempat para Adult Musician tampil dan di Indonesia tidak ada. Casino adalah sebuah tempat yang menyediakan layanan untuk kegiatan taruhan dan sejauh ini ditolak kehadirannya di Indonesia.

OPM3

Di Filipina saya begitu antusias mencari piringan hitam, dengan mempergunakan taksi meter, maka saya sampai ke sebuah tempat di Cubao Expo, namun sepanjang perjalanan bolak-balik, saya mendengar radio-radio di Makati memutar lagu-lagu pop ballad manca negara yang membuat saya yakin bahwa negara ini dikuasai oleh musik pop.

PINOYS

Meski CD mengalami penurunan penjualan, bayangkan dari 200 retail kini hanya tersisa 60an retail yang menjual barang fisik, tetapi ketika saya menyempatkan diri datang ke retail ternyata masih terlihat seonggok rilisan lokal dengan ukuran disain yang saling berbeda. Tough situation…

OPM4

Setelah itu saya mampir ke Hard Rock Cafe Makati dan menikmati penampilan Silk Band (4 biduanita dengan band) yang akhirnya membawakan tembang kenangan OPM yang berjudul Kahit Maputi Na Ang Buhok Ko. Sepertinya mereka lebih bangga bernyanyi dengan bahasa Inggris ketimbang tagalog. Padahal mereka tampak semakin seksi dengan bahasanya sendiri. @2015/AldoSianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense