PASAR MUSIK BERGERAK SENDIRI, NEGARA JALAN SENDIRI

On 17 January, 2014 by Aldo Sianturi

MB

Melalui medium media sosial, kaum muda hari ini diajak kembali ke masa lalu oleh para komunikator yang memiliki ketertarikan atau pernah terlibat di sejarah perjalanan bisnis musik Indonesia. Penyebaran informasi ini paling tidak telah membuka mata dan kepala bahwa perusahaan rekaman Piringan Hitam pertama di Indonesia adalah Irama Record bukan Musica’s Studio dan fakta tambahan lain. Bahkan tidak banyak yang mengetahui juga kalau Irama Record tersebut adalah milik Suyoso Karsono yaitu paman dari musisi Indra Lesmana. Musik adalah sejarah dan untuk mengetahui garis besar perjalanan bisnis musik diperlukan ketekunan dalam mencari berita yang sahih.

Dengan mengetahui perjalanan perusahaan rekaman tersebut, otomatis kita sekaligus mengenali beragam rilisan tahun 50-70an yang membuat banyak orang berdecak kagum. Begitu banyak yang tidak habis pikir bagaimana para pelaku rekaman musik  masa itu melakukan hal besar dengan alat rekaman yang serba terbatas. Bagaimana para musisi senior dapat menciptakan bunyi dan kualitas rekaman yang abadi. Bahkan karya cipta mereka dianggap signature sound untuk ukuran hari ini. Masa tersebut adalah masa keemasan bisnis rekaman yang terjadi di beberapa negara di belahan dunia dan yang kita lakukan hari ini adalah pengulangan dengan etalase warna-warni yang berbeda.

Ironisnya mata rantai bisnis rekaman ini tidak terdokumentasikan dengan sempurna dan tenggelam diantara perubahan yang saling tumpang tindih. Kebesaran minat kita untuk menggali aset seni musik populer di Indonesia terputus tanpa kompas yang presisi. Produksi piringan hitam selalu mengeluarkan biaya produksi tinggi yang akhirnya konsumsinya menjadi terbatas untuk kaum menengah ke atas. Maka ketika ada format cartridge dan pita kaset, semua mendadak menjadi aktif, kreatif, produktif dan rakus. Melihat pasar bergerak, negara perlahan mendominasi mekanisme pasar dengan mengeluarkan kebijakan ekonomi yang mengatur alur bisnis musik. Para perumus kebijakan mungkin punya niat baik namun karena tidak memiliki rencana panjang bisnis musik, maka semakin hari semakin tak terpikir model kerja yang mengacu kepada industri musik yang sesuai dengan garis besar pemikiran hulu ke hilir.

Semakin saya mengerti begitu pentingnya Indonesia di mata asing, semakin saya meyakini bahwa hubungan bisnis musik dunia dengan pelaku bisnis musik Indonesia puluhan tahun lalu sudah terjalin mesra. Namun karena sejumlah uang besar di depan mata dan tidak ada badan yang mengawasi lalu lintas finansial; maka saya yakin telah banyak terjadi penyimpangan dan gratifikasi yang terjadi di masa lampau atas beragam kebijakan di ekosistem bisnis musik. Konyolnya ketika dipertanyakan oleh media mengenai data valid berapa jumlah track yang dirilis Indonesia di setiap tahun, dekade dan berapa jumlah label dan data penjualan per perusahaan, maka semua tidak mampu merespon, hanya bisa menebak dan mungkin menolak untuk berkomentar. Ini adalah salah satu kelumpuhan grafik pengembangan bisnis musik di Indonesia.

Kemudian ketika pita kaset diperdagangkan di Indonesia dan direspon oleh pasar dengan sangat dinamis. Lalu tanpa aturan yang ketat setiap orang merasa mantap untuk menjadi label dengan modal terjun bebas. Yang ada dikepala hanya untung, untung dan untung. Tidak semua pemilik label memilki visi dan misi sebagai perusahaan dan kembali lagi, negara hanya sebagai pengutip pajak penjualan yang melatari kenaikan harga album. Meski mereka berulang kali pleasir ke luar negeri dan menyambangi HMV Stores atau Gramaphone, tapi saya yakin para pekerja pemerintahan yang berhubungan dengan pelaku bisnis musik tidak bergeming dan hanya menunggu pergerakan dari praktisi. Nihilnya kerjasama profesional seperti ini akhirnya dimanfaatkan oleh pedagang musik yang perspektifnya hanya memperkaya diri sendiri yang baru akan disadari kalau langkah mereka salah per dasawarsa.

Negara tidak peka atas efek domino terhadap konsumen atas pewartaan media tentang berita musik dari dalam maupun luar negeri. Tidak juga peka terhadap pengaruh atas penjualan beragam produk pemutar musik. Potret perubahan ini tidak direkapitulasi dan dijadikan acuan untuk mengukur kerugian dan keuntungan yang terjadi. Akhirnya mencuatlah yang dinamakan pembajakan dan counterfeit atau produk asli tapi palsu. Sayangnya, ganjaran hukum yang disangsikan tidak membuat jera dan banyak terjadi suap agar bisa lepas dari jerat hukum yang menistakan. Praktek kiri seperti ini semakin marak dan akhirnya melenggang bebas. Ini saya rasakan setiap kali saya memberikan kuliah umum tentang bisnis musik di beberapa kampus; saya merasakan ada jembatan yang putus ketika audiens mencoba memahami seluk beluk bisnis musik kita.

Memang banyak penduduk Indonesia yang pintar dan mempelajari HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) di luar negeri, tapi ketika kembali ke sini, mereka hanya aktif di lanskap musik sebentar dan ketika melihat polemik yang kusut langsung pindah jalur ke politik yang lebih menjajikan saat itu. Karena perut lapar dan mereka tidak melihat masa depan. Contohnya adalah Bambang Kesowo SH (Mantan Mensesneg Kabinet Gotong Royong) yang meraih gelar sarjana pada tahun 1968 dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan S2 Ilmu Hukum dan Perundangan, Harvard Law School, Amerika Serikat pada tahunn 1983 dan menjadi Pendiri/Ketua Badan Pengurus Yayasan Karya Cipta Indonesia, 1990. Ketika saya konfirmasi kenapa menjadi berantakan, beliau menjawab bahwa pelaku bisnis musik di Indonesia banyak yang ngawur dan ngaco. Jadi butuh waktu panjang dan keajaiban untuk mengatakan bahwa di Indonesia adaIndustri Musik.

Indonesia begitu disegani hanya karena populasi penduduk tetapi untuk urusan hirarki bisnis musik tidak terstruktur. Gap yang terjadi antara para pelaku bisnis musik tua dan muda juga menjadi kendala. Tapi memang tidak bisa disatukan. Karena yang muda masih melihat asiknya mengeksplorasi pasar dan yang tua harus memikirkan bagaimana bisa menjaga kerajaan dengan perputaran uang yang baik. Salah satu pebisnis musik yang menjadi teladan adalah Wirawan Hartawan pemilk Tarra. Di saat retail musik berguguran, Tarra Group masih memilki 200 retail dengan jumlah karyawan 500 orang, perlu diketahui sebelum ada penetapan UMP terbaru bahkan jumlah karyawannya adalah 800 orang. Tapi dengan perhitungan bisnis yang sangat dikuasai oleh mantan bankir Citibank ini, maka perusahaannya bisa melenggang sebagai saluran berkat bagi 500 kepala keluarga di Indonesia.

Untuk memiliki industri musik dibutuhkan edukasi dan aplikasi bisnis musik yang konsisten untuk segala bidang Produksi, Publishing, Promosi, Marketing, Lisensi, Branding, Investasi dan negara tidak memfasilitasi. Berklee Music School yang silam pada tahun 1995 berencana masuk ke Indonesia melalui Indra Lesmana dan Ari Haryo Wibowo Hardjojudanto batal dijalankan karena harga lisensi yang amat tinggi terhadap mata uang kita. Namun bayangkan selama 30 tahun, pasar yang diisi oleh penjual dan pembeli akhirnya menggunakan jurus sendiri tanpa menghiraukan peran pemerintah. Mereka bisa hidup karena sudah tahu selah atas jam terbang dan ketika musik barat masuk ke Indonesia, banyak juga para pemain yang mengekspor rilisan barat ke luar negeri. Karena tidak akan terjual kalau semua hanya dijual di Indonesia yang cuma memiliki persentase kecil penggila konten luar negeri.

Negara juga tidak jeli menciptakan tim khusus yang dibayar secara profesional dan bertanggung jawab untuk menjadi Market Inteligent atas bisnis musik di Indonesia. Tim ini juga bisa menjadi Gateway bila ada perusahaan bisnis musik ingin masuk ke pasar kita seperti BPKM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) untuk Musik. Sehingga kita tahu investasi bisnis musik itu mau kemana dan berapa budget per tahun dan apa KPI (Key Performance Indicator)-nya. Tim itu harus muda dan diperkenalkan ke pasar, sehingga dia punya tanggung jawab moral. Kalau tidak dari sekarang disiapkan secara integral maka dua puluh tahun lagi, generasi indonesia hanya menanggung cerita yang sama yaitu suka main musik tapi gak suka dagang musik.

Apalagi dengan adanya MIDEM, SXSW, Music Matters dan New Music Seminar harusnya Indonesia sudah kembali unjuk gigi, tapi kekusutan ini masih akan berlangsung sampai 10 tahun lagi. Anda tidak percaya? Buktikan sendiri dengan menjaga kesehatan anda terlebih dahulu. Karena kita kurang modal dan kurang pintar. Salam Musik!@2012/AldoSianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense