SELAMAT JALAN TEMAN PARKIR “DENNY SAKRIE”

On 4 January, 2015 by Aldo Sianturi

Teman Parkir

PARKIR DIMANA? | Bung Denny Sakrie telah berpulang ke Allah SWT kemarin yaitu Tanggal 3 Januari 2014 di hari Sabtu dikarenakan sakit jantung yang menyerangnya. Tanggal kematiannya sama dengan Bob Weston dari “Fleetwood Mac”. Kenapa saya sebutkan nama musisi asing lawas tersebut karena almarhum adalah orang tua, orang dulu semasa hidup. Usia almarhum jauh di atas saya dan wajar dia mengetahui begitu banyak hal. Karena saat saya belum lahir saja dia sudah bermusik dan menonton banyak konser musik dan bergaul bersama musisi di masanya.

Tidak  banyak yang tau kalau saya punya ajang pertemuan yang kami rancang sederhana bertiga bersama Denny Sakrie dan Widyasena Sumadio. Keduanya adalah senior saya. Kami bertiga menetapkan nama pertemuan kami dengan “PARKIR” dimana kami bertiga punya filosofi yang cukup dalam. Kami selalu berjanji untuk bertemu di Tator (Senayan City) dan tidak lain hanya menyantap singkong goreng dan kopi lanang kesukaan. Di posisi strategis tersebut begitu banyak orang yang lalu lalang ikut “markir” bersama kami.

The Last Karaoke

Tanggal 24 Desember 2014, kami kembali melakukan parkir di sana. Setelah kami bertiga bertemu, lalu saya bersama Kara Mindy datang dan kemudian Pipit Djatma dan Cut Memey pun hadir di sana dan ditambah Kang Noey (Java Jive) yang juga ikut markir malam itu. Semua riang. Semua bahagia. Bergabung juga Nirmala malam itu dan saya ngotot untuk mengajak semua karaoke di XKTV untuk menghindari macet parah. Sebelumnya kami makan malam dulu di Food Court dan kami semua bercanda lepas.

Setelah itu kami masuk ke ruang karaoke. Suasana agak temaram dan cukup lama kami diam karena tidak menguasai cara memilih lagu dan akhirnya saya memilih lagu pertama yaitu Toto – I Will Remember. Ketika saya bernyanyi, Denny Sakrie pun ikut bersenandung dan begitu dalam menyanyikan bagian per bagian. Saya kagum dengan suaranya. Ini kali pertama saya mendengar dia bernyanyi. Apalagi ketika dia menyanyikan lagu Broery Pesulima, Chrisye dan Bee Gees, dia berusaha memiripkan suaranya. Berulang kali dia tertawa setiap kali saya melakukan falsetto.

Hahaha semua begitu indah dan tidak terasa kami semua berpisah di depan Senayan City jam 1 pagi. Saya tidak akan pernah lupa kepada Denny Sakrie, apalagi dia pernah membantu saya, merekomendasikan saya kepada SAE Institute Jakarta agar saya menjadi Dosen Bisnis Musik yang malah berujung menjalani kapasitas sebagai Head of Music Business selama masa bakti 1 tahun penuh di sana. Begitu banyak orang dan media yang terbantu oleh kesediaan Denny sebagai narasumber dan hal itu semua terlihat ketika dia meninggalkan kita semua terlebih dahulu. Rest In Love Denny Sakrie dan semoga keluarga yang ditinggalkan dapat menerima semua dengan ikhlas.

BELUM BEGITU LAMA | Perkenalan saya dengan Denny Sakrie belum begitu lama. Yang saya ingat adalah saat saya sering melakukan jual beli CD dan Plat di Jalan Surabaya tahun 90an. Kios yang paling sering membuat kami bertemu adalah di Kios Ompung Silalahi (Alm) yang memang melayani jual beli koleksi musik dengan harga yang tinggi. Di sana kami sering berbincang tentang musik jazz, karena ketertarikan saya memang lebih ke aliran musik ini.

Berlanjut ketika kami juga aktif sebagai member di milis Jazzy Tunes (Yahoogroups). Milis ini sering membuat kopi darat. Pernah saya menegur beliau untuk lebih sopan sewaktu saya bekerja di Universal Music Indonesia. Pasalnya ketika itu saya sedang mempromosikan Mariah Carey yang baru pindah dari EMI dengan album Charmbracelet. Denny memang suka bercanda tapi saat itu saya rasa momen candanya kurang pas dan akhirnya saya malah ditegur Pak Tony Arief untuk lebih sopan. Saya terima dan malah kami semakin dekat.

Tidak lama dari momen itu, Denny mengundang saya menjadi tamu di Program Regulernya di Radio Female untuk membahas Grammy Awards. Kemudian saya semakin sering lagi bertemu beliau sewaktu saya bekerja di Aksara Records. Dia adalah teman baik David Tarigan bersama Alan Bishop. Meski usia David Tarigan sama seperti saya tapi mereka begitu kelop membicarakan sejarah rilisan musik di Indonesia. Saya melihat enerji mereka berdua adalah sebuah senyawa yang maha dahsyat. Saya berharap David Tarigan secara alami akan mengisi kekosongan sosok yang mampu membicarakan masa lalu tanpa putus asa.

Denny Sakrie semasa hidupnya adalah sosok yang dinamis. Dia lentur mengikuti perubahan zaman dan tidak segan bermain dengan siapapun yang berbeda usia. Dia hadir di Friendster. Dia hadir di Multiply. Dia hadir di Facebook. Dia hadir di Twitter dan yang terkini Bung Densak hadir di Path. Dia adalah seorang freelancer. Waktunya dia pakai secara konsisten membicarakan apa saja di medium media sosial dan semua itu berjodoh dengan tawaran menjadi narasumber di beragam bidang. Semua dia telan dan itulah rezeki halal bagi penyuka musik yang tidak harus jadi musisi.

Saya pribadi sering sekali bertemu almarhum di Mall. Dan setiap kali hanya berdua, saya pasti langsung mengajak beliau untuk makan bersama dan membicarakan apa saja. Makan malam berdua saya terakhir dengan dia adalah 4 bulan lalu di Sari Ratu Plaza Senayan, dimana beliau mengatakan bahwa banyak orang yang tidak suka dengan beliau tapi dia tetap jalan terus. Saya bahkan sampai membuat status di Path, dimana saya berterima kasih atas kesediaan beliau memberikan informasi tentang musik masa lalu karena tidak ada yang mau dan mampu berbuat seperti itu. @2015/Aldo Sianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense