MUSIK ITU TERSERAH

On 23 March, 2010 by Aldo Sianturi

Musik Itu Terserah. Yes, musik itu terserah saya, kamu atau siapapun yang mengartikannya di dunia ini. Tidak ada satu bangsa manapun yang piawai atau cerdas memberi pengertian absolut menjelaskan apa itu musik. Entah datangnya dari kamus, wartawan, dosen, music director, pacar, suami sekaligus, sekali lagi saya katakan kalau tidak ada yang mampu.

Kita semua selama ini hidup dengan berbagai konteks narasi yang diwariskan oleh senior, kapasitas, kepentingan dan masa lalu. Sebenarnya anda tahu, tapi anda tidak mau tahu. Makin lama dipelihara, hal tersebut tinggal dalam diri kita dan meninggalkan kebodohan yang permanen.

Saking kebablasan, banyak orang yang bersekolah tinggi, tinggal di luar negeri, tongkrongan elit, berdompet tebal, memiliki jam terbang kerja belasan tahun, punya website atau anaknya siapa, kalau sudah bicara musik versi sendiri langsung ingin merasa ditokohkan, langsung merasa hebat, langsung punya singgasana dan selalu ingin menguasai pembicaraan bahwa pandangannya terhadap musik adalah benar. Semua itu omong kosong dan belum tentu benar. Itu cuma ego manusia yang selalu ingin berada di tampuk pemimpin.  Dalam dunia pria, hal ini adalah tampilan harian dimanapun.                                           

Musik itu tidak bergelar, apalagi memiliki kasta dan hirarki. Terlalu bosan saya melihat orang yang membanding-bandingkan musik satu sama lain. Yang tidak suka dengan tulisan saya ini adalah orang-orang yang saya maksud. Musik itu biasa aja dan gak minta dibesar-besarkan juga. 

Sekarang dunia sudah berubah, sekarang dunia sudah berubah dan dirimu pun sudah berubah baik secara usia, sisa tabungan dan dengan siapa kamu hidup  saat ini di dunia. Itulah yang saya resahkan, kita terlampau lama hidup dalam kemegahan narasi yang menjelaskan musik ini itu begini dan musik itu begitu. Yang ini genre-nya Pop Kreatif yang ini adalah Indie Rock dan yang ini adalah Rock Mainstream atau Progressif Kota.

Saya heran melihat ada orang yang mendewakan media, tidak penting itu. Media itu punya alat ukur sendiri tergantung ideologi dan investasi bisnis-nya. Tidak ada jaminan bahagia kita tergantung dengan siapapun. Yang kekal adalah kepentingan di dunia ini. Semua berada dan saling bertemu dalam aspek ini sadar dan tanpa sadar.

Kemarin via Twitter saya lansir “Kembalikan MUSIK ke karakter paling awal yaitu untuk DIDENGAR lewat kuping manusia bukan untuk dikomentari, diresensi atau dikritik”. Ada yang mengerti dan ada yang tidak mengerti. Saya juga gak punya waktu menjelaskan ke semua orang kenapa saya mengucapkan ini. Terserah saya mau bicara apapun. Saya bosan melihat orang begitu mendewakan hal-hal yang bukan pada tempatnya. Saya tidak ingin melihat dan mendengar musisi yang mengemis agar bisa tampil di media apapun. Jaman sekarang  semua orang adalah media dan tidak penting lagi harus merapat untuk menerima ekspos. Memang berapa halaman yang kamu minta dan akan dapat dari media tersebut? 

Jadi sekali lagi, jangan terlalu lavish mengumbar musik itu dalam berbagai gelimang glamornya narasi. Biarkan setiap orang punya definisi apapun untuk musik. Jangan lagi dikte manusia untuk mengatakan musik ini namanya ini, itu namanya itu. Yang paling penting adalah tanyakan kepada dirimu, apakah kamu sudah membantu orang lain menjadi pintar atau belum? Karena sampai kapanpun kamu tidak akan pernah merasa bodoh, itulah manusia.

Sekali lagi, musik itu terserah and you choose the ending! @2010aldosianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense