IMBAS INOVASI DISRUPTIF PADA RETAIL MUSIK

On 9 November, 2015 by Aldo Sianturi
Murah Belum Tentu Laku

Murah Belum Tentu Laku

Di penghujung tahun 2015, bisnis musik kembali menelan pil pahit akibat gempuran Inovasi Disruptif yang menghantam kanal tradisional di Jakarta. Inovasi Disruptif adalah inovasi teknologi, produk atau jasa yang membuat teknologi atau produk dominan yang sudah ada menjadi terganggu. Terganggu dalam artian eksistensinya terancam karena adanya teknologi, produk atau jasa yang baru tersebut. Secara umum terdapat perbedaan yang mencolok dalam hal harapan dari kebanyakan pemakai yang merasa diuntungkan.

Dua retail besar bernama Duta Suara dan Disc Tarra akan memangkas sejumlah toko dan mengakhiri bisnis retail musik untuk mencegah kanibalisme. Boleh dibilang, bisnis model kedua retailer tersebut menjadi obsolete dan perlu diakui mereka cukup nekat selama 2 tahun terakhir bisa bertahan pasca penutupan retail Aquarius yang terjadi di akhir tahun 2013 yang bagi sebagian orang dianggap parameter negatif. Untuk dapat memahami latar belakang permasalahan ini dengan jelas dan positif, maka pendekatan multi perspektif dari sisi B2B (Business To Business) dan B2C (Business To Consumer) sangat diperlukan. Cara pandangnya harus seimbang antara perspektif konsumen dan retailer. Tidak boleh timpang.

Kabar ini mencuat seminggu lalu setelah dipicu ulah para viralis yang mengunggah foto Duta Suara yang sedang bersiap menghentikan operasional outlet Plaza Senayan. Perlu diketahui bahwa menutup outlet bukanlah pengalaman pertama bagi Duta Suara, karena sebelumnya perusahaan ini telah mengakhiri Beatz (Cilandak Town Square & eX Plaza Indonesia) dan yang sekarang masih beroperasi adalah Nu Traxx. Begitu juga dengan Disc Tarra yang telah menutup Societe (retail yang diposisikan untuk pasar premium) dan mengakhiri sistem waralaba retail yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia.

Realita ini memiliki nilai berita yang besar dan telah membuat media mencari konfirmasi yang paling akurat. Alasannya sederhana, karena selama ini, Duta Suara dan Disc Tarra adalah retail musik legendaris yang berperan besar menjadi penyedia kebutuhan produk musik, aksesoris musik dan memiliki hubungan emosional dengan generasi yang hari ini berusia di atas 25 tahun ke atas. Sementara untuk usia di bawah 25 tahun, berita penutupan ini tidak digubris, karena mereka sama sekali tidak mengenal produk fisik dan mata rantai retail sejak lahir ke dunia. Dan ada juga generasi yang sejak lahir cuma mengenal produk bajakan di Indonesia. Mereka malah lebih tidak peduli lagi.

Duta Suara sekarang Tuna Suara (Plaza Senayan)

Duta Suara sekarang Tuna Suara (Plaza Senayan)

KEJAYAAN RETAIL MASA LALU Di jaman keemasan produk fisik modern, sejak tahun 80an, 90an dan awal 2000an, retail musik seperti Duta Suara, Disc Tarra, Berlin Musik, Bulletin, Aquarius, Harika Music, MusikPlus, Golden Precision, World of Music, TMC memiliki kompetisi yang super ketat. Dan sejak awal mereka memiliki 3 bentuk perang yaitu Perang Harga, Perang Geografis dan Perang Layanan Ekslusif dan yang bisa bertahan hanyalah yang memiliki daya kompetisi yang sangat tinggi.

Para retailer mencari cara menjadi debitur untuk mendapatkan pembiayaan dengan bunga kecil dan fasilitas grace period (masa tenggang) yang panjang, menempati area utama di berbagai pusat perbelanjaan, merekrut banyak pegawai cerdas, memberikan gimmick dengan menyediakan Listening Station dan melebarkan cakupan bisnis sebagai importir album yang tidak dirilis oleh perwakilan label manca negara di Indonesia. Rata-rata mereka mengimpor album rilisan lama (back catalogue) atau rilisan regional (Jepang, Korea, Hong Kong) yang punya riwayat sehat dalam ukuran penjualan.

Di masa lalu, retail juga kerap menjadi mitra kerja perusahaan rekaman sebagai arena meet and greet atau mini showcase yang bertujuan untuk meningkatkan angka penjualan album. Perjalanan bisnis retail juga tidak semulus imej yang ditelan masyarakat, sering sekali retail berada dalam situasi tidak harmonis dengan perusahaan rekaman bila memiliki tunggakan yang melewati periode jatuh tempo. Namun posisi retail yang berbasis B2C (Business To Consumer) membuat semua perusahaan rekaman pada akhirnya bersiasat untuk mencari jalan tengah agar tidak kehilangan jalur distribusi yang konsisten.

Karena memegang posisi krusial di bisnis musik, retail sangat percaya diri sebagai arena promosi yang paling tepat bagi strategi pemasaran atas produk musik dan untuk meningkatkan raihan penjualan album, brand awareness dan brand equity. Retail kerap mengambil keuntungan lain atas penempatan periodik In-Store Promo seperti hanging mobile, floor sticker, window static, standy, wobbler dan lain-lain.  Bisnis berbasis Brick and Mortar otomatis sudah pernah “menang banyak” beberapa tahun lalu dan sekarang sedang digoyang oleh para pebisnis berbasis Click and Mortar yang datang dari generasi masa kini dan miskin pengalaman retail. Namun mereka diuntungkan oleh pasar yang bersenyawa dengan jaman. Di bagian bawah adalah pengertian atas dua hal yang berbeda tersebut:

a). Brick and Mortar adalah proses penjualan atau sistem bisnis dimana konsumen melakukan transaksi (memilih, membeli, dan mendapatkan barang) pada toko-toko atau dealer-dealer dengan mendatangi tempat secara langsung.

b). Click and Mortar adalah proses penjualan atau sistem bisnis dimana konsumen melakukan transaksi (memilih dan membeli barang) melalui internet kemudian melakukan pengambilan barang dengan mendatangi tempat (toko atau dealer).

Digital Music Services (Current Disruptor)

Digital Music Services (Current Disruptor)

SUMBER DISRUPSI BISNIS MUSIK Selama ini, rasanya mulut sudah berbusa-busa menjelaskan latar belakang kenapa bisnis album fisik tidak seksi lagi di Indonesia. Untuk mengerti apa yang terjadi di Indonesia maka alat ukur yang dipakai tidak usah sampai ke negara lain, karena semua negara punya masalah yang saling berbeda. Di Indonesia musuh utama kehancuran produk musik bukan karena Pembajakan tetapi Mentalitas Gratisan yang dimiliki penduduk Indonesia. Pembajakan adalah sebuah pengkondisian namun Mentalitas Gratisan adalah kenyataan.

Hadirnya para pebisnis musik berbasis digital tidak bisa disalahkan. Mereka malah membantu kebutuhan transparansi yang selama ini tidak sepenuhnya dibuka oleh manusia. Sistem memudahkan dan menjawab hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Meskipun di Indonesia banyak yang sudah merasakan layanan penjualan digital namun tetap saja angka penjualan belum bisa tinggi bila dibandingkan dengan populasi. Dalihnya ada saja misalnya bahwa bentuk pembayaran masih terbatas dengan kartu kredit. Namun di area streaming, 99% pengguna Guvera hari ini saja yang gratis. Ini kondisi asli negara ini. Para pemimpin opini harus terus mengedukasi pasar bukan cuma menciptakan pasar saja.

Berikut adalah tanda-tanda perubahan yang sudah disampaikan atas hasil riset McKinsey terhadap sektor TMT (telecoms, media, and technology) melalui 6 Digi-Shifting:

  1. Device shift – from PCs to mobile/touch devices.
  2. Communications shift – from voice to data and video.
  3. Content shift – from bundled to fragmented. 
  4. Social shift – from growth to monetization.
  5. Video shift – from programmed to user-driven. 
  6. Retail shift – from channel to experience.

Bisnis musik di negara ini telah dirusak dan sekarang diperbaiki oleh manusianya sendiri. Negara ini didominasi oleh manusia hipokrit alias munafik. Mereka mendukung musik hanya sebatas menonton dan mendengar secara cuma-cuma saja. Saya tidak percaya kalau ada orang yang sedih karena retail musik tutup. Belanja saja mungkin terakhir 2 tahun lalu terus kenapa sedih? Boleh saja disebut persoalan ekonomi menjadi salah satu indikator kecilnya angka penjualan, tetapi kegiatan distribusi produk musik yang berlangsung puluhan tahun di berbagai provinsi di Indonesia juga tidak mengalami peningkatan yang signifikan dalam konteks angka.

Kebanyakan, masyarakat  hanya peduli kepada musik semata dan latah mendukung pamor artis bilamana ada unsur keartisan yang dominan. Jarang yang peduli dengan kegiatan di hulu seperti rekaman, labelisasi, lisensi, distribusi. Apalagi kabar para pembajak yang notabene tidak tunduk kepada aturan main yang ditetapkan oleh Pemerintah dengan mudah melenggang atas kemampuannya untuk mendapatkan jaminan keamanan dalam pola siapa di balik siapa. Efek jera adalah nonsense di muka bumi ini.

Praktek negatif seperti itu tidak pernah dihitung dalam skala krisis panjang. Bentuk penyelamatan yang murni dan ditunggangi jadi terkesan sebatas seremonial saja. Unsur keartisan yang menjadi titik kagum massa telah membuat para pebisnis musik menjadi larut dalam imej yang dielukan selama ini. Mereka lupa kalau nilai MoU (Memorandum of Understanding) di bisnis musik berbanding tidak sejajar dengan bisnis non hiburan seperti properti, alat kesehatan, agraria, mineral dan media. Nilai kerjasama di bisnis musik jarang sekali menyentuh angka ratusan Milyar apalagi Trilyun, tapi gaya para pebisnis musik terkadang melebihi para pebisnis lain.

Karena terlalu asik sendiri maka para pebisnis musik pun luput melihat aktivitas Inovasi Disruptif yang lebih dahulu menghantam Minyak Tanah menjadi Gas, Pos dan Giro melalui fasilitas surat elektronik (E-Mail). Mereka baru sadar ketika Kentucky Fried Chicken Indonesia mendisrupsi ekosistem bisnis rekaman. Ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan dalam hal ini. Yang ditinggalkan adalah retail musik tradisional, mereka tidak menjadi mata rantai rilisan baru yang sepenuhnya secara ekslusif hanya tersedia di ribuan outlet tersebut. KFC tidak bisa disalahkan karena mereka pebisnis yang punya daya saing tinggi dan apapun akan dilakukan untuk memenangkan market share di Indonesia.

Otomatis retail musik tradisional hanya sebagai etalase untuk memajang rilisan artis manca negara dan Indonesia yang kurang beruntung masuk ke KFC, tidak mau ada di KFC atau dirilis agar yang penting ada di Toko CD. Sementara booming E-Commerce pun belum bisa mengambil alih peran toko yang buka dari jam 10 pagi ke 10 malam. Populasi pembeli di E-Commerce adalah yang mencari fashion dan gadget atas harga yang berbeda jauh dengan retail di ITC yang tersebar. Disrupsi tidak terhindarkan karena tidak ada juga perusahaan yang percaya untuk menginvestasikan uang dalam jumlah besar ke distribusi musik lagi.

Terlalu banyak celah kehilangan ketika para pebisnis musik melakukan presentasi dan due diligence dengan banyak perusahaan yang awalnya berkenan untuk menjadi pemodal. Situasi yang tidak kunjung selesai ini akhirnya dievaluasi ulang dan mau tidak mau mengambil korban yang paling lemah dalam pilar industri yaitu distribusi. Mereka harus berhitung untuk membayar beban operasional seperti gaji karyawan, bonus karyawan, pajak reklame, beban angkut barang, biaya sewa tempat, biaya distribusi. Perubahan ini sebaiknya tidak diharapkan dengan gaya lama lagi seperti menunggu kapan badai berlalu agar bisa berbisnis dengan cara konvensional lagi.

Atas apa yang terjadi telah terjadi banyak perubahan di pasar atas perilaku konsumen dan perilaku pesaing. Para disruptor yang akan memenangkan pertandingan adalah yang berbasis aplikasi karena hanya membutuhkan kurang dari 5 tahun untuk menjadi Start-Up di posisi lima besar. Para pebisnis musik jangan larut dengan dramatisme yang diciptakan para pecinta produk fisik di media sosial. Karena sesungguhnya karakter mereka bukan sebagai pembeli beragam rilisan produk musik yang selama ini terpajang. Ini adalah era dimana kita mengamati Disruptif Inovasi lebih dekat lagi seperti LINE atau WhatsApp mendisrupsi Perusahaan Telekomunikasi, Go-Jek dan Uber mendisrupsi Perusahaan Transportasi, iTunes, Deezer, Spotify mendisrupsi Retail Musik dan akan semakin banyak ke depan. Selamat datang di arena Inovasi Disruptif! @2015/AldoSianturi/Photo: Special

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense