KISAH INSPIRATIF DARI 3 MUSIC ENTREPRENEUR

On 5 May, 2013 by Aldo Sianturi

DJ Cream, Shaane Harjani dan Andrew Darmoko

Mungkin tadi malam, anda duduk manis diantara audiens lain di lantai 3 pusat perbelanjaan fX Sudirman di Panel Music Business yang menjadi salah satu bagian dari acara Entrepreneur Festival 2013. Di panel tersebut, saya diundang untuk menjadi moderator untuk 3 pembicara yaitu DJ Cream dari Soul Menace, Shaane Harjani dari Mary Gops Studio dan Andrew Darmoko dari Valf Records. Ketiganya adalah pengusaha muda yang gigih, konsisten dan inspiratif.

Kesempatan ini saya pakai untuk memperkenalkan ketiga sosok pebisnis musik yang notabene tampil elegan tadi malam. DJ Cream menyampaikan kalau selain berkarier sebagai Disc Jockey; maka beberapa area lain di bisnis musik telah digeluti selama 3 tahun terakhir yaitu Manajemen Artis, diantaranya adalah P-Double dan Dira Sugandi. Latar belakangnya adalah pengalaman dan rasa tidak puas selama menjalani peran penuh sebagai pengisi acara. Paralel, Reza Ananda juga mempersiapkan Subsidiary Label yang bernama Soul Menace Records yang terinspirasi dari label besar Def Jam.

Setelahnya maka tidak lain yaitu pengusaha muda yang belum begitu banyak dikenal sosoknya, tapi sudah meroket lewat perusahaannya yang bernama Mary Gops Studio. Dia adalah Shaane Harjani yang telah mementaskan 15 artis manca negara diantaranya adalah Justin Bieber, Scandal, 2PM, Westlife, L’Arc-en-Ciel dan Swedish House Mafia. Sebagai concert promoter, Shaane menyampaikan bahwa fleksibilitas adalah keutamaan dalam berbisnis hiburan. Dia menuturkan kisah kurang nyaman saat Jakarta dilanda banjir yang berketepatan dengan jadwal pentas Swedish House Mafia. The show must go on.

Semakin seru lagi saat mendengar Andrew Darmoko pemilik Valf Records menyampaikan bahwa ada hal yang mendasar antara musik dengan dirinya. Ada passion yang begitu besar yang harus dijalankan secara serius. Namun kondisi pasar musik yang sedang tidak solid dan bisnis rekaman yang timpang memaksa Andrew harus memiliki strategi baru yaitu juga berfokus kepada Artis Manajemen atau dalam bahasa beliau yaitu Jual Artis. Diantaranya adalah Foxy Girls. Bersama timnya, Andrew lantas membuat akademi talenta yang katanya “high cost” guna mengoptimalkan ekspresi menghibur yang multi karakter dan berhasil. Dia mengatakan bahwa ada 3 corak musik yang dicampur olehnya sebagai cara berkomunikasi dari Foxy Girls yaitu Pop, R&B dan Melayu. Inilah sebuah kearifan lokal yang moderat.

TURUN KE LAPANGAN 

Yang menarik dari ketiga pengusaha ini adalah kerelaan dan kemauan mereka untuk turun ke lapangan dalam mengeksekusi aktifitas bisnisnya. Ketiganya mengaku bahwa sudah pernah punya kisah kurang baik dalam perihal bekerjasama dengan tim kerja dan tetap semangat untuk mencari cara yang terbaik dan efisien. Baik DJ Cream, Shaane Harjani dan Andrew Darmoko adalah sosok yang bisa anda temui langsung di acara musik di bawah perusahaannya masing-masing.

Mereka saling berbagi perihal urusan pelik ini dan malah menyampaikan sebuah statement yang berbunyi “Lebih susah mencari karyawan dibanding mencari calon artis”. Yang mereka harapkan dalam sebuah kerjasama adalah totalitas bekerja dan pengembangan sektor lain dalam konstruksi bisnis. Hanya saja dalam realisasinya, banyak orang yang belum memahami dunia kerja dan tidak sabar berproses. Maka dari itu, mulai sekarang rekrutmen pegawai adalah pintu awal yang harus dipikirkan dengan matang dan sesuai dengan ukuran yang ditentukan.

KEBUTUHAN DAN STRATEGI BISNIS

Perusahaan yang besar sella mengalami disruption (gangguan) dari kanan kiri dan depan belakang. Sudah pasti banyak tumbuh para pengekor yang ingin menggangu bahkan menepikan perjalanan bisnis ketiga pengusaha muda di bidang musik ini, namun mereka adalah orang yang tangguh dan telah siap dengan beragam hal tersebut.

DJ Cream melihat bahwa indeks kebutuhan hiburan yang tinggi membuat Soul Menace harus memiliki strategi bisnis yang dinamis, begitu juga dengan Shaane yang menyampaikan bahwa Price Issues adalah sangat sensitif, meski animo masyarakat besar terhadap konser musik, tetapi Mary Gops Studios harus tetap menghitung dan tampil dengan pencitraan brand yang baik dalam urusan harga tiket plus komunikasinya.

Bagi Andrew Darmoko, transisi digital yang sedang kita lewati membuat beliau menyiapkan sebuah aplikasi berbasis musik yang menarik untuk smartphone market di Indonesia, dimana akan menjadi pilihan berbagai lapisan umur yang dalam validasi bisnisnya akan bekerjasama dengan sektor perbankan. Bahkan menambahkan perilaku pasar yang berubah.

Shaane juga menegaskan bahwa dalam mengeksekusi promosi untuk konser sejauh ini yang paling efektif adalah melalui platform social network. Serunya adalah meski kita belum sampai di paruh 2013, tapi masing-masing pembicara tadi malam memberikan senyum mengisyaratkan bahwa business performance di tahun ular ini take-off. Goodluck Guys! @2013AldoSianturi/Photo: Market+ Magazine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense