MENGAWAL CETAK BIRU INDUSTRI MUSIK INDONESIA

On 14 June, 2014 by Aldo Sianturi
Bersama Periset dan Pembuat Buku Cetak Biru: Dina & Fikri

Bersama Periset dan Pembuat Buku Cetak Biru: Dina & Fikri

Sejak bulan Mei 2014, saya dipercaya oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi Reviewer untuk “Pemetaan dan Perencanaan Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia” sektor Industri Musik.  Kesempatan ini datang dari Dina Dellyana yaitu personil band Homogenic yang juga berprofesi sebagai Dosen di School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung. (SBM ITB). Pertemuan kami pertama adalah ketika saya memberikan kuliah umum di kampusnya mengenai Sales & Marketing. Komunikasi kami semakin intens sejak saat itu dalam membahas postur ideal industri musik.

Suasana Pertemuan Pertama

Suasana Pertemuan Pertama

Di lain pihak, saya juga telah memiliki hubungan baik dengan Kementerian Pariwisat dan Ekonomi Kreatif sejak tiga tahun lalu. Saya pernah mempresentasikan bisnis musik lanskap kepada Ibu Juju Masunah (Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik Kemenparekraf) sekaligus juga untuk urusan MIDEM 2013 dan MIDEM 2014. Karena pada saat itu saya adalah Representatif dari Reed MIDEM untuk Indonesia. Ketika disampaikan bahwa tujuan dari pekerjaan ini adalah memberi masukan dan mengawasi laju persiapan “Buku Cetak Biru Industri Musik 2015-2020”, saya  agak lama memahami kelanjutan babak per babak.

Suasana Pertemuan Terakhir

Suasana Pertemuan Terakhir

Pemikiran saya tidak meleset, pertama kali FGD (Forum Group Discussion) ini dilaksanakan hasilnya tidak berjalan mulus. Panitia tidak siap memaparkan tujuan diselenggarakan FGD tersebut. Para audiens yang notabene memiliki nama besar langsung bereaksi  dan merasa kurang nyaman atas bentuk pemaparan yang tidak dihadiri oleh pemapar kuncinya. Untuk meredam kegelisahan yang meruang, maka saya mengambil masukan agar semua undangan diminta menyampaikan masukan yang merujuk kepada rencana pembuatan cetak biru sambil direkam melalui video. Barulah setelah itu dilakukan FGD selanjutnya dengan beberapa audiens yang jauh berbeda. Saat itu saya berhalangan untuk datang tapi tetap memantau dari komunikasi yang disampaikan oleh Dina.

The Light From The Blueprint

The Light From The Blueprint

Pada hari Jumat kemarin yaitu tanggal 13 Juni 2014, saya kembali menghadiri FGD. Semua saling urun rembuk untuk mencari perumusan strategi yang akan dihimpun ke dalam buku cetak biru. Semua saling aktif memberikan masukan dan koreksi untuk memperbaiki postur strategi yang dirasa paling pas. Yang menarik adalah beberapa audiens juga ikut menceritakan pengalaman bisnis musik yang didapat baik dari dalam negeri dan luar negeri. Semua hal tersebut membuat mata dan pikiran terbuka. Apalagi isu UU HKI menjadi agenda lain yang akan diperjuangkan kebijakan barunya. Doanya adalah agar Blueprint of Indonesia Music Industry tidak akan mangkrak tanpa ada yang bisa menyentuh.

Secara pertemuan memang semua poin sudah sakral, tapi semua kembali lagi kepada Tanggal 9 Juli 2014 yaitu Kampanye Presiden. Kita belum tahu apakah Industri Musik masih akan dipayungi oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif atau berbeda rumah lagi?  Tapi paling tidak, ada tongkat estafet yang harus tetap dijadikan pedoman untuk Pemerintahan yang akan datang dan disampaikan secara meluas kepada semua stakeholder di Industri Musik Indonesia. Perjuangan masih panjang dan butuh konviksi dan daya tahan untuk bisa sampai kepada posisi industri yang ideal dan seimbang. Tugas saya baru selesai di bulan Juli, jadi hasil FGD ini akan saya periksa kembali dan memberikan sedikit permak. @2014 Aldo Sianturi / Photo: Aldo Sianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense