I WAYAN TUGES ” SANG PEMAHAT KEAJAIBAN”

On 4 January, 2014 by Aldo Sianturi
IWT

Gitar berukuran besar hasil karya Guru I Wayan Tuges

Bali selalu membuat saya kembali dan kembali. Di bulan November, saya mengadakan pertemuan bisnis dengan 2 perusahaan musik di Bali yaitu Aneka Record dan Maharani Record dan setelah itu saya dijemput oleh Bembi Dwi Indrio M penulis buku Ubud: The Spirit of Bali yang meluncur dari Ubud untuk membawa dan menyambangi rumah I Wayan Tuges. Beliau dikenal sebagai seorang pembuat dan pemahat gitar premium yang lahir di Bali pada 7 Oktober 1952. Meski beliau tidak bisa bermain gitar tapi atas ketekunan dan pemahaman yang baik, maka gitar buatannya dinilai sebagai barang investasi jangka panjang. Sontak; saya langsung teringat kepada sebuah bacaan yang dirilis oleh Elex Media Komputindo pada tahun 2008 yaitu “Kisah Anak Bali: Wayan si Pemahat”, penulisnya bernama Riitta Thezar.

IWT2

Sepanjang jalan menuju Guwang (Sukawati), saya membayangkan keindahan seni pahat Bali yang membutuhkan kesabaran dalam proses pembuatannya dan begitu tersohor di seluruh dunia. Seperti ada korelasi dengan buku tersebut dan informasi mengenai I Wayan Tuges sangat mudah diketahui melalui mesin pencari internet. I Wayan Tuges, Gitar dan Blueberry sudah diapresiasi dan dikenali khalayak banyak di Kanada, Amerika dan Eropa. Bahkan sewaktu Indonesia menjadi tuan rumah bagi KTT APEC 2013,  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memainkan gitar bermerek Blueberry dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Presiden Rusia yaitu Vladimir Putin yang berulang tahun dan memiliki tanggal kelahiran sama dengan I Wayan Tuges. Di dunia ini tidak pernah ada sebuah kebetulan dan yang ada hanya kebenaran. Simak videonya di https://www.youtube.com/watch?v=Fe9dtJrJWyY

IWT3

Ada kehidupan di setiap gitar Blueberry

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari Denpasar, akhirnya kami tiba di toko gitar bertuliskan Blueberry. Suasana damai sangat kental terasa ketika melalui pintu samping, kami dipersilakan masuk ke pekarangan rumahnya dan kami bisa langsung bertemu dengan I Wayan Tuges. Sejenak, sosoknya mengingatkan saya kepada Pak Jokowi. Kalem dan bersahaja. Setelah berjabat tangan, kami masih harus menunggu beliau meladeni seorang gitaris dari Malaysia. Di dalam ruangan yang panjang, puluhan gitar terpanjang indah dengan beragam ukiran bermotif ular, monyet, bunga, harimau dan burung. Bukan cuma motif saja yang penting saya sampaikan kepada dunia, bahwa Blueberry telah memiliki varian produk seperti double-neck dan acoustic/electric guitar yang memiliki karakter suara yang kompetitif. Bahan dasar gitar menjadi detail utama, itulah sebabnya pilihan kayu jatuh kepada kayu cedar, spruce, black tasmanian wood dan rose wood. Musik untuk didengar dan untuk memastikan bahwa suaranya bagus, saran saya anda harus datang menemui beliau.

IWT4

Menyetem Gitar Dengan Mobile App

Saya mengikuti kemana beliau pergi dan  sangat terperangah ketika melihat dia membuka Mobile App sambil menyetem senar pada gitar sebelum dimainkan. Jarang sekali saya melihat seorang kakek mempergunakan aplikasi yang tidak lazim. Inilah karakter manusia yang bukan anakronisme, beliau memanfaatkan teknologi untuk mempermudah banyak hal. Saya kagum dan tidak sabar untuk mengenalnya lebih dekat. Hari semakin gelap, namun saya tetap berharap untuk dapat memiliki waktu barang sejenak dengan I Wayan Tuges, apalagi tepat di atas mejanya; saya melihat buku Dawai Dawai Dewa Budjana yang ditulis oleh Bre Redana (Wartawan Senior). Profil beliau ada diantara buku berhalaman tebal itu.

IWT5

Gitar sebagai medium pelestari satwa langka

Saya tidak merasa terlambat mengenal beliau. Memang baru sekarang saya waktu bagi saya untuk dapat berinteraksi langsung dengannya. Saya yakin bahwa waktu saya tidak akan banyak bila bertemu dengan insan seniman di belahan dunia manapun dan itulah mengapa saya meminta tolong Bembi untuk merekam pembicaraan saya dengan I Wayan Tuges. Ditemani oleh sang istri, perbincangan kami semakin seru dan saya juga memainkan dan menyanyikan sebuah lagu untuk beliau. Beliau menyampaikan juga latar belakang bisnis musik semenjak bertemu dengan Danny Fonfeder berkebangsaan Kanada yang menjadi inspiratornya.

Acoustic/Electric

Acoustic/Electric

Seperti layaknya pertemuan pertama, begitu banyak pertanyaan saya seputar latar belakang kemampuan natural yang dimilikinya dan menurut saya dari sisi bisnis musik, I Wayan Tuges memiliki kepercayaan bahwa musik tidak pernah mati. Di saat bisnis rekaman sedang peyot, justru beliau hijrah dari seorang pemahat batu dan patung menjadi spesialis pemahat untuk gitar. Perpaduan keahlian ini adalah modal utamanya bermetamorfosa dan proses perjalanan perubahan itu sudah tentu tidak sepele. Ini adalah gelora semangat untuk para musisi yang merasa bahwa dunia musik sudah berakhir. Video pertemuan saya dengan I Wayan Tuges dapat dilihat di https://www.youtube.com/watch?v=BtcGtNCg2Mk&feature=youtu.be

Kehidupan I Wayan Tuges sangat dinamis, pembawaan yang ramah dan penuh respek membuka pintu lebar bagi siapapun untuk mempromosikan apa yang dilakukannya bersama dengan tim kerja. I Wayan Tuges sangat pantas disebut Guru. Dia konsisten menjalankan apa yang dia kuasai dan dengan analisa masa depan yang baik dia melakukan manuver dan berusaha melepaskan diri dari perspektif monotonisme. Bahkan adaptasi yang dilakukan seperti aktif mewartakan kegiatan paling anyar melalui platform media sosial adalah bukti harapan yang dimiliki dan ditularkan oleh beliau kepada seluruh anak muda agar tidak kalah sebelum berperang. Saya sendiri juga berencana untuk memiliki gitar karya beliau untuk menjadi sebuah media unik dalam menyampaikan pesan kecintaaan terhadap musik@2014/AldoSianturi

Visit: Blueberry Guitars “Crafted For Sounds” 

Address: Jl. Baruna No. 5, Guwang – Sukawati, Gianyar, Bali, 80582, Indonesia

Phone: +62361298217 | Mobile: +6281558101135 | Website: www.blueberryguitars.com | E-mail: wayantuges@yahoo.com 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense