JAZZ IS THE NEW TRUST

On 27 December, 2011 by Aldo Sianturi
“Herbie Hancock was inducted as a UNESCO Goodwill Ambassador for Intercultural Dialogue, in a ceremony at UNESCO headquarters on July 22, 2011. The visit to Indonesia and Cambodia is part of his role as UNESCO Goodwill Ambassador.
 
The purpose of the visit is to promote intercultural dialogue in Indonesia and Cambodia. In Indonesia Herbie has visited Borobudur and some industries in Yogyakarta and one of the state elementary schools. Quoting how the U.S. Ambassador to UNESCO David Killion described Mr. Hancock in the induction ceremony, he is one of America’s very best cultural diplomats. As a performer, a teacher and a public speaker, he uses the language of music to transcend cultural and other barriers to promote peace and understanding. 
 
Ladies and Gentleman, please join me welcoming Mr. Herbie Hancock.”

Kalimat di atas adalah skrip yang saya bacakan saat memperkenalkan profil Herbie Hancock di Pusat Kebudayaan @america di Pacific Place, lantai 3 tepatnya Tanggal 23 Desember 2011. Kehadiran saya di sana tidak lain atas undangan dari Swiny, Liza dan Anita yang baik hati. Sampai acara berlangsung, saya masih menerima pertanyaan dari beberapa music friends mengenai kedatangan The Legendary Herbie Hancock ke Indonesia. Nada yang sama dalam pertanyaan yaitu perihal musisi jazz senior peraih 14 Grammy Awards ini tampil dalam konser tunggal di Indonesia.Kedatangan Hancock memang menjadi pembicaraan mutlak bagi para peminat musik jazz dan musisi jazz sekaligus. Jam terbang yang dimiliki memang telah menempatkan profilnya menjadi “Musisinya Musisi”. Sebuah kewajaran melihat antusiasme yang meluap dari setiap pribadi insan musik Indonesia.

Menilik kepada Siaran Pers yang ditampilkan di akun @unic_jakarta via Scribd.com atas lawatan Herbie Hancock ke Jakarta, saya memahami agenda dan target komunikasi yang ingin dikompilasi oleh beliau. Berikut adalah potongan isi siaran pers tersebut:

“On the 23rd of December in line with remembering 7 year of Tsunami Aceh, in-cooperation with The Indonesian Institute of Science (LIPI), UNESCO, The Rolling Stone Magazine and Java Jazz Production, Mr. Herbie Hancock will be participating as speaker on a half day discussion forum/talkshow on “The Role of Music in Building Culture of Disaster Awareness Among Youth in Indonesia”. 
 
The objectives of the talk show are:
• Socialize and sensitize the role of music in building the culture of youth in general and specifically for culture of disaster awareness and preparedness
• Promote the “non commercial” disaster awareness music that has been produced by The Indonesian Institute of Sciences (LIPI) and the 15 musicians
• Expose the role of UNESCO goodwill ambassadors to the Indonesian youth.
• Appreciate and motivate Indonesian musicians, especially those who are very concern onhazards and disasters in Indonesia, by having the chance to perform and express their musicwith Mr. Herbie Hancock, a world class musician.

Sayang sekali, waktu yang disediakan adalah sangat singkat, sehingga saya menilai isi dari diskusi dengan pelaku musik Indonesia tidak mencapai postur maksimal bila merujuk kepada judul pertemuan yaitu “The Role of Music in Building Culture of Disaster Awareness Among Youth in Indonesia”. Tidak ada yang disalahkan, namun cukup disayangkan. Dapat dimengerti pembicaraan seputar judul tidak dapat diindahkan oleh karena kerinduan yang amat sangat antara pengagum dengan penggagas dalam konteks gratis. Jarang sekali hal ini terjadi. Pertemuan kemarin itu memang tidak cocok juga diberikan judul seperti itu, karena sifatnya sangat kasual, pop dan santai. Namun dengan kebijakan yang dimiliki Herbie Hancock, saya yakin beliau bisa memetik dan menghimpun keresahan yang dipaparkan oleh beragam penanya dalam kunjungan singkat ke Indonesia.

Saya yang setelahnya duduk persis di bawah Herbie Hancock bersama sahabat Denny Sakrie, mengikuti satu per satu sekuen dengan seksama. Di kepala kami berkecamuk banyak hal yang ingin dikomunikasikan secepatnya kepada beliau mengenai kondisi lanskap musik di Indonesia baik dari tatanan populer dan non populer. Saat menuju ke @america saya sempat menghubungi Musisi Indonesia yang bernama Iwan Harahap yang berdomisili di Medan, Sumatera Utara. Beliau adalah seorang Etnomusikolog Indonesia yang juga telah merilis album di belahan dunia lain dengan nama Suarasama. Saya mendiskusikan pasal kedatangan Herbie Hancock ke Indonesia. Dia begitu antusias dan mengingatkan saya agar mengutarakan pertanyaan yang memiliki feedback untuk keberlangsungan akar musik di Indonesia.

Sampai saat ini, saya saja masih berpikir keras begitu hebatnya sebuah aliran musik yang diseriusi dan diamalkan oleh Herbie Hancock yaitu Jazz dipercaya oleh UNESCO sebagai pola pendekatan dan pengembangan budaya pendidikan ke seluruh dunia. Ini adalah sebuah kanvas besar pertanyaan yang mungkin akan terjawab bilamana saya memiliki kesempatan datang ke Amerika Serikat. Karena Jazz adalah lahir dan dimiliki oleh negara tersebut. Indonesia hanya mengadopsinya menjadi Jazz Berbahasa Indonesia. Sebagai Goodwill Ambassador, tentunya Herbie Hancock menyiapkan hipotesa yang pada akhirnya akan menjadi sebuah konsensus baru yang akan dipahami sebagai data dan komunikasi oleh lanskap musik di sana.

Lepas dari hasil akhir peran yang sedang diseriusi oleh Herbie Hancock, saya menilai bahwa komunikasi seperti ini sangat baik untuk beberapa sisi sekaligus. Ini menguatkan apa yang selama ini saya sampaikan bahwa ada proses belajar yang harus dan selalu dijalankan musisi kepada publik yaitu “Learning By Teaching” setelah melalui “Learning By Doing”. Rasio yang seimbang akan selalu memberikan cahaya dan harapan baru dalam setiap hati masing-masing. Saya merasa yakin semua musisi yang berkesempatan bertemu, berfoto dan bersantai bersama Herbie Hancock memiliki spirit baru nan magis menggapai masa depan, paling tidak tahun 2012 dulu.

Indeks respon yang ditukas oleh Herbie Hancock merefleksikan bahwa dia seorang guru, praktisi dan peneliti yang memiliki level of wisdom di atas rata-rata. Perlu diingat, bahwa beliau juga adalah Chairman pada Thelonious Monk Institute of Jazz. Pertanyaan saya yang berhubungan dengan akar musik dijawab dengan ilustrasi lugas mengenai peranan komunikasi yang harus selalu diaktivasi tanpa menunggu orang lain. Etika tersebut juga disampaikan lebih lebar lagi saat beberapa penanya melemparkan pertanyaan struktural terhadap permasalahan anak muda dan musik belakangan ini. Saya berharap para musisi juga segera menyiapkan diri untuk berkeliling menemui lapisan massa yang selama ini tidak pernah ditemui langsung dalam konteks diskusi. Sehingga bobot diskusi yang dieskalasi kepada Herbie Hancock maupun musisi lain bisa mencerahkan siapapun. He promised to come back to Indonesia as soon as possible. Menarik dan semoga segalanya semakin baik. @2011aldosianturi/Photo: Anita (@america)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense