KUTA BERDURI

On 7 September, 2013 by Aldo Sianturi

Twice1

Hari ini saya masih berada di Bali dan akan kembali ke Jakarta untuk melanjutkan persiapan selama satu minggu memberikan kuliah umum di 5 kampus berbeda di Bandung, Jawa Barat. Sebelum berpindah provinsi lagi, pertemuan saya dengan beberapa teman di Bali saya kisahkan agar menjadi sebuah kanvas yang mengkompilasi kesederhanaan dan kehangatan yang dipancarkan melalui bahasa musik.

Kamis malam lalu, terlaksana juga pertemuan saya dengan Sari, Guzt dan Sony dari Nymphea Band. Sudah lama kami tidak bersua, terakhir beberapa tahun silam di Kemang, Jakarta. Kami duduk bersama di Twice Pizza, Poppies Lane II, Kuta. Seperti biasa, kami saling menceritakan pengalaman menarik di lanskap musik bisnis. Saya tidak akan pernah lupa kalau perkenalan saya dengan Nymphea terjadi atas kebaikan Rudolf Dethu di tempat yang sama di masa lalu.

Satu hal yang menarik adalah kami berbicara tentang Digital Music Distribution yang menjadi sebuah lokomotif baru bagi setiap pemilik karya cipta musik di Bali agar dapat diapresiasi dan dikenali di 240 negara. Saya menceritakan banyak hal tentang seluk beluk musik digital mulai dari bisnis model sampai beragam platform seperti iTunes, YouTube, Deezer, Spotify, Amazon, Google Play dan faktor monetisasi. Diskusi ringan ini akhirnya berakhir ketika saya minta izin untuk masuk ke House of Rumble untuk mencari CD/Merchandise musisi atau clothing brand asal Bali yang dikonsinyasi di sana. Meski tidak banyak tapi saya puas mendapatkannya.

Mawar Berduri

Ternyata di lantai bawah, tepatnya di Twice Bar telah banyak berkerumun anak muda untuk menyaksikan penampilan langsung dari Mawar Berduri Band yang berasal dari Bandung, Jawa Barat dan bisa dikenali melalui https://www.facebook.com/mawarberduribdg dan Twitter di @MAWARBERDURIbdg. Pendeknya, malam itu benar-benar “Kuta Berduri”. Mereka menggambarkan profilnya dengan kalimat yang membuat kita ingin mendengar musik dan melihat penampilannya  di http://www.reverbnation.com/mawarberduribdg sebagai berikut:

Cepat dan keras. Mawar Berduri berdiri sekitar bulan Juni 1997 di sebelah selatan kota Bandung. Musik Mawar Berduri banyak terpengaruh band-band seperti Disrupt, Tragedy, From Ashes Rise, Kontrovers, Discharge, Total Chaos. Mawar Berduri sendiri pada awalnya berangkat dari konsep musik Punk Rock yang lambat laun berkembang menjadi musik Mawar Berduri sekarang dan terus mengembangkannya.

Saya berkenalan dengan personilnya dan menikmati penampilan Mawar Berduri malam itu. Saat penampil beraksi, ada satu peraturan yang ditetapkan oleh Twice Bar yaitu “Dilarang Merokok”. Hebatnya, semua sepakat dan semua orang merasa nyaman. Sementara di luar bar, saya menyaksikan banyak yang sepertinya sudah lama tidak saling bertemu dan kami semua larut dalam pembicaraan santai. Saya juga bertemu kembali dengan Ali “Havoc” seorang praktisi ekonomi kreatif dari Bali. Dia menceritakan pengalaman dalam berhubungan dengan musisi di Bali dan rencana pengembangan bisnis masuk ke dalam arena e-commerce.

Kuta

Kami berada di sana sampai pagi dan menikmati nikmatnya Arak Bali. Saya begitu senang mendengar rencana-rencana menarik dari para penggiat musik yang selalu saling mendukung dan meredam perspektif yang tidak membawa nilai baik kepada perjalanan yang dilukis. Kesederhaan seperti ini adalah yang selalu saya petik setiap bertemu musisi berbasis komunitas. Mereka konsisten dengan musiknya, bahasanya dan daya-tahannya. Saya akan datang kembali ke Bali. Matur Suksma…@2013/AldoSianturi | Photo: Mawar Berduri, Aldo Sianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense