LOKANANTA… AIR MATAMU DARI SOLO

On 4 January, 2014 by Aldo Sianturi

LT

Saya ingin menyampaikan bahwa alat ukur setiap manusia saling berbeda. Saya yang memandang musik itu adalah sakral dari hulu ke hilir tidak akan pernah sama persis dengan anda yang melihatnya sebagai media pemuas hati. Bagi saya Lokananta adalah sebuah tambang emas yang masih sehat dan punya kemampuan untuk dimonetisasi demi kesejahteraan pencipta dan kepuasan pendengar. Keseimbangan ini bisa diciptakan asal ada ketok palu yang absolut. Saya mencium ada birokrasi yang berlapis dan sulit ditembus karena indeks politis yang tidak kunjung terselesaikan. Lokananta adalah misteri dan sensitif untuk dikupas tuntas. Lokananta yang seharusnya dikuratori oleh pebisnis musik, tetapi realitanya dikelola oleh bukan orang musik dan tidak mengherankan kalau sinar yang seharusnya terang benderang menjadi redup. Mata rantai bisnis yang putus tidak mampu memaksimalkan pesona budaya yang magis.

L1

Suasana “Kurnia Illahi” sebagai Penjual Album Lokananta di Solo

Tetapi bagi para penentu kebijakan legislatif, Lokananta mungkin hanyalah sebuah masalah yang akan menambah masalah lain dan akan menghabiskan waktu untuk dipermak atau bahkan Lokananta sama sekali tidak terlihat (invisible) dan berarti tidak perlu diurusi. Setelah saya datang dan menghabiskan waktu berbincang bersama para pekerja yang sampai hari ini setia menunggui Lokananta, saya merasakan bahwa air mata sudah mengering dan lalu lalang setiap manusia yang bersimpati terhadap riwayat Lokananta hanya bersifat sesaat dan hilang di tengah jalan. Bagi saya, medium tulisan yang tepat untuk menuliskan kisah Lokananta adalah buku bukan tulisan pendek dan film dokumenter yang pedas. Tanpa menunggu semua mimpi itu terjadi, penting bagi saya untuk setiap insan untuk tetap membicarakan Lokananta. Melalui tulisan ini saya berharap ada mata yang membaca dan ada kuping yang mendengar dan melakukan satu manuver berskala dunia.

Katalog Master Lokananta

Katalog Master Lokananta

Saya tidak akan menuliskan tentang sejarah Lokananta, karena sudah banyak yang menulis dan mengetahuinya. Saya hanya ingin melengkapi tulisan-tulisan tersebut dengan analisa saya yang dapat menyentuh perspektif manusia untuk mengetahui kehebatan Lokananta. Di Solo sendiri, tidak banyak orang yang tahu apa dan dimana Lokananta berada. Saya sudah buktikan sendiri dan sementara di Jakarta, kita memiliki Gubernur yang sebelumnya memimpin kota Solo yaitu Pak Jokowi. Beliau pasti cukup tahu dan dengan mudah untuk mengumpulkan data mengenai Lokananta dan sebagai penggila musik, semua orang meletakkan harapan kepada beliau bila pada akhirnya terpilih jadi Presiden untuk bisa mengambil alih Lokananta dan mencari jalan terbaik agar perusahaan rekaman tersebut aktif dan mampu berbicara atas masa. Mimpi yang muluk tapi benang merah yang masuk akal antara Solo dengan Nasional adalah beliau.

Kondisi Ruangan Terbengkalai

Kondisi Ruangan Terbengkalai

Sebelum saya datang ke Lokananta, saya pergi mendatangai toko musik Kurnia Illahi yaitu sebuah agen yang sampai hari ini masih aktif sejak 45 tahun silam. Saya langsung berbincang dengan pemilik dan menanyakan rilisan Lokananta baik dalam format Kaset dan CD. Ternyata rilisan tersebut mengisi 25% penjualan album di dalam retail tersebut, dengan mudah saya bisa melihat semua rilisan tersebut. Bahkan saya disodori buku katalog untuk bisa langsung memilih album berdasarkan sisa stock yang tersedia. Setiap CD dihargai Rp. 35,000. Ketika melihat sampul album, saya langsung bergumam bahwa ini adalah pembajakan, tetapi setelah saya lihat pita cukai yang tersemat di dalam jewel-case maka persepsi saya langsung berubah. Tetapi tetap, pertanyaan kenapa dalam perihal percetakan disain album ini tidak dipikirkan atau tidak didisain ulang. Saya yakin pasti tidak ada kurator di belakang Lokananta ini, meskipun ada logo dan tulisan Perum PNRI Cabang Surakarta di depan sampul. Meskipun setiap tahun para pegawai diminta untuk mempresentasikan Rencana Kerja Tahunan tapi tanpa perspektif bisnis musik, semua rencana tersebut hanya belaka.

Sisa Data Masa Lalu

Sisa Data Masa Lalu

DUA PESONA

Melihat kondisi Lokananta, secara bisnis saya langsung menyimpulkan bahwa perusahaan ini kurang modal kerja dalam jangka panjang. Bujet yang harus disiapkan untuk restorasi Lokananta harus dalam nominal yang besar dan merugi untuk lima tahun ke depan. Dibutuhkan waktu yang lama untuk menyatakan bahwa Lokananta bisa diselamatkan. Diperlukan sebuah Master Plan yang memiliki target bukan hanya kepada khalayak musik tapi pariwisata yang mendunia. Persentase target pesona ini harus didukung dengan riset kuantitatif yang baik dan steril dari kepentingan yang bertujuan hanya untuk menempel dan mencari keuntungan sepihak. Multi kolaborasi dibutuhkan sebagai donor finansial untuk mencari pegawai yang mendapatkan gaji dan bonus sesuai dan pengembangan bisnis dengan dimensi yang berbeda.

Saksi Bisu Masa Lalu

Saksi Bisu Masa Lalu

Tidak mudah untuk mendekatkan Lokananta dengan generasi muda di Indonesia. Generasi Muda di Indonesia banyak yang telah terkontaminasi budaya barat dan sama sekali tidak tau dan mau tau apa itu Lokananta. Apalagi musik yang dirilis Lokananta berbasis lagu daerah. Harus dimengerti bahwa situasi ini menjadikan Lokananta memiliki Niche Market. Edukasi terhadap generasi harus didukung oleh rilisan baru yang keluar dari perusahaan rekaman tersebut. Lokananta secara brand bisa disandingkan dengan Motown, RCA dan Polydor tapi tetap berbeda karena visi dan misi yang ditetapkan. Lokananta harus memiliki Analisis SWOT (Strenght, Weaknesses, Opportunity, Thread) yang dibuat secara detail dan melupakan amarah yang akan timbul dari penentu kebijakan di belakang studio ini.

Pak Wuryanto dan Abigail di sela duplikasi manual kaset

Pak Wuryanto dan Abigail di sela duplikasi manual kaset

Traditional Reminder in Duplication Room

Traditional Reminder in Duplication Room

Lokananta punya dua pesona, satu bersifat Regional dan satu bersifat Domestik. Saya melupakan dulu Internasional, terlampau jauh dan sebenarnya dengan populasi penduduk Indonesia yang besar, sangat tidak mungkin memiliki pemikiran bahwa rilisan Lokananta tidak akan dimakan oleh sekian persen dari jumlah tersebut. It’s a matter of extra mile. Mau repot atau tidak. Melihat Lokananta hampir sama dengan pengalaman saya memimpin Aksara Records selama 6 bulan. Biar bagaimanapun Lokananta masih memiliki aset yang berhubungan dengan produksi rekeman, hasil rekaman, karyawan dan area yang sangat seksi untuk dikonsep menjadi sebuah kompleks hiburan yang dapat menyedot perhatian. Area yang berukuran sekitar 2,5 hektar tersebut seperti terbengkalai dan hanya disewakan kepada sekolah dan arena futsal di bagian belakang. Jelas ada pemasukan, tapi kurang maksimal.

Logo Lokananta Terkini

Logo Lokananta Terkini

Studio Yang Harus Dimonetisasi

Studio Yang Harus Dimonetisasi

Untuk memberikan edukasi yang meluas mengenai Lokananta, maka harus dibuatkan sebuah program yang berfokus kepada Pulau Jawa terlebih dahulu. Harus dibuatkan materi fisik dan digital untuk mendukung pesona yang dimiliki. Harus ada video dokumenter, video interview, video testimoni yang terintegrasi dengan akun sosial media. Indonesia ini memiliki banyak orang pintar dan sebenarnya tidak usah sulit mencari 20 orang yang dapat melakukan restorasi penuh untuk Lokananta ini. Yang sulit hanyalah birokrasinya saja dan permodalan. Untuk menciptakan Business Plan dan Brand Book dapat dikalkulasi waktu dan modalnya. Lokananta yang dikenal orang sebagai Abbey Road Indonesia harus menerima bahwa perbedaan itu ada dan mengapa perbedaan itu menyakitkan. Karena jika Lokananta sakit, bangsa Indonesia juga sakit. Kedekatan emosional yang selama 2 tahun terakhir ini disebarkan oleh para pecinta Lokananta berkontribusi terhadap kemegahan kisah dan harus ada implementasi bisnis yang tidak hanya sesaat.

Ibu Sugiyanti di Ruang Kerja

Ibu Sugiyanti di Ruang Kerja

REVENUE STREAM

Berapa pendapatan omzet Lokananta dengan kondisi hari ini per bulan dan per tahun? Berapa target pemasukan yang ditetapkan untuk satu tahun. Mungkin kita hanya bisa menebak atas penjualan yang masih kuat di daerah Jawa Tengah. Meski terlihat bahwa Bruno Mars lebih mendunia, tetapi di Pulau Jawa musik modern tersebut belum mampu menggugah primordialisme. Market Share masih dipegang oleh musik daerah. Pemasukan lain yaitu dari penyewaan lahan dan penyewaan studio oleh beberapa musisi dan jumlahnya pasti tidak besar dan belum terjadi setiap bulan sementara penggajian karyawan setiap bulan harus berjalan dan biaya perawatan alat produksi yang mengenal kata penyusutan harus diperhitungkan dalam kajian akuntansi. Lokananta hari ini masih memiliki pemasukan dan dengan konsep seperti ini masih bisa berjalan sampai sepuluh tahun mendatang.

Bersama Mas Bembi, Ibu Sugiyanti dan Adam Sianturi.

Bersama Mas Bembi, Ibu Sugiyanti dan Adam Sianturi.

Namun saya melihat ada ratusan ide bisnis yang dapat dijalankan dengan brand Lokananta tersebut. Bukan cuma urusan digital music distribution saja tapi yang lebih besar. Seperti penginapan, tur, merchandise, lisensi, replika, Mobile App dan Live Music dan masih banyak lagi. Lokananta harus ditawarkan sebagai maket bisnis yang profitable bagi para investor dan yang paling utama adalah sekuritas atas inventori yang ada di sana. Lokananta harus menetapkan Local Ambassador yang berdomisili di setiap kota di Pulau Jawa. Pembicaraan saya dengan Ibu Sugiyanti dan Mas Bembi dari Lokananta memberikan saya gambaran bahwa perusahaan rekaman ini memiliki dinamika yang berbeda. Kesetiaan mereka berada di sana harus diperhitungkan dengan pengembangan bisnis yang bukan hanya semusim. Solo adalah mata air seperti dilagukan Gesang dan Lokananta adalah air mata yang seharusnya tidak ada, karena musik menghadirkan harapan kebahagiaan. Tapi inilah realita yang tidak bisa didiamkan saja. @2014/AldoSianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense