MUSISI HARUS MENGELOLA KEUANGAN AGAR TIDAK MELARAT

On 29 December, 2018 by Aldo Sianturi

Realita adalah Pilihan.

Kalimat ini menguak di benak saya kira-kira sekitar 8 tahun lalu setelah tuntas merangkum, mengulas dan menganalisa perjalanan berliku sebagai pebisnis musik yang tidak pernah lepas dari dunia musik. Namun sebagian orang juga beropini bahwa realita adalah ketidak-berdayaan atas situasi cul-de-sac yang tidak bercelah. Keduanya punya bobot yang sama untuk disampaikan.

Saya yang sejak kecil sudah akrab dengan dunia keartisan di Indonesia, selalu merasa nervous jika berhadapan dengan situasi ekonomi Musisi Indonesia yang berujung melarat di usia renta dan di satu sisi ini bukan rahasia, dengan mata terbuka saya melihat bahwa Musisi tersebut sempat memiliki pemasukan stabil di masa prime-time sebagai seniman penghibur yang digandrungi khalayak luas.

Pertanyaan saya adalah kemana uang tersebut pergi?

Sudah pasti kebokekan itu ada karena sikap acuh Musisi tersebut dalam mengatur keuangannya dengan kontrol penuh di masa produktif saat lancar memiliki pemasukan reguler. Situasi ini adalah pengulangan di semua generasi namun selalu disepelekan. Saya berharap, tulisan ini bisa menjadi wake-up call terakhir dengan volume yang sangat keras bagi para pelaku seni untuk mulai menerapkan manajemen keuangan atas berapapun nilai pemasukan yang diterima.

Musisi harus sadar di negara mana dia berkiprah. Di Indonesia secara nyata sejak jaman dulu dan sampai kapanpun, yang dibilang keren oleh multi-industri adalah selalu yang muda, langsing, single, putih, keren dan kita harus bisa menerima kenyataan bahwa bila Musisi menua maka secara otomatis wilayah komersilnya menjadi sempit dan terbatas. Karena dengan jelas sikap industri menjadi benchmark bagi semua brand yang hanya mau berafiliasi total dengan ceruk pasar anak muda. Boleh saja musisi menyikapinya dengan menempuh perawatan estetika bedah dan non-bedah, namun langkah ini membutuhkan sejumlah uang yang tidak sedikit juga dan bukanlah langkah yang benar.

Musisi harus pandai menyikapi perjalanannya saat masuk ke fase Terkenal. Musisi harus tau kalau Fame is Fragile. Posisi terkenal sebenarnya adalah sangat rapuh. Bayangkan dalam waktu 3 tahun, mungkin saja kita bisa menjadi terkenal di Indonesia namun kalau kita terlena dan manja maka kita terperangkap di dalam situasi harus mempertahankan posisi tersebut di mata orang banyak. Sebagai musisi tidak boleh tergantung kepada Manajer atau siapapun. Musisi harus tau bahwa revenue stream yang stabil saat ini di Indonesia adalah dari Live Performance & Karaoke. Pemasukan dari RBT & Digital hanya terbilang besar bagi pemilik Lagu Hits Urban dan Grassroots.

Apalagi di jaman digital ini, Musisi harus paham bahwa audiens yang ada di Instagram sebagai media sosial nomor satu di Indonesia dijejali oleh Generasi Y dan Z. Keduanya adalah digital native, yang cepat merasa bosan dan menganggap hal yang tidak baru adalah tidak penting. Mereka yang ada di platform media sosial dapat membesarkan sekaligus membunuh karakter Musisi. Artinya, life-cycle sebagai Musisi di Indonesia adalah rata-rata singkat. Mau tidak mau, perlu strategi yang jauh lebih pintar jaman sekarang dibanding tahun 90an.

Saya berharap musisi harus punya asset, mau belajar dan paham betul beragam produk investasi, skema investasi dan resiko investasi masa kini baik di sektor riil dan sektor keuangan seperti tabungan, barang seni & antik, asuransi, properti, LM (Logam Mulia), reksadana, saham, obligasi dan korporasi, forex dan deposito. Keliatannya memang area ini kuno dan tidak menarik, namun inilah orbit penting agar masa sulit dapat teratasi dengan baik.

SEBELUM TERKENAL Sebelum seseorang menjadi Musisi yang dikenal luas, sudah pasti terbentang sebuah perjalanan serius berdurasi panjang dalam mengoptimalkan bakat dasar dan kemahiran berjenjang yang akhirnya disebut sebagai jam terbang. Isi perjalanan tersebut bisa menarik dan tidak menarik pada akhirnya tergantung dari pemeran utamanya yaitu Musisi itu sendiri.

“From Nobody to Somebody” adalah periode tangguh sebagai tolak ukur musisi yang sama sekali belum dikenal dan akhirnya menjadi terkenal. Atas pengamatan saya, rata-rata musisi yang terbilang sukses adalah yang beruntung memiliki Lagu Hits dan memiliki Ability, Personality, Creativity yang dikemas sedemikian rupa; sehingga penentu kebijakan komersial terkesima, bersimpati dan berafiliasi untuk menunjang kemajuan karier melalui beragam cara.

Belum lagi di setiap acara, tentunya selalu ada perkenalan baru yang bersifat statis dan dinamis, keduanya punya pengaruh terhadap lingkaran pertemanan Musisi yang semakin besar dan bermanfaat. Melalu adaptasi pertemanan yang singkat sudah pasti kedekatan tersebut menyumbangkan sebuah cara pandang atas gaya hidup bagi Musisi yang baru merintis karier. Ada yang lantas ingin menjadi orang lain sekejap dengan segala cara (Social Climber) dan ada juga yang tetap memilih sama dengan gaya sebelumnya dan sewajarnya.

Pengaruh yang diamini tentunya membentuk pencitraan Musisi tersebut menjadi terlihat menarik dan hampir setara dengan nama-nama besar yang telah bersliweran di lintas musik komersil. Kebendaan sejak dahulu kala menyumbangkan rasa percaya diri bagi siapapun. Otomatis bagi orang yang jarang bertemu tentunya dapat menangkap rasa percaya diri yang sebelumnya tidak begitu kentara. Di level ini tentunya Musisi tersebut mulai berpikir keras agar selalu sampai kepada income yang stabil. Namun di luar hal tersebut, selalu ada dorongan untuk dapat membenahi diri agar memiliki kesempatan mendulang rezeki yang berlipat-lipat dengan alasan pendistribusian yang semakin melebar. Inilah tantangan sebagai manusia yang harus selalu sadar kapan merasa kenyang.

Biasanya setelah 5 tahun perjalanan dengan kondisi stabil dan tidak turun naik, Musisi dengan masukan dari pembisiknya atau setelah belajar dari saran sesama pelaku mulai menetapkan harga dan bilamana semua berjalan lancar, maka sudah pasti pemasukan selalu stabil dan bertambah dan selalu ada saja hadir tanpa target bisnis apapun. Sudah menjadi sebuah kebiasaan bila Musisi memiliki pemasukan aktif maka dia akan memiliki keberanian untuk menjalin hubungan asmara yang berujung dengan pernikahan. Hati yang meluap-luap atas romansa diyakini dapat menjadi pemicu adrenaline untuk semakin semangat bermusik dan berkarya. Babak tersebut memang begitu asyik untuk dicermati bila paut usia kita tidak terlampau jauh dengan Musisi tersebut.

Ketika memiliki hubungan asmara, tentunya setiap orang ingin membahagiakan pasangannya dan dirinya sendiri juga. Eksplorasi cara memberikan kebahagiaan sering dilakukan tanpa memikirkan apa yang akan terjadi nanti di masa depan. Yang penting sekarang. Ketika memiliki pemasukan yang besar, banyak musisi yang mendadak kaget menjadi jutawan baru. Semua uang dihabiskan dalam waktu sekejap untuk membeli dan menikmati apapun yang sebelumnya tidak pernah dan sanggup dibeli. Musisi tersebut begitu yakin bahwa besok masih ada waktu untuk mendapatkan rezeki yang dapat menggantikan apa yang telah dibuang hari ini. Ini adalah keteledoran yang dipelihara.

Indonesia belum dapat menjamin bahwa kehidupan musisinya sangat kondusif. Jika anda berkeluarga dan memiliki keturunan, sudah pasti sebagai orang tua yang bertanggung jawab harus menjamin isi dan mutu kehidupan mereka sampai mereka bisa mandiri mengurus kehidupannya tanpa bergantung kepada keuangan orang tua. Rentang masa itu panjang dan bukan permainan. Lebih baik kita takut dari sekarang daripada membuat keluarga kita menderita karena kita sendiri. Kembali ke awal, semoga realita yang kita pilih adalah pilihan terbaik kita. @2018/AldoSianturi – Photo: Rupiah. ©2013 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense