MENIKAHKAN KEMBALI MIDEM DENGAN INDONESIA

On 6 May, 2013 by Aldo Sianturi

Paris Meeting with Gui & Ben (MIDEM)

MIDEM adalah elemen penting dalam bisnis musik dunia. Tetapi dalam kenyataannya, tidak semua pelaku bisnis musik tahu MIDEM. Apalagi yang bukan pelaku bisnis musik, sama sekali mereka tidak kenal dengan MIDEM. Bahkan ketika Endah N Rhesa tampil di MIDEM 2013, semua penggemarnya mempromosikan keberangkatan mereka tetapi sebagian besar saya yakini tidak sekaligus mengenali apa itu MIDEM.

Hal inilah yang saya sampaikan kepada 2 orang teman saat bertemu di Paris yaitu Ben Constantini (Conference Manager MIDEM) dan Guillaume Crisafulli (Sales Manager MIDEM). Bila ada yang merespon tulisan ini dengan “What’s In It For Me?”, maka saya akan mencari kompromi terdekat menjelaskan manfaat bisnis yang bisa dipetik lewat keberadaan MIDEM. Bahkan agar kebingungan tersebut selesai, maka semoga tulisan panjang ini bisa menjadi bekal setiap orang atau institusi mengambil kesimpulan.

SEJARAH SINGKAT

MIDEM adalah akronim dari Marché International du Disque et de l’Edition Musicale. MIDEM adalah Trade Exhibition yaitu sebuah acara publik di mana setiap institusi bisnis dan organisasi menampilkan produk dan layanan mereka sehingga orang-orang dari perusahaan lain dapat melihat dan memutuskan untuk bekerjasama atau membelinya. Penggagas dari MIDEM adalah Bernard Chevry yang mengawali karirnya sebagai pekerja teladan di Flammarion Book Publishing and Co. di sekitar tahun 1940. Di sana dia mempelajari seluk beluk perdagangan dan penerbitan buku.

Eksposur MIDEM di Billboard Magazine

Di tahun 1965, Bernard Chevry mengadakan event MIPTV (International Television Program Market) yang luar biasa sukses dan setelah itu Bernard membuka MIDEM yang pertama pada tanggal 30 Januari 1967 dan resmi menjadi International Record and Music Publishing Market. MIDEM pertama didatangi oleh 1,016 pengunjung dari 22 negara. Ajang ini menjadi sangat penting di area bisnis musik karena selalu seimbang dalam urusan artistik dan finansial dan memiliki 4 tujuan awal yaitu: The exchange of ideas, The establishment of new contacts, The transaction of business dan The discovery of new trends & tendencies. Fokus MIDEM adalah kepada semua perkembangan musik di 5 benua.

Ulasan MIDEM di Billboard Magazine

MIDEM ASIA

Sejak tahun 1967, MIDEM terus berjalan dan berkembang bukan saja dari segi program tapi dari kuantitas peserta yang datang dari benua Asia. Dengan kepekaan yang berpijak kepada hasil riset, MIDEM melihat bahwa Asia memiliki sinyal kuat untuk disambangi oleh para pelaku bisnis musik dunia. Akhirnya pada tahun 1995, MIDEM Asia pertama dilaksanakan di Hong Kong. Pemilihan negara ini karena dianggap sebagai pusat bisnis Asia silam sebelum kawasan Asia Tenggara memiliki ekonomi seperti yang kita lihat 15 tahun terakhir ini. Para pelaku bisnis musik Asia pun mengoptimalkan ajang besar ini untuk melakukan ekspansi ke global market.

Ada MIDEM Asia di Billboard

Hadirnya MIDEM membuat pasar Asia semakin berkembang dengan eksposur yang integral terhadap pelaku bisnis musik maupun konten musiknya. Ventilasi pasar musik ini merangsang kesiapan format industri musik yang membaik di Indonesia. Seperti kita ketahui, sejak tahun 1985 negara Indonesia mendapatkan black-list dari Bob Geldof atas pembajakan album “Live Aid”. MIDEM Asia begitu perkasa menjadi jembatan antara dunia barat dengan timur dalam perihal komersialisasi musik. Sejak tahun 1995-1997, efek bisnis dari MIDEM ke pasar Asia sangat beragam. Hadirnya Tower Records di Malaysia berawal dari MIDEM Asia dan juga dimana musisi kita juga diekspos ke pasar dunia. Begitu juga sebaliknya, silam AB Three menjadi salah satu musisi yang ditawarkan ke pasar dunia.

Promosi MIDEM Asia dengan fokus B2B

Audiens MIDEM Asia terpampang di Billboard

Indonesia adalah pasar besar, berdasarkan data IFPI (The International Federation of the Phonographic Industry) pada tahun 1996,  total penjualan album di Indonesia sebesar 79,07 juta keping. Angka ini adalah tertinggi di kawasan Regional Asia Pasifik. Indonesia dengan populasi besar yang notabene penyuka musik memiliki kekuatan besar dalam urusan penjualan. Berdasarkan data ini banyak perusahaan besar yang ingin masuk ke pasar Indonesia, tapi karena urusan korupsi yang begitu besar dan kelemahan dalam urusan manpower dan situasi politik yang sedang berkecamuk, maka akhirnya kerjasama tersebut tertunda. Bahkan rencana untuk membuat MIDEM Asia di Bali pada tahun 1998 pun hilang sudah beritanya, karena adanya kerusuhan yang cukup menyita publikasi dan menakutkan bagi para pebisnis musik dunia.

INDONESIA BAGI MIDEM

MIDEM Asia seharusnya berlangsung di Bali

MIDEM tetap berjaya dan tahun depan di 2014, usia ajang dunia ini akan tiba di 43 tahun perjalanan. Bagaimana dengan Indonesia? Saya sebagai pelaku bisnis musik telah berpikir panjang bagaimana untuk menikahkan kembali pesona Indonesia dengan MIDEM. Saya memang bukan bagian dari pemerintahan, tapi sebagai warga negara Indonesia yang peduli dengan lanskap bisnis musiknya, saya mulai berkomunikasi dengan tim MIDEM sejak tahun 2011. Saya perkenalkan diri saya dan saya utarakan maksud tujuan saya. Sampai akhirnya saya punya kesempatan bertemu di Paris dan berencana untuk memperkenalkan MIDEM kembali dengan Indonesia pada akhir bulan Mei 2013 setelah Music Matters Singapore 2013.

Ucapan Terima Kasih dari Warner Music Asia

Saya sampaikan dengan detail kondisi pasar musik di Indonesia paska reformasi, banyak yang berubah tapi bukan positif melainkan negatif dan saya sampaikan bahwa pelaku bisnis musik Indonesi sebenarnya belum punya 100% rasa percaya diri untuk menjalankan bisnis musik. Masih harus memikirkan profit centre utama datangnya darimana. Banyak yang akhirnya berjalan sendiri tapi tidak secara aksi nyata tetapi hanya filosofi saja. Saya juga menyampaikan bahwa Indonesia Baru membutuhkan kurator awal Industri Musik Baru dimana anak muda yang harus menjalankan roda industri musik dengan kualitas transparansi yang berpihak kepada masyarakat dunia dan tanpa urusan politis apapun. Pure Business, Pure Music Business.

Selama MIDEM berlangsung, beberapa pelaku bisnis musik Indonesia juga menyambangi Cannes dengan modal sendiri. Jelas hal tersebut adalah investasi pribadi yang sangat bagus. Secara jarak memang Prancis cukup jauh dengan Indonesia, apalagi dengan biaya transportasi yang dianggap membebani. Kesemua hal tersebut sudah diautopsi oleh MIDEM dan yang paling penting adalah bagaimana mengembangkan konten yang harus disemai di hutan digital yang juga harus dibangun komunikasi B2B (Business To Business) untuk memaksimalkan promosi yang menjadi nomor wahid dalam urusan ini.

MIDEM menyampaikan bahwa Indonesia tetap ada di fokus mereka dan dunia. Untuk itu, dia memberikan motivasi agar Indonesia memiliki presentasi di MIDEM 2014 melalui Paviliun yang memajang apapun konten Indonesia yang ingin diekspansi ke pasar dunia. Saya akan menjadi pengawal bagi MIDEM untuk melaksanakan hal ini terjadi dan sampai kepada keberlangsungan bisnis musik di Indonesia. Pandangan minor para pelaku bisnis musik harus saya patahkan agar Indonesia bukan hanya berbicara atas generasi hari ini tapi Lifetime Generation. Indonesia harus punya platform Industri Musik yang benar, bermanfaat dan jujur. Saya berharap MIDEM ini dapat dimaksimalkan untuk kepentingan bersama bukan kepentingan pribadi lagi, sudah bosan sejak dulu kita melihat kepentingan individu merusak lanskap bisnis bangsa ini. Semoga hubungan MIDEM dan Indonesia dapat menjadi titik awal kebangkitan bisnis musik Indonesia.@2013AldoSianturi/Dokumen: Billboard Magazine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense