PENI CANDRA RINI “PESINDEN KONTEMPORER”

On 9 February, 2014 by Aldo Sianturi

PCR

Sesungguhnya, saya adalah Batak yang sangat Jawa. Saya begitu menyukai musik karawitan, bahkan keseharian saya selalu saya isi dengan mendengarkan piringan hitam karawitan rilisan Lokananta dan sampai hari ini saya selalu belajar mengaplikasikan bahasa jawa. Ternyata saya mendapatkan dukungan dari teman saya Sadewa yang mengajak saya menyaksikan pentas musik Peni Candra Rini di Bentara Budaya pada hari Jumat, 7 Februari 2014. Saya tidak tau siapa beliau dan seperti apa musiknya. Setelah meeting saya dengan staff label demajors di Senayan City langsung saya menyambangi lokasi pementasan.

Sampai di sana, saya bertemu dengan Gilang Ramadhan dan saya menyampaikan keterlibatan saya dengan MIDEM. Sebagai seseorang yang cukup dekat dengan negara Prancis, saya mendapatkan banyak input dan di sela pembicaraan, saya diperkenalkan kepada Idud yang saya baru tau belakangan bahwa beliau adalah suami dari Peni Candra Rini. Hal ini mengingatkan saya kepada Suarasama yaitu Iwan Harahap dan Rita Hutajulu yang pernah saya manajeri di Medan. Saya memang banyak tahu tentang musik tapi tidak tahu banyak, itulah sebabnya saya selalu terbuka kepada musik apapun. Idud adalah seniman dan memiliki prestasi gemilang dalam mendisain dan memproduksi beragam alat musik berbasis lokal. Pendeknya Idud dan Peni Candra Rini adalah pasangan yang hebat di mata saya.

Sebelum acara bersama Sadewa, Idud dan Gilang Ramadhan

Sebelum acara bersama Sadewa, Idud dan Gilang Ramadhan

Di lokasi pementasan, saya menyapa Oppie Andaresta yang begitu lebur dengan eksotika suara Peni Candra Rini dan keindahan gugusan musik yang terkesan sembarangan tetapi sarat akan bingkai kegelisahan seniman terhadap alam semesta. Saya sendiri hanya bisa memberikan tepuk tangan tanpa henti diantara audiens. Saya terbius oleh suguhan musik yang begitu klimaks yang berasal dari Rebab, Suling, dan tidak mau hengkang dari rasa nyaman itu. Racauan, Ayunan, Gregelan, Wiledan, Lengkingan suara yang  meliuk-liuk membuat pikiran saya mengembara dan merindukan cara bernyanyi yang tidak saya temui di gelombang radio FM di Indonesia. Sangat pantas dia disebut Pesinden Kontemporer.

Setelah pentas musik rampung, saya beranjak ke luar untuk membeli 2 CD Peni Candra Rini. Saya takut tidak kebagian karena tabiat sebagian para pembeli yang tidak mau antri. Beruntung saya mendapatkan albumnya komplet dan sampai hari ini saya dengarkan dengan seksama. Peni Candra Rini adalah idola baru saya. Saya kagum akan rangkuman musik dan perjalanan yang telah dilaluinya. Ternyata melalui musik, komponis muda ini telah berulang kali mementaskan musiknya di luar Indonesia. Saya berharap semakin banyak musisi di luar ranah World Music yang mau mengenali dan mengapresiasi musik Peni Candra Rini sebagai inspirasi multidimensi. Begitu banyak yang bisa dipelajari darinya. Matur Sembah Nuwun Peni… @2014AldoSianturi/Photo: Selfie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense