HOW MACBETH SUPPORTS MUSICIANS WITHOUT MONEY FACTOR

On 7 May, 2014 by Aldo Sianturi

Yopy

Saya sedang berada di kantor Macbeth di Bali. Setiap berada di Bali, saya berusaha mampir untuk berdiskusi ringan dengan teman-teman yang ada di industri sepatu. Kedatangan saya kali ini cukup berbeda karena pembicaraan lebih mendalam seputar bisnis musik dengan Daniel Yopy, orang kunci yang telah mengawal brand ini sejak tahun 2006 bersama Tim Russo. Ada satu pertanyaan yang akhirnya terjawab yaitu kultur antara Macbeth sebagai brand lifestyle dengan musik dan anak muda. Bagi para sneaker freaker, Macbeth adalah sebuah brand yang disukai produknya plus global attitude-nya.

JC2

Pada tanggal 5-8 Desember 2013, saya diundang oleh Macbeth untuk mengisi panggung “Macbeth Eleven Years Strong – Music Festival” menyebarkan virus pemahaman akan distribusi digital musik. Di panggung itu juga selama 3 hari beragam band tampil bergantian diantaranya ada Parau, Melodrama, Keparat, Revenge The Fate, Killed By Butterfly, Matius 3:2, Flip, No Footure, dll. Selama berada di area JakCloth 2013 tersebut, saya ingin mengetahui seperti apa brand ini bekerjasama dengan semua nama yang ada. Apakah murni dengan bahasa uang atau bahasa emosi?

IMAG1608

Akhirnya semua itu terjawab hari ini oleh Yopy yang saya temui di sela kesibukannya mengeksekusi beragam rencana yang bermuara kepada angka penjualan produk yang harus selalu memiliki grafik menggunung. Yopy menyampaikan bahwa hubungan baik yang terjadi antara dirinya sebagai wakil dari Macbeth dan semua musisi dan manajemen artis adalah kunci dari kerjasama panjang selama ini. Transparansi adalah kunci lain yang menjadi perekat keterbukaan komunikasi diantara mereka dengan musisi. Kedua belah pihak mendapatkan keuntungan dalam berbagai bentuk dan berjalan bukan cuma sekali tetapi berulang kali. Yopy juga menambahkan bahwa ketika kami tahu core consumer kami siapa dan kami berusaha untuk menjaga dan membuat mereka nyaman. Ada garis jelas bahwa Macbeth di sneaker busines bukan music business, tapi memiliki irisan yang sama. Kita ingin mendorong setiap orang menjadi kreatif.

Keterbatasan memang menjadi situasi sementara yang belum bisa diadopsi semua oleh Yopy dan tim kerjanya. Tetapi secara paralel, Macbeth merencanakan beragam bentuk program yang bisa meningkatkan nilai berita, nilai promosi dan nilai ekonomi ekosistem seni dalam jangka panjang. Yopy juga selalu mengukur bahwa dampak dari segala aktivitas yang dilakukan harus juga berpengaruh positif kepada loyalis Macbeth yang notabene anak muda. Tugas para aktivator Macbeth di Indonesia tidak mudah, memasuki usia 12 tahun di dunia, mereka harus lebih jeli menciptakan Image Segment dan Market Segment yang dinamis. Yopy yang berasal dari Bandung dan sejak tahun 2006 bekerja penuh memperkenalkan Macbeth di Indonesia mengetahui jelas bagaimana mengembangkan angka penjualan dan potensi yang belum dieksekusi.

Pendekatan yang harus selalu dijaga adalah pendekatan emosional dengan semua partner baik yang serius maupun kasual. Ketika saya mengukur SWOT dari Macbeth, ada beberapa faktor yang menyelematkan brand ini sepanjang tahun ini yang utama adalah reputasi historis, tetapi brand ini tidak boleh salah dalam mengeksekusi program-program radikalnya. Karena banyak brand yang juga sedang mengikuti dan menempel arus liar Macbeth dan mencari celah kelengahan untuk bisa dijegal. Kompetisi ini harus jeli dilihat dari mulai kualitas produk, varian produk, harga produk, promo iklan dan kanal distribusi. Macbeth harus berusaha menutup kompetisi yang tidak mungkin diikuti oleh brand lain. Evaluasi atas kontrol inventaris yang akan membuat Macbeth menguasai market share dengan persentase tinggi. Salut untuk Macbeth Indonesia!@2014/aldosianturi/Photo: Aldo Sianturi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense