BEKAH “KENAPA PILIH INDIE”

On 7 March, 2010 by Aldo Sianturi
Rebekah E. Moore (Doctoral Candidate, Ethnomusicology /
Department of Folklore and Ethnomusicology / Indiana University). 
Jaman saya kecil, semua orang bilang Metal! Metal! Tapi sebenarnya tau artinya juga nggak. Saat saya besar, semua orang bilang Indie! Indie! Tapi sebenarnya belum tau apa arti sebenarnya movement ini. Yang dibicarain selalu Major Label VS Indie Label. Buat saya yang sudah bekerja untuk keduanya, malah tidak merasa apa2. Yang dilawan sebenarnya diri sendiri dan sistem yang ada. Kita bangsa yang kebablasan dalam mendefinisikan banyak konteks. Hal ini dikarenakan tidak adanya kesempatan bagi orang-orang yang benar tau untuk berbicara tentang apa yang diseriusinya selama ini. Ini berlaku dalam bidang apapun dan sudah cukup kita salah kaprah selama ini.
Sebagai bangsa yang besar, kita malah cenderung menyepelekan gerakan yang kecil yang berasal dari orang kecil dan modal kecil. Perlu diketahui kalau kita belum punya Industri Musik yang ada Industri Bintang. Orang berebut untuk jadi Terkenal. Agar kita bisa mengedukasi keturunan kita dengan baik di masa mendatang, maka bukalah hati anda untuk berbicara  dan mendengar dengan para pelaku khusus. Jangan membantah terus, kapan terbukanya dong hati anda. Ini adalah program Interweb (Interview Website) pertama saya untuk mengilhami siapapun yang membacanya.
1. Sejak kapan berada di Bali dan riset apa yang sedang dilakukan di sana dan  apa tujuan dari hipotesa kamu?
Saya berada di Bali sejak tahun 2008. Saat ini, saya sedang menyelesaikan S3 dalam bidang etnomusikologi di Indiana University (Amerika Serikat) dan saya melakukan penelitian etnografi untuk skripsi S3 tentang scene musik Indie di Bali sejak tahun 2002. Judul skripsi saya adalah “Musik Indie di Bali paska bom : praktek peserta dan subjektivitas scene”.Pada akhir 2008 saat penelitian ini dimulai, scene musik Indie sedang berkembang. Sebelumnya gerakan ini disebut sebagai “scene bawah tanah”.

Yaitu jaringan informal para musisi muda, produser dan penggemar yang sangat loyal kepada genre musik keras seperti punk, hardcore, metal dan grunge. Sebagian besar penduduk dari kabupaten Badung (Bali Selatan) telah mengamplifikasi scene musik Indie secara konsisten. Definisi khalayak scene untuk kata “Indie” diambil dari singkatan bahasa Inggris yaitu “Independen”. Hal ini menunjukkan kecenderungan proyek produksi yang dilakukan secara mandiri. Pada kenyataannya, “going indie” adalah satu-satunya jalan bagi mayoritas seniman berbasis Bali. Karena istilah “Indie” menunjukkan sejumlah individu dan komunal dengan memperluas nilai-nilai yang jauh melampaui aktifitas DIY (do-it-yourself).

Untuk disertasi, saya meneliti praktek-praktek khalayak scene Indie muai dari latihan band, pertunjukan, sesi rekaman, produksi album, promosi, tur dan nongkrong dimana sebagai saluran cita-cita inti dari perbedaan sosial dan perbedaan musik yang diciptakan dan diluaskan. Kegiatan sederhana yang berhubungan dengan musik, sebagai interaksi sosial, membentuk keyakinan tertentu tentang etika kerja, integritas artistik, genre, kreativitas dan bakat. Dari sumber keyakinan tersebut, subjektivitas individu muncul ketika diperluas dan dilibatkan kepada orang banyak sebagai adegan memperkuat aliansi secara langsung. Scene Indie di Bali dibangun dan dipertahankan melalui kegiatan-kegiatan rutin antara musisi, produser, dan penggemar.

 2. Kenapa memilih Bali sebagai daerah pendukung riset? Memang seberapa menarik Indonesia buat kamu dan di negara mana saja kamu sudah melakukan riset?

Saya harus mengatakan yang sebenarnya yaitu saya dipilih oleh Bali. Penelitian gelar Master saya pun dulu dilakukan di Finlandia. Sebelumnya tidak pernah terbersit untuk mengejar penelitian PhD di Bali. Awalnya yaitu sekitar lima tahun lalu, saya ke Bali untuk belajar gamelan secara intensif di sebuah desa dan selama saya tinggal di sana, saya sempat mengunjungi sebuah toko kaset dan membeli album Navicula – Alkemis. Saya lalu mendengarkan kaset itu berulang-ulang dan saya benar-benar kecanduan! Biarpun saya selalu tertarik kepada musik Underground dan Indie (Saya menganggap diri saya selamanya anak grunge!). Rasanya seperti mendengarkan musik di jaman SMP. Musik mereka memang grunge, tetapi bagi saya lebih dari itu. It was just great rock n’ roll! Momen itu memacu saya agar memiliki cara untuk kembali datang ke Bali. Beruntung setelah melewati ujian doctoral, saya menerima beasiswa Fulbright untuk membiayai penelitian baru dan saya putuskan untuk datang ke Bali sampai sekarang.

 3.  Latar belakang apa yang membuatmu meninggalkan Amerika di saat banyak orang Indonesia bermimpi untuk pergi atau tinggal di sana?

Yah seperti kata pepatah, rumput tetangga selalu lebih hijau. Saya dibesarkan di Amerika.  Mungkin saya gagal untuk menghargai negeri saya sendiri seperti seseorang dari luar. Saya juga meninggalkan Amerika Serikat sebelum Obama terpilih sebagai Presiden. Jadi saya punya perasaan yang cukup pahit tentang keadaan bangsa pada waktu itu. Namun saya sangat optimis akan perubahan-perubahan positif yang Obama bawa (baik untuk warga negara Amerika dan dalam hal kebijakan global). Sebenarnya masih ada beberapa masalah sosial utama di Amerika Serikat yang realitanya  masih disangkal dan diabaikan oleh Media Internasional. Banyak orang Indonesia yang belum pernah mendengar tentang “dark underbelly” dipicu oleh masalah tunawisma, rasisme, narkoba, perawatan kesehatan dan kurangnya jaringan keluarga. Amerika adalah negara yang sangat kaya, namun mirip seperti di Indonesia dimana banyak kekayaan yang dikuasai oleh beberapa orang “besar.”

Sejak S1 saya sudah beberapa kali meninggal Amerika dan saya cukup nyaman tinggal di luar negeri. Saya pikir saya mungkin bisa membuat rumah di mana saja, asalkan saya bisa mendapatkan sepeda, sebotol bir dan sebuah iPod J. Saat ini, Indonesia terasa seperti rumah kedua bagi saya. Ini akan menjadi sangat sulit untuk ditinggalkan.

4.  Setelah sekian lama berada di Pulau Dewata, seperti apa pandangan kamu akan musisi indie di Bali? Nilai-nilai apa yang dapat kita cermati dari proses kehidupan berkesenian di sana?

Dalam penelitian, saya telah berfokus pada musisi, manajer band, sponsor, wartawan, produser rekaman, sound engineer, roadie, pemilik venue maupun anggota tim pendukung informal yang terdiri dari keluarga personel band, penggemar dan teman-teman. Untuk membuat musik Indie adalah sebuah kerja keras dan sangat tidak menguntungkan secara finansial. Jadi dalam penelitian, saya bertanya kepada berbagai pelaku, “Apakah sepadan yang telah mereka lakukan terhadap pilihan  bermusik Indie?”. Ini menjadi fokus penting dari seluruh penelitian saya.

Ketika seniman Indie bertemu selama latihan, pertunjukan, jadwal rekaman, kegiatan promosi, tur dan nongkrong, secara kolektif mereka menentukan dinamika scene keseluruhan dan kandungan nilainya. Mereka menetapkan batas-batas dan mulai menentukan kepentingan dalam kehidupan mereka. Etika kerja adalah keyakinan yang paling menonjol dari mereka. Walaupun tujuan profesional berbeda-beda, namun semua menghargai kode kemerdekaan artistik yang mereka sebut etika DIY (do-it-yourself). Mereka harus bekerja keras untuk mengejar visi artistik dan professional.. “Indie” adalah sebuah kehormatan bagi banyak seniman. Ini adalah sebuah indikator yang kuat dimana konglomerat hiburan tidak dapat mempengaruhi visi artistik mereka.

A) Integritas Artistik dan Genre: Mempertahankan kemerdekaan artistik berarti mempertahankan ide dan integritas artistik sebagai parameter estetika yang berkembang menjadi ideologi aliran (genre). Dari sini muncul kriteria estetika yang dipakai untuk menilai apakah seorang seniman musik dianggap berada di wilayah Indie atau tidak. Genre blues, grunge, hard rock, death metal, grindcore, punk, hardcore, rockabilly, psychobilly, dan electronica hidup berdampingan dalam scene Indie dikarenakan bertentangan dengan mainstream musik. Wilayah Indie memiliki resistensi umum di bawah nama “pop” yang dianggap sebagai pengenceran dan komersialisasi.

Ideologi Indie juga ditemukan melalui tekstur lirik dimana seniman harus terlibat secara intelektual dengan dunia sosial mereka dan tertarik dalam memfasilitasi perubahan yang positif. Kebanyakan musisi Indie menawarkan rekaman yang mengusung kritik sosial dalam lirik. Para seniman Indie ini mengambil isu-isu degradasi lingkungan, korupsi politik, penggunaan narkoba, seksisme, rasisme dan kekerasan. Scene indie tidak puas dengan lagu-lagu cinta yang tidak bersemangat dan mendominasi siaran televisi dan radio di Indonesia. Mereka berharap dari lagu-lagu Indie ciptaan mereka dapat hadir memberikan komentar intelektual dan mendidik pendengar.

B) Kreativitas: Walaupun scene Indie mengharapkan artis untuk memenuhi kriteria tertentu berdasarkan standar genre, namun mereka juga cenderung menciptakan nilai estetika kreatif daripada ketaatan pada gaya tertentu. Seniman Indie harus menciptakan sesuatu yang baru atau berbeda sebagai sebuah alternatif yang dapat diidentifikasi melalui hasil akhirnya di masyarakat.

C) Bakat: Scene Indie memiliki kebanggan dengan kualitas pertunjukan Indie. Mereka sering berkomentar atas tingkat keahlian atau bakat dari vokalis, gitaris, bassis, drummer dan pemain lain, serta teknisi sound dan produsen. Ini adalah sebuah bentuk movitasi yang diterima siapapun di sana.

Seniman Indie juga punya kesibukan dalam menciptakan diferensiasi dan menjaga tatanan pemikiran yang menjadi alur berkesenian. Komunikasi adalah sebuah sarana setiap insane musisi untu membicarakan potensi positif dan negatif terhadap intergritas artistik yang dibangun. Nilai-nilai inti adalah sekat yang tidak mudah dilewati begitu saja.

5.  Atas perspektif Etnomusikologi, seperti apakah kamu memandang berkesenian itu? Dan apa keuntungan yang kamu nikmati sebagai seorang Etnomusikolog? Apakah kapasitas ini memberatkan atau meringankan logika berpikir manusia terhadap musik?

Etnomusikologi didefinisikan oleh Alan Merriam sebagai studi tentang musik dalam budaya. Kemudian dia merevisi definisi dan menyebutnya studi musik sebagai budaya. Definisi ini  hadir adalah agar para sarjana dapat bekerja dengan baik bahwa ahli etnomusikologi memiliki ketertarikan lebih dari sekedar suara musik namun membuat penelitian akan konteks musik yang berlangsung.  

Saya setuju dengan salah satu pendiri bidang saya, John Blacking, bahwa musik adalah jenis komunikasi manusia. Musik adalah salah satu cara orang berkomunikasi satu sama lain, sama seperti kita berkomunikasi melalui bahasa lisan dan bahasa tubuh, kita berkomunikasi melalui praktik estetika, seperti musik, tari, seni patung, lukisan, dll. Musik tidak hanya mencerminkan aspek-aspek kehidupan sosial, tapi juga sebagai komunikasi transformatif.

Sebagai contoh yaitu jika seorang etnomusikologi ingin mengambil sebuah konser rock sebagai objek ruang kerjanya, dia tidak akan secara eksklusif memfokuskan pada suara yang dihasilkan oleh band (bentuk musik, timbre instrumental, dll…the sound itself). Dia akan memusatkan perhatian pada segala sesuatu yang lain yang bisa diamati dalam acara. Dia akan melihat kejenakaan pemain diatas panggung dan interaksi mereka dengan audiens, kemudian tingkat keterlibatan audiense secara verbal dan fisik serta tarian yang terjadi dalam pit. Dia mengobservasi lampu-lampu yang dipilih, bir yang dikonsumsi, obrolan di setiap jeda. Jika dia telah melakukan pekerjaan rumahnya maka dia juga akan membingkai konser dalam sejarah. Dia akan memikirkan tentang alasan untuk konser itu dan apa keuntungan dari konser itu. Bilamana ada di peristiwa biasa seperti launching album? Dia akan memikirkan tentang sejarah band, biografi personel band dan dia bisa pergi lebih luas mempertimbangkan konteks sosial-politik konser itu. Dengan kata lain, mungkin dia membingkai konser rock ini dalam konteks geografis dan bangsa.

Sedikit tentang metodologi: Metode ahli etnomusikologi biasanya berasal dari metode etnografi untuk mengumpulkan data kualitatif. Jadi misalnya, selama enam belas bulan terakhir saya melakukan penelitian di Indonesia (mulai Oktober 2008 dan selesai April 2010), saya telah mengikuti latihan band di rumah personel dan studio penyewaan, lebih dari 150 konser-konser, dan sesi rekaman di rumah-rumah produksi di Bali dan Jakarta. Saya menemani band indie berbasis Bali untuk lima buah tur di Jawa, membantu promosi acara sekaligus artis dan menghabiskan ratusan jam nongkrong dengan peserta scene. Saya melakukan wawancara dan bersama dengan konsultan meneliti berbagai bahan pembuatan produk musik dan kegiatan promosi, termasuk album, musik video, poster, stiker, t-shirt, dan promosi berbasis web media.

Melalui metode etnografi, para etnomusikolog berusaha untuk memahami pengalaman musik lengkap. Para etnomusikolog selalu mencari jawaban atas pertanyaan yang paling mendasar yaitu “Mengapa musik penting?”

6.  Kamu sering mondar-mandir Bali-Jakarta-Bali. Seperti apa perbedaan komunitas seni yang bisa kamu bandingkan antara Jakarta dan Bali?

Memang benar, saya datang ke Jakarta kira-kira sebulan sekali. Tetapi Jakarta bukan situs riset utama untuk disertasi ini. Kalau saya ada perjalanan riset ke Jakarta, itu biasanya saya lakukan saat menemani band dari Bali untuk tur atau saya ada wawancara dengan orang media atau orang dari label Independen yang berbasis di sana. Jadi saya minta maaf kalau tidak banyak yang bisa saya bicarakan tentang suasana komunitas seni di Jakarta. Saya benar-benar menikmati pertunjukan beberapa band Indie dan grunge terbaik berbasis di Jakarta. Yang saya pelajari adalah meskipun ukuran masyarakat seni Jakarta lebih besar, namun tantangan keuangan yang dihadapi adalah sama dengan musisi Indie di lingkungan perkotaan lain.

Saya ingin menyebutkan beberapa problem yang masih terus dihadapi musisi di Bali. Saat ini di Bali semakin banyak seniman, produser, manajer, sound, engineer dan kritik musik bekerja sebagai profesional dalam industri musik Indonesia, tapi Jakarta tetap menjadi pusat bagi industri musik Indonesia. Seniman berbasis di Bali masih berjuang untuk mengatasi pengertian bahwa musik mereka adalah “daerah” atau “kampungan”. Banyak label yang mengatakan bahwa mereka tidak bisa bersaing dalam hal kualitas atau profesionalisme dengan seniman yang berbasis di Ibukota. Hal ini berbeda dengan segelintir DJ (disc jockey) klub malam atau band Top 40 di Bali, band-band Indie umumnya masih memiliki pengecualian untuk mencari nafkah di dalam ranah pariwisata.

Pemilik tempat-tempat yang populer dengan turis masih mengklaim mereka lebih suka untuk menyewa band-band yang main musik yang akan mendorong tamu untuk minum sepanjang malam. Untuk ini, mereka biasanya memilih apa yang mereka gambarkan sebagai band-band “pesta” yaitu band reggae yang membangkitkan gaya hidup pulau periang atau band top-40 yang main hits terbaru dimana penonton bisa ikut bernyanyi. Akhirnya kesempatan tampil musisi Indie menjadi langka dan dari beberapa kesempatan manggung yang ada, mereka mendapatkan bayaran yang lebih sedikit. Di lain sisi, para musisi genre keras, seperti death metal atau grindcore pun menghadapi sulitnya menerima izin tampil di tempat-tempat lokal.

Produksi dan distribusi album masih mahal untuk semua band, kecuali yang paling terkenal, sama seperti halnya dalam urusan tur. Band Indie sering mengalami pergantian personel dan manajemen yang disebabkan oleh tingkat kesulitan mencapai keamanan finansial dalam industri kecil ini. Semua, kecuali beberapa musisi, harus mempertahankan pekerjaan harian, bermain paruh waktu sebagai musisi Top-40, bekerja di sebuah studio rekaman lokal, menjadi bartender atau memiliki bar atau kafe, freelance desain grafis atau mengembangkan karir dalam bidang yang lain untuk mendukung diri mereka sendiri dan keluarga. Situasi yang paling tidak nyaman bagi banyak seniman adalah dukungan para penggemar yang teramat sulit untuk membayar pertujukan musik mereka.

Tapi meskipun tantangan untuk membuat musik “on the fringe”, musik Indie tetap bertahan. Musisi Indie dan produser, manajer, humas, asisten, runners, dan roadies bekerja keras dan sering, tanpa dibayar untuk mengamankan dan mempromosikan acara-acara. Mereka mengumpulkan modal untuk merekam dan merilis album, membuka situs distribusi dan memproduksi merchandise untuk dijual ke distro lokal dan menjalin hubungan baik dengan kontak radio, stasiun televisi, majalah dan koran untuk liputan media reguler. Dedikasi mereka amatlah tinggi dalam mengatasi kesulitan-kesulitan pasar musik lokal dan Nasional. Tidak lain hal ini membutuhkan komitmen tingkat tinggi terhadap kelestarian dan pengembangan scene yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan tujuan akhir kesuksesan komersial atau finansial.

7.  Apakah media cetak dan elektronik di Indonesia memberikan dukungan penuh bagi musisi indie? Apa yang kurang dari penyelenggara media tersebut?

Musisi Indie menerima sedikit perhatian dalam halaman-halaman Majalah Nasional. Yang punya dukungan adalah media seperti Rolling Stone Indonesia, Trax dan Hai. Saya masih ingin melihat dari media-media lain di Ibukota. Dalam hal dukungan media lokal, saya benar-benar hanya bisa berbicara dengan kondisi di Bali. Beberapa stasiun radio lokal memang memiliki program musik Indie, biasanya seminggu sekali, tapi airwaves jelas didominasi oleh Pop Nasional dan Global. Kebanyakan band-band Indie sama sekali diabaikan oleh surat kabar lokal, mereka lebih memilih untuk menjalankan cerita tentang band pop dari Bali.

Untungnya, kita memiliki jenis media lain yang mendukung musisi Indie lokal. Beberapa majalah-majalah yang dimiliki dan didistribusikan secara lokal, seperti Bali Music Magazine; fanzine cetak dan online, seperti IndiGo! dan website fenomenal Musikator, yang dijalankan oleh mantan manajer  Superman Is Dead dan Navicula yaitu Rudolf Dethu serta personel mantan band Puppen yaitu Robin Malau yang mengangkat artikel, editorial, streaming audio dan video dan review tentang band, konser, dan tur Indie. Penulis hebat seperti Rudolf Dethu, Wendi Putranto (Rolling Stone) dan Aldo Sianturi juga, mempertahankan blog pribadi dan profesional yang benar-benar membantu para musisi Indie.

Popularitas situs sosial networking di Internet sangat mengungtungkan musisi Indie dimana penggemar, penulis dan artis musik indie berinteraksi fanatik melalui situs My Space, Facebook, dan Twitter. Mereka tidak hanya berbagi informasi gig atau membahas album favorit mereka, tetapi penggemar juga bisa berkomunikasi langsung dengan artis favorit mereka, yang mempertahankan profil aktif. Internet menjadi sumber yang berharga untuk mempromosikan kegiatan, album dan merchandise  serta memperkuat ikatan komunal. Jadi apa yang paling menarik, menurut saya, bahwa kita, sebagai seniman, produser, penulis, atau konsumen, tidak perlu menunggu untuk radio, televisi, atau pers cetak untuk mempopulerkan seniman ini lagi. Kita mengambil hal ini ke tangan kita sendiri dan menghindari media tradisional. Media menjadi DIY juga, iya kan?

8.  Sebenarnya apa yang menginsipirasi anak muda Indonesia memilih bermusik dalam jalur Indie? Apakah ini sekali lagi, budaya ikut-ikutan saja atau sebaliknya?

Saya berpikir dengan bagian kedua dari pertanyaan mengisyaratkan pada pemiliham istilah “Indie” oleh media mass, perusahaan-perusahaan besar (terutama perusahaan-perusahaan rokok dan telekomunikasi yang cenderung untuk hosting lomba di seluruh negeri untuk mencari bakat terbaik, berikutnya “Indie” band, yang sebenarnya adalah cara pemasaran untuk menargetkan demografis muda dengan produk mereka) dan industri hiburan populer. Ya “Indie” adalah istilah yang populer, dan bisa berpotensi kehilangan makna sebagai hasil. Tetapi orang yang bersemangat tentang etika di balik istilah pasti akan mempertahankan integritas, bahkan jika istilah itu sendiri menjadi tidak penting. Jauh sebelum orang menggunakan kata “Indie” ada orang-orang yang peduli tentang hal-hal ini.

Tapi saya tidak yakin saya mempunyai jawaban yang benar untuk bagian pertama dari pertanyaan ini. Benar-benar berbeda dari orang ke orang. Beberapa seniman mulai dengan minta band musik indie secara lokal, atau dari bagian dunia lain. Mereka memulai dengan bermain dalam cover band, memberikan penghormatan kepada para pahlawan musik mereka, dan kemudian mengumpulkan band, image, dan style mereka sendiri. Seniman lain tertarik untuk main indie karena mereka kecewa dengan mencekik kreatif dan selebriti-terobsesi industri hiburan nasional. Namun yang lain mengatakan mereka dipilih oleh musik; mereka tidak punya pilihan dalam hal ini. Tapi saya kira apa yang mereka semua miliki adalah bahwa ada sesuatu yang menarik bagi mereka, profesional dan musik, tentang jenis kebebasan berekspresi ditawarkan oleh musik indie.

9.  Bermusik sering dianggap jalan yang salah untuk hidup di Indonesia, karena dianggap tidak bisa memberikan “normal income” bagi kehidupan musisi? Seperti apa analisa anda untuk hal ini?

Nah, masalahnya adalah ini: kalau kita memeriksa jumlah seniman yang bekerja penuh waktu sebagai musisi maka daftar namanya akan sangat singkat. Saya tidak bisa berbicara atas tren luas di Jawa, tetapi di Bali, semua musisi mempertahankan semacam proyek atau pekerjaan sampingan sehingga mereka bisa mendukung keluarga mereka. Itu sebuah kenyataan. Tapi ini tidak harus menghalangi musisi Indie. Bahkan, fakta ini berjalan bersama cukup baik dengan etika kerja Indie dimana kita harus bekerja keras dalam semua aspek kehidupan. Jadi musik tidak boleh berbenturan dengan kewajiban keluarga atau adat kita. Tetapi kita juga tidak mesti berpikir bahwa kewajiban itu akan membatasi kemampuan kita untuk membuat musik. Saya benar-benar percaya bahwa seorang artis panggung bisa menemukan keseimbangan yang tepat. Sama seperti beberapa seniman yang seimbang bermain sama dengan beberapa band, artis Indie Indonesia bisa menyeimbangkan hidup musik mereka dengan usaha lain yang membantu mereka bertahan secara finansial.

10. Ketika kamu mendengar karya dari musisi indie dari Indonesia, apa yang membuat musik itu dapat diterima oleh dirimu?

Kalau boleh, saya ingin hanya menyebutkan beberapa seniman favorit saya: Nah, saya melewati SMP dan SMA pada 1990-an, dan seperti yang telah saya sebutkan, saya adalah penggemar grunge besar. Jadi band-band seperti Navicula, Besok Bubar, dan lain-lain dari scene grunge aktif di Jakarta, Bandung, dan Surabaya benar-benar menarik bagi saya. Saya cenderung untuk suka musik yang cukup berat–death metal hardcore, dll. Jadi saya bukan hakim yang baik untuk banyak band-band Indie Pop. Tapi ada beberapa band Jakarta yang saya benar-benar senang, seperti The White Shoes and The Couples Company, Tika & Dissidents, Bonita dan The Husbands dan Endah N Rhesa. Dalam hal band keras di tingkat Nasional, saya fans berat buat band Seringai, Burgerkill, Netral, Koil dan Naif. Saya tidak sabar untuk melihat Burgerkill dan Koil battle diatas panggung di Hard Rock Café, Bali, minggu depan!

Ada begitu banyak band-band berbakat di Bali, tapi saya harus menyebutkan beberapa yang menonjol secara profesional dan sebagai musisi dan yang telah membantu saya secara substansial dengan penelitian. Setiap orang bisa melihat SID sebagai contoh dari apa yang bisa dicapai lewat kerja keras dan ketekunan. Segala sesuatu yang mereka miliki saat ini adalah karena etika kerja mereka sendiri dan seberapa tinggi mereka membina hubungan baik dengan teman-teman dan penggemar. Navicula, tentu saja, serta Dialog Dini Hari (blues/folk proyek sampingan Dankie Navicula), sudah pasti menjadi fokus penting bagi penelitian saya. Bahkan saya berlomba menjadi penggemar Navicula terbesar dengan beberapa orang lainnya (sejauh ini, saya telah menonton Navicula manggung 50 kali).

Nymphea adalah band rock alternatif yang luar biasa. Performance Live mereka asik sekali. Sari adalah seorang vokalis mantap, saya bersumpah dia bisa melakukan apapun dari jazz ke opera jika dia ingin, tapi saya sangat senang dia memutuskan untuk nge-rock. Geekssmile adalah band rapcore yang membunuh saya setiap kali mereka main dengan cara lirik yang tajam dan politik, dan emcees yang kuat sekali. Pastikan untuk mengambil album kedua mereka, Upeti Untuk Macan Asia, akan dirilis segera. Saya akan lalai kalau tidak menyebutkan obsesi rockabilly / psychobilly di Bali dan The Hydrant dan Suicidal Sinatra sebagai pendiri genre secara lokal, teruskan untuk pack the house setiap bermain. Scared of Bums adalah act muda yang tagihan dirinya sebagai emo, tapi anak laki-laki ini memiliki selera untuk hardcore, kalau bertanya pada saya. Mereka benar-benar pemain solid dan dahsyat dalam panggun live. Mereka salah satu dari beberapa band di Bali yang memiliki basis penggemar fanatik juga, terutama kalau mereka bermain di Denpasar. Ada beberapa band metal menakjubkan di Bali saat ini: Trojan, Parau, Nagra, Lorong, semua fenomenal. Band Indie lain yang condong ke arah pop samping hal, seperti band Tol, Day After the Rain, dan King of Panda, memiliki following baik juga.

11. Apakah hasil risetmu nantinya akan dibukukan untuk Indonesia? Seperti apa persiapannya sejauh ini?

Sekarang saya menyimpulkan tahap penelitian, yang kemudian diikuti oleh satu tahun penulisan disertasi. Disertasi saya akan diajukan ke universitas saya di Amerika Serikat Juni 2011. Pada saat itu saya akan segera mengirimnya ke penerbit di Amerika Serikat untuk mendapatkan kontrak publikasi. Mudah-mudahan dalam satu tahun saya akan memiliki kontrak untuk sebuah buku. Adalah niat yang penuh, bahwa segera setelah saya telah menyelesaikan naskah buku, buku ini akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ini adalah sesuatu yang harus terjadi–tidak karena saya pikir buku ini akan menjadi alat pengajaran yang luar biasa bagi orang-orang dalam industri musik di Indonesia, melainkan, sebuah buku tentang musik di Indonesia harus tersedia di Indonesia sebagai cara untuk memuji dan berterima kasih kepada banyak orang yang telah membantu saya selama proses ini.

12. Pesan apa yang dapat kamu sampaikan kepada musisi Indie agar mereka tetap konsisten dengan nilai-nilai  yang dijalaninya?

Menjadi Indie, tentu saja, tidak hanya tentang menghindari kontrak dengan label besar. Indie adalah etika kerja keras dan ini adalah komitmen untuk meletakkan sesuatu yang berbeda ke dunia untuk membuat orang bertanya tentang konsep yang dipegang sebelumnya tentang seni, masyarakat, lingkungan, politik, dan lain-lain. Kerja keras, integritas, kejujuran adalah hal yang terpenting memilih sikap Indie. Label besar bukanlah musuh Indie (dalam kenyataannya, yang sangat beruntung telah menemukan cara untuk mempertahankan nilai-nilai ini dengan bekerja di dalam system. Musuh scene Indie adalah kemalasan, kepuasan dan status quo. Sebagai musisi Indie sebaiknya tidak berpikir untuk diri sendiri, itu pidato tanpa tindakan.

Dalam beberapa hal menjadi Indie adalah nilai yang sangat tua. Ini mengenai kebebasan. Penentuan nasib sendiri. Saya ingin berkata kepada semua seniman muda: Beradalah di atas segalanya, menjadi pemikir bebas dan aktivis yang konsisten, bukan hanya dalam musik yang Anda buat, tetapi dalam kehidupan sehari-hari. Dan ingatlah selalu masyarakat yang telah mendukung Anda. Jaringan sosial Anda sangat penting untuk apapun yang anda harapkan berhasil untuk mencapai melalui musik Anda. @2010 Aldo Sianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense