KENDALA DAN KENDALI BELAJAR MUSIK ONLINE

Sejak pertama kali isyu covid-19 merebak, Kemendiknas adalah yang paling duluan menerapkan agar sekolah belajar dari rumah. Tidak mudah dan cukup banyak perdebatan yang terjadi antara anak dan orangtua, kemudian orangtua dan pihak sekolah. Namun tidak ada jalan lain. Musik juga adalah pendidikan yang digeluti berbarengan yang kisahnya sama. Untuk itu mari selami respon para Musisi Pendidik Indonesia yang mengendalikan kendala yang terjadi dalam proses belajar mengajar musik secara online. 

Sebelum membaca tulisan ini sampai rampung, kita harus bersepakat dulu bahwa talenta bermusik adalah natural gift dari Yang Maha Kuasa dan dengan komitmen penuh untuk berkonsisten maka talenta tersebut dapat menjadi sebuah status sosial yang bermanfaat bagi diri sendiri dan khalayak banyak. Namun talenta dalam mengkomersialkan bidang musik yang digeluti bertahun-tahun adalah hal yang berbeda. Ada kerja keras dan rumus pengelolaan di sana. Namun beberapa musisi sukses mengelola institusi pendidikan dengan konsisten.

Musisi seperti Purwa Tjaraka, Tjut Njak Deviana Daudsjah, Erwin Gutawa, Aminoto Kosin, Yovie Widianto, Otti Jamalus, Aksan Sjuman, Indra Aziz, Dwiki Dharmawan, Todung Pandjaitan, Harry Murti, Rio Moreno adalah Manusia Setengah Dewa yang tidak hanya memikirkan kemampuan bermusiknya namun sekaligus memberikan ruang edukasi kepada khalayak luas tanpa batas. Dinamika ini menunjukkan semakin kuatnya akar bermusik di negara kita. Semakin banyak sekolah maka semakin besar kesempatan untuk setiap individu mempelajari musik. Mari mendengar kiat-kiat para pendidik musik yang lancar melaksanakan Belajar Musik Online.

Berikut adalah Lima Pertanyaan Penting untuk Para Pendidik Musik:

1. Bagaimana sejauh ini proses belajar musik yang berjalan bersama semua murid yang belajar secara online? Kesulitan apa yang paling sering ditemui dari kedua belah pihak baik pendidik dan murid?

2. Apakah dengan situasi karantina justru animo keluarga untuk mengikutsertakan anaknya ke sekolah musik anda semakin tinggi animonya? Atau malah sebaliknya? Apa saja yang ingin dikemukakan dalam situasi ini?

3. Biasanya ada satu masa dimana pendidik dan anak didik melakukan aktivitas bermusik langsung dalam skala besar secara bersama. Dalam situasi pandemic cara apakah yang ditempuh oleh sekolah agar jadwal tersebut bisa tetap dilakukan? Apakah sudah pernah dilaksanakan?

4. Bagi para performer, Live Streaming Show sudah menjadi kebiasaan dalam 3 bulan terakhir. Dari perspektif dunia pendidikan, apakah yang mereka tampilkan telah banyak memberikan pengaruh positif terhadap musikalitas para murid? Apa saran anda untuk aktivitas ini?

5. Sebentar lagi kita akan masuk ke masa New Normal di Indonesia. Namun terdengar kalau para orangtua belum rela untuk melepas anak-anaknya kembali ke kegiatan semula. Bagaimana menurut anda dan apa saran anda untuk menciptakan New Normal yang optimal dari dunia pendidikan musik?

Purwa Tjaraka
Purwa Caraka Music Studio (PCMS)
Website: https://www.purwacarakamusicstudio.com
1. Kita sesuaikan secara online, kegiatan belajar tetap diadakan full (4X Pertemuan). Terus terang kami mencoba beradaptasi dengan situasi yang sangat jauh berbeda dari sebelumnya ini. Namun ada 4 faktor yang kami simpulkan menjadi latar belakang dari pertanyaan di masa pandemic covid sampai hari ini yaitu:
1. Faktor koneksi internet yang tidak stabil di Indonesia.
2. Faktor murid yang tidak memiliki instrumen musik di rumah.
3. Faktor kemalasan atau akumulasi jadwal belajar online yang padat.
4. Faktor ekonomi keluarga yang terdampak.
Semua faktor ini tidak bisa dipaksa harus terjadi namun bisa diperbaiki seiring dengan waktu dan kebijakan.

Purwa Caraka Music Studio sudah beroperasi sejak 32 tahun silam (1988) dan di usia 12 tahun baru kami masuk ke DKI Jakarta. Sebelumnya kami berkonsentrasi penuh di Bandung, Jawa Barat. Sampai hari ini kami memiliki 2,380 Guru dan 300 Staff Back Office CSO dan Office Boy. Boleh dibilang kami membuka lapangan pekerjaan dan berusaha untuk menjaganya di masa sulit seperti ini. Guru-guru kami sekarang semakin high-motivated dalam mengajar karena kondisi yang mengharuskan fokus kepada keutamaan.

2. Saya turun langsung dalam mengelola sekolah musik dengan melakukan komunikasi tanpa batas dengan orangtua murid dan pendidik. Meskipun moda bisnis kami ada yang kami kelola sepenuhnya, waralaba dan kerjasama. Kami memahami sekali semua situasi yang dihadapi bersama namun motivasi harus menjadi dasar kebangkitan setiap orang. Sebagai orang yang mudah diakses, saya juga mengajak semua orang berpartisipasi dan berkolaborasi pada video #NaikDelman Bersama Purwa Caraka. Ada 450 Video yang melibatkan keluarga. Karena positioning kami 70% adalah anak-anak usia sekolah, jadi peran keluarga sangat penting dalam perkembangan mereka belajar musik.

3. Kami berusaha mencari kreativitas program yang melibatkan kebersamaan dalam jumlah besar. Semua berpindah ke online. Salah satu kegiatan kami yang berjalan adalah Jangan sampai ketinggalan tayangan perdana Home Concert #dirumahaja yang akan menampilkan siswa-siswi Purwa Caraka Music Studio dari seluruh Indonesia. Hari ini, Sabtu, 30 Mei 2020, Pukul 15.00 WIB dan ditayangkan secarara Live streaming di Youtube Channel Purwa Caraka Music Studio.

4. Pertanyaan saya sebaliknya, apakah kita punya alternatif lain selain Live Streaming Show? Tidak. Kita cuma punya itu meski dibilang bisa maksimal jelas tidak, dianggap bermutu ya relative. Tapi saya percaya bahwa di dalam menggelutinya maka selalu ada benefit and loss factor yang bobotnya sama. Ini baru musik, bagaimana dengan pengusaha bioskop yang melihat 1,550 layarnya tidak bekerja selama ini? Kita coba maksimalkan kesempatan yang ada secara bersama dan saya tidak punya banyak saran sementara ini.

5. Bila kita sampai di kondisi “New Normal” paling tidak kita harus merasa bahagia karena dulu kita bisa bermain bebas banget. Kita harus menjalani kehidupan ini dan kita tidak bisa menebak apapun. Kita ikut protocol kesehatan yang disampaikan pemerintah. Kita pun tidak boleh merasa senang dulu sekarang, karena perubahan akan terus berjalan. Yang penting kerja dengan baik dan produktif adalah kunci agar kita bisa mempertahankan kesempatan yang kita miliki sejauh ini. Ongkosnya akan sangat gila kalau kita sembrono.

Tjut Nyak Deviana Daudsjah
Institut Musik Daya Indonesia (IMDI)
Website: https://www.imdi-edu.org
1. Sejauh ini proses belajar Musik secara online berjalan relatif lancar walaupun ada beberapa kesulitan yang sering ditemui, yaitu, koneksi internet yang tidak stabil di Indonesia, serta beberapa murid menganggap remeh belajar secara online.

Contoh meremehkan: bangun kesiangan, tidak memberi kabar apabila tidak hadir sesuai jadwal yang sudah ditetapkan serta tidak mengerjakan pekerjaan rumah yang sudah ditugaskan pendidik.

2. Dengan situasi karantina, animo keluarga tetap sama baik belajar secara online maupun tatap muka. Tidak ada perubahan dalam hal animo.

3. Dalam aktivitas bermusik langsung secara online, tidak bisa dilakukan, oleh karena:
a. Seperti yang sudah saya sampaikan pada point 1, koneksi Internet di Indonesia yang tidak stabil,
b. Latency. Sounds dari semua instrument Musik maupun vocal delay, maka temponya masing-masing jadi beda dalam menggunakan aplikasi seperti Skype, Zoom dll.

Maka kelas main bersama yang disebut Ensemble class, harus dilakukan secara tatap muka. Dan hal tersebut akan dilakukan setelah situasi pandemic membaik dan kami tunggu kabar dari pemerintah mengenai PSBB. Kelas-kelas yang tidak dapat dilaksanakan sesuai jadwal sebelumnya akan diganti (make up class).

4. Mengenai Live streaming show, saya hanya memberikan usul, jangan hanya konser online saja, tapi juga mengadakan sesi pendidikan Musik seperti contohnya, penjelasan dari pihak Musisi, mengapa memilih lagu-lagu yang dimainkan, apa fungsi masing-masing instrument dalam sebuah group band atau workshop mengenai cara main bersama dalam sebuah band dengan baik dll yang berhubungan dengan pendidikan Musik contohnya, sejarah Musik, teori, eartraining, aransemen/orkestrasi dsb. Ada sesi tanya jawab pada waktu show yang berhubungan dengan pendidikan Musik.

5. Semua ini tergantung dari berbagai lembaga pendidikan Musik sejauh mana kegiatan kebersihan dilakukan di masing-masing lembaga. Semua kegiatan preventive yang telah berkali-kali disampaikan pihak pemerintah sebaiknya dipatuhi dan benar-benar dilaksanakan.

Untuk menciptakan New Normal yang optimal di dunia pendidikan Musik adalah: Ikuti saran WHO, dilingkungan lembaga, tetap cuci tangan dengan sanitizer serta tetap menggunakan masker apabila kegiatan belajar mengajar kembali dilaksanakan secara tatap muka.

Intinya semua saran dari lembaga yang dapat dipercaya seperti WHO, dijalani dengan baik dan tentunya orang tua para murid pun melakukan hal-hal preventive dirumahnya masing-masing. Kerjasama yang baik antara orang tua, murid dan pendidik. Intinya juga: belajar mengadaptasi perubahan lingkungan dengan keluar dari zona aman.

Indra Azis
Indra Aziz Vocal Studio
1. Sejauh ini prosesnya buat saya sendiri lancar karena sejak sebelum pandemi pun sudah sering melakukan online lessons. Tetapi bagi guru2 lain di sekolah saya yg belum pernah, cukup “gagap” di awalnya, terutama karena masalah “latency” sehingga guru tidak bisa sync saat mengiringi dengan piano, solusinya adalah membiarkan murid nyanyi secara akapela, dengan catatan, nada dasarnya tetap dijaga.

2. Di awal, Indra Aziz Vocal Studio kehilangan 75% jumlah murid, sehingga yang tetap lanjut secara online tinggal 25% saja. Tetap seiring waktu berjalan, mulai ada penambahan2 murid baru lagi.

3. Setiap bulan IAVS melakukan workshop, pesertanya 20-30 orang, tidak ada masalah, yang penting pengajarnya berlaku sebagai “moderator” yang baik juga selalu menjaga level of engagement peserta ya.

4. Live streaming bagus, walau tidak bisa menggantikan pengalaman live fisik ya, ada yang hilang, tetapi ada sisi kelebihannya juga misalnya interaktivitas.

5. Lanjutkan LDL, tingkatkan dan perbaiki metode kita, jangan memaksakan tatap muka dulu sebelum ada jaminan keamanan. Tidak ada ruginya fokus ke LDL sementara ini.

Aminoto Kosin
Aminoto Kosin Music School
Socmed: https://www.facebook.com/akmsindo
1. Bagaimana sejauh ini proses belajar musik yang berjalan bersama semua murid yang belajar secara online? Kesulitan apa yang paling sering ditemui dari kedua belah pihak baik pendidik dan murid?

Sejauh ini proses belajar musik secara online berjalan cukup lancar. Kesulitan yang paling sering ditemui kalau pada anak kecil lebih suka semaunya, perlu pendampingan orang tua. Lebih mudah kalau remaja dan orang dewasa.

2. Apakah dengan situasi karantina justru animo keluarga untuk mengikutsertakan anaknya ke sekolah musik anda semakin tinggi animonya? Atau malah sebaliknya? Apa saja yang ingin dikemukakan dalam situasi ini?

Secara keseluruhan berkurang. Mungkin khususnya untuk anak2 di Jakarta, kondisi agak sulit karena pandemi ini membuat semua kegiatan belajar sekolah di alihkan ke online juga, sehingga ada orangtua yang kesulitan mengatur jadwal si anak. Kalau kegiatan belajar musik online sebagai tambahan dari kegiatan sekolah umum, akan lebih banyak orang tua yang mau memgikutsertakan anak nya les musik online.

3. Biasanya ada satu masa dimana pendidik dan anak didik melakukan aktivitas bermusik langsung dalam skala besar secara bersama. Dalam situasi pandemic cara apakah yang ditempuh oleh sekolah agar jadwal tersebut bisa tetap dilakukan? Apakah sudah pernah dilaksanakan?

Kalau belajar secara group menurut saya akan sulit diterapkan untuk anak2 kecil. Untuk kuliah bisa.

4. Bagi para performer, Live Streaming Show sudah menjadi kebiasaan dalam 3 bulan terakhir. Dari perspektif dunia pendidikan, apakah yang mereka tampilkan telah banyak memberikan pengaruh positif terhadap musikalitas para murid? Apa saran anda untuk aktivitas ini?

Tergantung dari cara guru mengajar. Karena mengajar online tidak bisa disamakan dengan mengajar dalam pertemuan biasa. Musikalitas akan muncul dari cara guru menerangkan subyek. Saran saya guru perlu mencari approach dan gaya yang berbeda kalau mengajar online.

5. Sebentar lagi kita akan masuk ke masa New Normal di Indonesia. Namun terdengar kalau para orangtua belum rela untuk melepas anak-anaknya kembali ke kegiatan semula. Bagaimana menurut anda dan apa saran anda untuk menciptakan New Normal yang optimal dari dunia pendidikan musik?

Pastinya ada beberapa orangtua dan anak yang lebih nyaman belajar secara online. Jadi ada kemungkinan besar saat new normal nanti ada orangtua yang cenderung memilih untuk tetap online. Anak bisa belajar online malam hari saat waktu lebih santai di rumah.

Aksan Sjuman
Sjuman School of Music
Website: http://www.sjumanschoolformusiceducation.id
1. Koneksi internet menjadi kendala, bisalah di-manage dengan memproduksi beragam video lecture untuk kebutuhan belajar mengajar.

2. Kendala suara yang dihasilkan susah untuk mendeteksi detail permainan murid. Namun paling tidak masih bisa berjalan dari segi teknikal dan masih bisa dikejar dan pada stage murid tertentu kursus online ini masih bisa dilakukan dengan baik.

2. Menurun sih, tetapi ada yang menarik yaitu anak-anaka yang semangat justru lebih bersemangat dari keinginan orangtua-nya.

3. Kita sedang mempersiapkan virtual recital.
4. Ya segi yang sangat positif, membuka kemungkinan berkomunasi jarak jauh dengan pemain-pemain ternama di seluruh dunia, juga memberikan ide merekam permainan sendiri. Tentunay hasilnya dapatmemperbaikin apa yang kita dengar atas permainan kita. Dalam masa ini, sepertinya bisa dibilang Indonesia belajar atau dunia sedang belajar.

5. Nggak tau, belum mengahadapi New Normal, ya apa yang berubah tentunya perlu kerjasama dari masing-masing pihak dalam industri ini. Yang jelas kita harus membuka pikiran dan tolong menolong adalah konsepnya, bukan lagi dibentuk dari konsep persaingan.

Otti Jamalus
OJ Music House
Website: http://www.ojmusichouse.com
1. Sejauh ini lancar walaupun kurang ideal dan maksimal. Kendala yang paling utama adalah jaringan internet. Di awal masa PSBB, kami ditunjuk oleh Kemendiknas membuat konten-konten untuk dapat belajar di rumah. Silakan klik link “belajar” ini untuk dapat mengakses kontennya langsung.

2. Animo jumlah murid turun 25% krn dilema, maunya terus bertemu di kelas fisik/normal namun wabah covid-19 harus dihindari. Ada ketidakpuasan mereka belajar dalam format online. Apalagi ada latency dalam arah suara.Tempat berbeda sangat tidak nyaman. Namun kami justru mendapat pertambahan siswa dari US, Australia & UK (Diaspora Indonesia).

3. Membuat video bersama untuk ditayangkan di sosial media dan sedang merancang konser online bersama dan sedang meramu teknologinya.

4. Relatif. Ada yang positif dan ada yang tidak. Jika konten dapat dipertanggung-jawabkan maka gandeng saja situs resmi seperti Kemendiknas agar terkontrol isinya.

5. Para pengajar sangat diharapkan kreativitas terutama soal pemilihan materi, praktek ketimbang teori. Keadaan seperti“direm mendadak” oleh keadaan begini benar-benar membuat kita harus survive dengan cara yang lebih tepat dan konkret. Ini juga berlaku di sekolah formal untuk melakukan reformasi dengan langkah yang jitu dan tepat.

Dwiki Dharmawan
Farabi Music Education Center
https://www.farabimusicschool.com

1. Proses Belajar Musik Secara online dan kesulitannya
Pada dasarnya, kurikulum yang ada pada semua program pada kursus musik di Lembaga Pendidikan Musik Farabi (Farabi Music Education Center) awalnya tidak dirancang untuk berlangsung secara online namun secara bertemu langsung, hal ini tentunya banyak sekali perbedaannya, sehingga kemudian dengan perubahan ini perlu suatu adaptasi, perlu penyesuaian terutama dari segi silabus dan modul bahan ajar.

Hal ini tentunya berbeda dengan lembaga pendidikan atau kursus yang sedari awal sudah dilangsungkan secara online, seperti Universitas Terbuka (UT) karena tentu modul-modul dan materi ajar secara online sebelumnya sudah disiapkan secara matang.

Kesulitan pertama yang terjadi adalah ketika tidak semua siswa memiliki instrumen dirumahnya masing-masing dari program yang dipelajarinya misalnya kelas Piano dan kelas Drums.

Kesulitan kedua adalah tidak semua siswa maupun instruktur siap dengan kondisi internet yang ada, tidak semua instruktur atau siswa memiliki fasilitas wi-fi dirumah masing-masing dengan demikian jadi harus mengandalkan kuota dari gadget masing-masing yang tidak merata standar kondisinya.

Kesulitan ketiga adalah keluhan latency dari sistem belajar/mengajar online yang dipakai misalnya Zoom, Google Classroom, Skype, Face Time ataupun Whatssaps Video Call. Karena tidak ada platform khusus yang sedari awal dipersiapkan , semua serba mendadak. untuk itu kedepan Farabi sedang merancang standarisasi sistem online nya.

2. Animo pada situasi pandemi covid19
Sebetulnya untuk animo tetap tinggi, para orang tua yang putra-putrinya masih kecil2 dan remaja lebih senang bila mereka punya kesibukan dalam hal ini kursus musik. Di LPM Farabi ini banyak juga siswa yang sudah mandiri artinya ikut kursus dengan biaya mandiri dari penghasilannya misalnya bermain musik regular. Kami sangat concern kepada mereka karena seiring dengan ditutupnya tempat-tempat mereka bekerja maka mereka harus berhenti belajar. Ada juga yang mundur karena alasan yang mendasar misalnya situasi ekonomi dari para orang tuanya yang terdampak pandemi covid 19. Untuk para siswa yang sangat bertalenta kami tetap akan mengusahakan semacam bea siswa agar mereka tetap bisa meneruskan belajar secara online.

3. Aktivitas Musik Berskala Besar
Hal ini telah menjadi kebiasaan yang sebelumnya selalu terjadwal yaitu:

1.Kelas Teori
2.Master class
3.Home Concert

Berbeda dengan kelas privat, kelas teori biasanya dilakukan pada kelas , demikian juga Kelas Spesicl atau Master Class. Untuk Konser Rutin (Home Concert) biasanya secara berkala minimal berlangsung 3 Bulan sekali namun pada masa pandemi ini Home Concert tetap akan dapat kami lakukan dengan cara lain, salah satu caranya adalah dengan melakukan presentasi dimana masing-masing siswa merekam materi musiknya lewat video. sedangan untuk Kelas Teori dan Kelas Spesial tetap akan kami upayakan via kelas online.

4. Live Streaming Show.
Live Streaming Show, selama ini baru bisa berlangsung dari rumah masing-masing misalnya dengan fasilitas Live Streaming pada Instagram atau Facebook. Namun masih menemukan kendala dalam konteks kolaborasi atau Ensemble/Group/Band.

Untuk itu bisa diupayakan dengan adanya pre production dimana siswa masing masing merekam materi musiknya kemudian dijahit oleh seorang editor video yang kami siapkan dan kemudian dittampilkan dalam bentuk kolaborasi video. Musik adalah tidak hanya dunia individual tapi dunia kolaborasi oleh karena itu dalam hal ini sangat diperlukan teknologi yang tepat untuk pelaksanannya.

5. Menurut kami, masa New Normal ini adalah suatu masa yang siap atau tidak siap, suka atau tidak suka akan tetap harus dihadapi dalam segala segi dan tatanan kehidupan umat manusia di dunia termasuk di Indonesia. namuna menurut hemat saya terjadi hal yang sangat mengkhawatirkan di Indonesia , karena negara lain berangsur-angsur memberlakukan kehidupan New Normal pada saat situasi kurva korban pandemi covid 19 sudah melanda seperti di negara China, Vietnam, Taiwan, Korea dan lain-lain. Nah di Indonesia itu sebetulnya saat ini belum waktunya karena justru kasus pandemi covid 19 sedang tinggi-tingginya atau belum dikatakan tepat terutama di kawasan Jabodetabek untuk melakukan kelonggaran PSBB.

Sebagai contoh, di Perancis dan Korea Selatan saja baru beberapa hari sekolah dibuka kembali langsung terjadi lagi lonjakan penderita corona yaitu siswa siswi dan para gurunya. Belajar dari pengalaman tersebut kami akan sangat berhati-hati serta wait and see. Mungkin tidak akan langsung membuka kembali pembelajaran secara langsung kembali di Farabi Music Education Center walaupun PSBB sudah akan dilonggarkan, namun kami akan melakukannya secara bertahap dan setelah melihat perkembangan yang terjadi.

Tentunya kami akan mengikuti dan harus menyesuaikan dengan sikon dengan protokol yang sangat ketat. Saya dan team akan turun langsung mengawal ini semua. Anak Indonesia, Talenta Indonesia bagaimanapun tidak bisa berhenti untuk tetap belajar dan maju.

Todung Pandjaitan
Gladiresik Music Lab (GML)
https://gladiresik.com
1. Dari pihak murid kesulitan dr segi teori (pola-pikir) tidak ada, tp dr segi teknik (pola-pelaksanaan) jelas kurang nyaman untuk kedua belah pihak.
Dr pihak pengajar/sekolah kesulitan yg ada di line internetnya. Mungkin terlalu berat beban internet di masa covid19 ini. Semua orang online. Tapi semua masih bisa teratasi dg baik. Seharusnya dengan meningkatnya animo pengguna internet, pihak provider turut memberikan sumbangsih dengan memberikan diskon dan peningkatan service lainnya.

2. Kebetulan kurikulum yg saya susun untuk Gladiresik Music Lab (GML) memang ditujukan untuk kemungkinan online di kemudian hari. Pandemic ini sebenarnya mempercepat proses GML ke situ.
Animo belajar tidak berubah. Tapi umumnya orangtua murid keberatan anaknya hadir untuk kegiatan musik di sekolah. Akibat positif dari mengajar online ini, terbuka mengajar online bukan hanya untuk murid di kota yang berbeda, tp juga untuk murid di negara yg berbeda.

3. Arahan pendidikan GML bersifat kejuruan dengan fokus ajaran ke arah Session & Studio Player. Menjadi alasan dr semua peran akademik di GML adalah Session & Studio Player. Karena itu, sistem pendidikan GML jg dilengkapi dg rutinitas kegiatan jamming, diskusi, dan monitoring yg masing2 berlangsung setiap minggunya. Kegiatan ini sekarang diusahakan secara online, walaupun terasa tidak nyaman bagi kedua belah pihak.

4. Kegiatan musisi online yg ada banyak membantu pembelajaran musik secara otodidak. Tapi dr sisi tahapan terlalu random untuk diikuti. Tahapan pendidikan yg baik adalah kekuatan inti dr pendidikan formal untuk mempersingkat waktu & biaya.

5. Pandemic ini berkaitan dg keselamatan dan nyawa manusia. Karena itu kebijaksanaan ini selayaknya dipercayakan ke pihak medis, terutama pemerintahan pusat NKRI. Kami di GML selalu siap untuk mengajar online atau tidak online.

@2020/AldoSianturi/Photo: Istimewa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *