SEBELUM BICARA UANG DI BISNIS DIGITAL MUSIK

On 21 July, 2015 by Aldo Sianturi

DIG1

Sebelum bicara uang di bisnis digital maka penting untuk mengetahui seluk beluk yang terjadi belakangan ini. Masih banyak kalangan yang belum tahu cara untuk mengkonsumsi sebuah lagu secara digital melalui 2 cara yaitu dimiliki atau disewa melalui Digital Stores seperti iTunes, Amazon, Guvera, Deezer, Spotify, KKBox dan sederet nama lain. Kekurangan ini disebabkan oleh lambatnya penyebaran informasi perkembangan teknologi dengan cara pandang masyarakat yang cenderung pasif terhadap perihal teknologi dan ditambah kurang aktifnya media di Indonesia dalam merespon, mempelajari dan mewartakan pertumbuhan musik digital. Itulah mengapa pemahaman masyarakat menjadi kurang up-to-date.

Sumbu penilaian ini paling mudah disimpulkan melalui iTunes Stores yang berbulan-bulan telah menjadi parameter distribusi musik digital. Baik musisi dan pemilik perusahaan rekaman kerap menyampaikan bahwa kontennya tersedia di iTunes Stores tanpa menyebutkan Digital Stores yang lain. Selalu iTunes, bukan Apple Music:) Karena mau tidak mau, memang ada gengsi yang besar saat menyebutkan nama iTunes, kemudian mereka merasa bahwa toko yang paling besar namanya adalah yang paling belas menciptakan angka penjualan dan terakhir adalah karena tidak mengerti dengan profil Spotify, Shazam, Amazon, Deezer, GooglePlay, MixRadio dan yang lebih nyata adalah karena tidak mengerti lalu lintas yang harus ditempuh untuk mendistribusikan konten.

Indonesia memang masih berada di tahap awal dalam urusan digital dan tidak banyak kaum tech savvy bisa ditemui dalam jumlah yang besar di sini, namun sayangnya pengetahuan mereka hanya sebatas mendengar. Bahkan rata-rata, mereka belum pernah punya pengalaman mempergunakan produk rilisan Apple Inc. seperti MacBook, iPad, iPhone, iPod yang kompatibel dengan iTunes Stores sebagai piranti digital daring untuk membeli musik, App, film, buku dan video yang dapat diakses setiap waktu. Maklum harga barang perusahaan asal Cupertino ini sangat mahal dalam mata uang rupiah. Tetapi iTunes Stores seharusnya juga dapat dipelajari karena kompatibel dengan Windows. Tapi ya sudahlah.

Minimnya informasi yang dimiliki tersebut jelas berpengaruh kepada kebijakan para pemilik konten dalam mendistribusikan konten musik baik dalam format audio dan video ke digital stores. Musisi dan Perusahaan Rekaman harus terus mempelajari perubahan yang sedang berjalan pada konstelasi bisnis musik. Sebagai pemilik keputusan absolut dalam sumbu manajemen, maka pengetahuan musisi akan sangat diperhitungkan untuk memutuskan strategi bisnis terbaru agar tidak sia-sia dalam menjalani aktivitas promosi dan pemasaran untuk single atau album terbaru.

DIG2

LAKU DAN TIDAK LAKU Digital adalah sebuah medium distribusi yang telah dapat dipergunakan untuk menjual musik. Yang sebelumnya hanya ada satu jalur distribusi yaitu fisik, dimana setiap toko hanya bisa melayani pembeli kaset atau CD dari jam 10 pagi sampai 10 malam dan kini distribusi digital sama sekali tidak mengenal kata buka tutup karena sifat tokonya yang terbuka sepanjang hari. Situasi ini menjelaskan bahwa distribusi digital tidak untuk dihakimi atas kehadirannya mengisi dunia.

Selama kurang lebih 3 tahun ini, telah banyak para pemilik label yang mendistribusikan kontennya ke digital melalui agregator sebelum ada Believe Digital seperti Valleyarm, Equinox DMD, CD Baby dan Orchard. Sebagian ada yang kena tipu karena oknum dari perusahaan menghilang tanpa kejelasan dan sebagian masih menerima uang tanpa laporan penjualan. Sementara banyak diantara mereka yang jauh sebelumnya pernah merasakan pemasukan per bulan yang cukup segar dan besar nilainya melalui penjualan RBT (Ring-Back-Tone) di Indonesia dan Malaysia. Bermodalkan masa lalu yang hilang tersebut, banyak label yang sangat ambisius mencari revenue stream pengganti.

Ketika label tersebut bekerjasama dengan agregator digital music, maka berbagai bentuk promosi yang dulu bisa dilakukan lintas region sering dipertanyakan agar dapat diwujudkan. Kemauan ini jelas tidak dapat terwujud karena sifat partner dari agregator adalah Digital Service bukan Perusahaan Telekomunikasi yang memiliki perwakilan di setiap provinsi. Parameter masa lalu membentuk cara berkomunikasi yang sama rata tanpa memahami business work-flow dan business model yang terjadi.

Ditambah pula dengan hasil penjualan selama 3 bulan sekali yang membuat pemilik konten tidak bersemangat, karena penjualan hanya sekian persen dari angka yang diterima via RBT (Ring-Back-Tone). Buat mereka hasil yang diterima masih dianggap recehan.  Masih banyak praktisi label yang belum bisa berdamai dengan masa lalu. Mereka lupa kalau sesuatu yang hilang tidak selamanya bisa kembali lagi dan hidup harus bekerja keras agar sampai ke tujuan.

Yang perlu dipahami dalam penjualan musik secara digital adalah kembali lagi ke Musik. Tanpa Musik tidak akan pernah ada Bisnis Musik. Musik yang selalu menjadi penentu segalanya dan teknologi hanya berperan untuk membantu musik sehingga diakses lebih mudah dan lebih jauh dijangkau oleh penduduk dunia. Penjualan musik digital boleh dibilang sangat saklek, kalau orang suka dan tau pasti laku dan kalau orang tidak suka dan tidak tau maka tidak laku.

Itulah mengapa di awal saya menyampaikan bahwa hari ini para pemilik konten harus tahu cara memahami penjualan digital paska kontennya tersedia di Digital Stores. Banyak yang merasa bahwa kalau sudah ada dan disampaikan via Social Media maka konten sudah pasti akan disemuti oleh fans. Belum tentu! Fans membutuhkan panduan untuk diarahkan ke Digital Stores tersebut dengan Buy-Link konten atas masing-masing toko seperti:

1. Marcell – Cinta Mati (Single) Buy-Link>>> https://itunes.apple.com/id/album/cinta-mati-single/id989790005

2. Slank – Halal (Single) Buy-Link>>> http://www.deezer.com/album/10710092

Buy-Link diatas harus disebar melalui promosi konten di Twitter, Path, FB Fan Page, G+. Karena dengan melakukan klik atas URL tersebut maka calon pembeli diarahkan untuk memutuskan pembelian atau pemutaran lagu tersebut di Digital Stores. Persoalan laku dan tidak laku juga tergantung dari perjalanan jodoh penjualan. Ada Musisi yang mungkin penjualan digitalnya tidak laku tapi Official Merchandise sangatlah laku. Ada Musisi yang Merchandise tidak laku tapi pendapatannya dari Live Performance tinggi sekali. Ada Musisi yang Live Performance sedikit tapi penjualan Online-nya tinggi. Semua sudah ada benang merahnya. Boleh saja kita membela diri bahwa bisnis harus menggenjot semua celah, betul tapi bisnis harus belajar dari masa lalu untuk selalu berpikir jernih dan realistis.

DIG3

SERING BURU-BURU Dalam urusan bisnis musik tidak jarang saya mendengar penyesalan karena salah langkah atau salah partner. Sangat mudah memahami latar belakang kesalahan ini adalah dikarenakan oleh sifat manusia yang selalu mau buru-buru yang didorong oleh ego dan euforia atas kekinian. Keinginan menggebu untuk melihat konten musiknya tersedia di platform malah sering tidak selaras dengan rencana besar promosi rilis konten. Mentalitas untuk mengejar yang penting rilis dan bisa disombongkan melalui Social Media tanpa disadari telah menunjukkan kedangkalan dalam menjalani bisnis musik.

Apple memang memiliki lebih dari 800 juta pemilik akun di iTunes Stores berbasis kartu kredit. Tetapi semuanya tidak berarti memilih lagu Indonesia sebagai musik utama yang dibeli atau dirental. Kita tidak bisa meramalnya kecuali menerima dan tetap berusaha untuk mendorong konten Indonesia sebagai pilihan dari sekian banyak katalog musik dunia. Tidak perlu cemas, karena Digital Stores lambat laun memiliki wakil yang mengkurasi Playlist atau Pilihan Penjualan di tokonya yang bertugas untuk mengekspos musik secara obyektif.

Kita juga harus mengerti bahwa sampai hari ini di Indonesia belum ada Digital Stores yang bekerjasama dengan Telco. Berbeda dengan Deezer di Filipina yang bekerjasama dengan Smart Communications, Inc., kemudian Spotify di Malaysia yang bekerjasama dengan Maxis. Bentuk kerjasama ini berpengaruh kepada hasil pemasukan royalti yang telah terjadi di beberapa negara tetangga. Eksposur konten akan lebih tinggi seiring dengan promosi yang digulirkan oleh Telco dan mempengaruhi jumlah pemakaian lagu per negara.

Maka mulai sekarang jangan lagi terlalu cepat memutuskan sesuatu untuk mendistribusikan konten ke tangan yang salah, contohnya tidak ada komunikasi, tidak mendapatkan laporan penjualan, tidak menerima hasil penjualan bahkan tidak berusaha untuk meningkatkan visibilitas konten di Digital Stores. Begitu juga bila anda telah bekerjasama dengan distributor dan merasa puas atas segalanya, maka tidak perlu juga anda berpindah distributor hanya untuk mencari margin yang lebih tinggi atas nama bisnis. Yang perlu dilakukan adalah memperpanjang kontrak kerjasama dan semakin fokus kepada penciptaan atau akusisi konten.

DIG4

PERANGKAP MINIMUM GUARANTEE Di dalam bisnis musik sering kita mendengar kalimat M.G. (Minimum Guarantee) atau uang muka. Tidak ada yang salah dengan uang muka sepanjang masuk akal. Bisnis adalah pertaruhan dan spekulasi yang realistis. Bagi para praktisi label yang memiliki mindset dengan ratio uang sebesar 80% dan art sebesar 20% maka otomatis mereka lebih suka melakukan konversasi berbasis uang muka. Di luar itu, mereka mungkin tau bobot penjualan yang selalu terjadi atas konten yang dimiliki dan mereka butuh amunisi untuk menambah konten baru maka ada baiknya mereka menetapkan uang muka kepada distributor.

Tetapi ada juga tipe label yang rakus, tanpa mengenal bobot penjualan konten tetapi tanpa malu menetapkan sejumlah nilai yang tidak masuk akal sebagai uang muka dan ketika dinegosiasi jumlahnya hanya mau turun sedikit. Ini menyulitkan pertumbuhan digital yang sedang berjalan.  Kita harus mengerti betul nilai konten kita atas pasar bisnis musik seperti apa. Bluffing itu perlu dalam bisnis seperti kita pelajari dalam permainan kartu tapi apresiasi nilai jauh lebih penting agar tidak terperangkap. Tetapi kalau calon partner menerima angka bluffing yang diberikan itu namanya keberuntungan atau mungkin calon partner tidak cerdas dalam urusan perhitungan atau mungkin punya niat lain yang minor.

Perlu dimengerti bahwa grafik penjualan musik digital atas konten Indonesia yang notabene 80% laku di Indonesia sendiri tidak akan meroket sampai 3 tahun ke depan. Perjalanan bisnis musik digital masih panjang dan membutuhkan banyak pembelajaran dari dua belah pihak, baik dari Digital Stores dan Pemilik Konten. Keduanya harus selalu berjalan dan bekerjasama sebagai partner yang dinamis. Tanpa ada Digital Stores maka perjalanan konten akan terbatas dan tanpa Pemilik Konten maka tidak akan pernah ada konten yang akan dipersembahkan secara luas. Dalam skala bisnis maka posisi keduanya adalah sejajar.

Inilah keadaan terkini, tidak lain yang harus dilakukan adalah terus berusaha tanpa harus menjadi besar kepala karena angka populasi penduduk yang kita miliki sebagai modal dimana para pemain dunia datang dan berbagi dengan kita semua di Indonesia.  @2015/AldoSianturi/Photo: Special

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense