MARI JAGA MUSIK INDONESIA

On 29 February, 2012 by Aldo Sianturi

Bagaimana perasaan anda setiap kali anda mendengar dan mengetahui ada lagu Indonesia anyar terlepas dari aliran musik yang berbeda? Apakah anda senang? Apakah anda kesal? Apakah anda cuek? Apakah anda merasa kalau bangsa ini tidak perlu lagi lagu baru lagi mengingat begitu banyak lagu yang selama ini telah dicipta dan diproduksi dalam satuan volume dan format yang berbeda. Dari beberapa pilihan status, sudah pasti anda memilih salah satu untuk mewakili pemikiran. Lepas dari kualitas dan alat ukur penerimaan setiap pribadi, bijaknya kita selalu senang karena sejarah musik kita berkembang dan langgeng.

Bila kita membicarakan musik, kita harus memiliki paradigma kalau kita memiliki nilai sejarah yang kental, namun negara lain juga sama seperti kita. Dalam koridor Asia Tenggara, setiap negara memiliki cerita yang dapat dibanggakan dan dapat direspek satu sama lain. Warna-warni ini menjadi sebuah perbedaan yang menarik dan sayang dipinggirkan bagi setiap generasi. Bangsa kita somehow sedang dalam situasi mencintai penuh negara Indonesia bahkan mencintai lebih dan menjadi fanatik. Di situasi ini, penting bagi kita semua melihat cerita lain dan merefklesikan kembali kepada konten internal.

Sejenak mari kita melongok ke negara tetangga yaitu Filipina. Mungkin anda pernah tinggal di sana, pernah mengunjungi atau bahkan belum pernah sama sekali. Saya sudah pernah dan tertarik untuk membicarakan situasi musik dibandingkan dengan Indonesia. Rakyat filipina memiliki apresiasi yang besar terhadap musik, hal tersebut tampak nyata dari sekian banyak music entertainer yang setiap malam menghidupi suasana hotel berbintang di seluruh dunia. Fenomena ini begitu menarik bila dicermati lebih lanjut dari beragam perspektif. Bahkan kafe-kafe di Makati menyuguhkan penampilan musik yang enerjik, stratejik dan fantastik.

Filipina adalah negara di utara Indonesia yang memiliki pengaruh Barat yang sangat kuat. Setelah Perang Dunia II, Filipina adalah negara paling kaya di Asia dan akhirnya tertinggal karena banyak pertumbuhan ekonomi yang tidak baik dan korupsi yang merajalela. Di abad 16, negara ini dikuasai oleh bangsa Spanyol dan nama negara ini diambil dari nama penguasa Spanyol, Raja Felipe II. Kemudian di abad 18-19, Filipina dibawah persemakmuran Amerika Serikat dan setelah pendudukan Jepang, Filipina mendapatkan kemerdekaan (de facto) pada tanggal 4 Juli 1946. Masa penjajahan asing sangat mempengaruhi   kebudayaan masyarakat Filipina.

Itulah sedikit latar belakang Filipina fasih berbahasa Inggris selain Tagalog. Bahkan populasi generasi hari ini lahir dari leluhur yang berbangsa Eropa. Kondisi ini cukup menarik untuk mengetahui sumber kedekatan masyarakat Filipina dengan musik. Mereka juga akrab dengan musik kulintang, organ bambu yang menarik sebagai salah satu keunikan world music yang diseriusi dan diminati di sana. Namun dari ranah musik modern, Filipina pernah menguasai pasar Indonesia dalam waktu singkat melalui OPM (Original Pinoy Music) yang dimulai sejak awal tahun 70an sampai hari ini.

OPM dapat dikenali melalui tekstur pop ballad / easy listening. Beberapa nama besar pengusung OPM adalah Basil Valdez, Ryan Cayabyab, Rico Puno, Freddie Aguilar, Didith Reyes, Hajji Alejandro, Celeste Legaspi, Claire dela Fuente dan Rey Valera. Kesemua nama ini sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia di tahun 80an, bahkan salah satu grup yang paling diapresiasi adalah VST & Co. yang memiliki nomor disko klasik yang melegenda, Disco Fever. Kemudian di tahun 1987, OPM semakin mendapat perhatian dari Pemimpin Negara Filipina, Corazon Aquino menghimbau agar semua stasiun radio mengekspos The Manila Sound selama 1 jam setiap hari.

Melihat lampu hijau yang benderang, musisi bergerak produktif dan lahirlah begitu banyak nama baru seperti Regine Velasquez, Sharon Cuneta, APO Hiking Society, José Mari Chan, Dingdong Avanzado, Rodel Naval, Janno Gibbs, Ogie Alcasid, Joey Albert, Lilet, Martin Nievera, Manilyn Reynes, Pops Fernandez, Lea Salonga, Vina Morales, Raymond Lauchengco, Francis Magalona dan Gary Valenciano yang juga dikenali dan disukai di Indonesia. Semua musisi yang lahir di sana, otomatis memiliki pengaruh aliran musik yang variatif mulai dari Jazz, Latin, Rock, Blues, R&B, Bossanova, Hip Hop. Itulah mengapa sampai hari ini banyak OPM yang memiliki pengaruh kental aliran yang diciptakan oleh barat tersebut, seperti Sabrina, Jay-R, Rivermaya, Parokya Ni Edgar, Juris, Christian Bautista dan masih banyak lagi.

Setelah masa pemerintahan Corazon Aquino, situasi OPM tidak lagi dikontrol dengan apik dan tanpa disadari membentuk situasi baru dalam perihal penjualan musik di Filipina. Yang disukai dan laku di Filipina adalah “Cover Version” yaitu  menyanyikan, mengaransemen atau menampilkan lagu atau musik yang sudah dinyanyikan atau ditampilkan sebelumnya, lagu atau musik milik orang lain atau band lain. Revivalisasi ini baik agar generasi lain tahu karya cipta sebelumnya, namun satu hal produktifitas penciptaan mengalami degradasi akibat pasar yang terbentuk tanpa kontrol yang mengacu kepada produktifitas dan originalitas seniman. Wabah ini pernah juga dialami Indonesia akibat pengaruh dari Filipina di tahun 80an.

Dari semua cerita di atas, penting bagi kita untuk memetik sebuah pengalaman dan realita negara tetangga yang seharusnya akan lebih indah bilamana juga melestarikan karya cipta anak bangsa yang memiliki bahasa lebih lugas dalam konteks sejarah seni. Berada di kondisi kritis hari ini, maka tidak tereelakkan kalau kita semua bertanggung jawab untuk melestarikan musik dan perkembangannya dalam rantai dinamika yang fleksibel dan berorientasi pada sejarah musik yang selama ini enggan ditengok dan dihidupkan kembali. Mari mengambil hal positif dari kisah di atas dan kembali ke akar musik yang sebenarnya sudah mengakar tebal di bawah tempat kaki kita berpijak yaitu Indonesia. @2012aldosianturi / Photo: http://www.wallpaperbang.com/wallpaper/music-wallpaper-1.jpg

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense