GTM STRATEGY DI BISNIS MUSIK 2015. APAKAH ITU?

On 1 January, 2015 by Aldo Sianturi

GTM

HAPPY NEW YEAR 2015 | Setiap tahun berganti, tentunya kita ingin memiliki semangat baru yang mungkin bisa dihadirkan dari dalam atau luar diri sendiri untuk dapat diaplikasikan secepatnya. Berbicara Bisnis Musik, maka dalam 5 tahun terakhir ini semakin banyak praktisi yang berani melafalkan Bisnis Musik ke dalam rutinitas sehari-harinya. Keberanian tersebut didasari oleh pemahaman lebih jauh mengenai ilmu bisnis musik yang tidak sepenuhnya sama dengan bisnis pada umumnya.

Bisnis Musik adalah Bisnis Emosi. Dimana faktor emosional mempengaruhi persentase pemikiran awal dan keputusan akhir dari setiap praktisi dengan beragam raihan jam terbang yang saling berbeda. Para praktisi juga semakin sadar kalau tidak dapat melakukan semua hal secara bersamaan. Mereka sadar ketika masih berada di posisi pemula, menjadi generalis adalah hal yang utama tetapi ketika perusahaan semakin besar dengan cakupan tanggung jawabnya maka cara seperti itu tidak lagi ideal.

Harus tetap dibedakan di negara mana kita berbisnis. Kita harus sadar kalau kita di Indonesia. Negara yang belum memiliki platform industri musik yang solid. Negara yang masih lebih berfokus 80% kepada produksi musik dibanding bisnis musik. Apa yang terjadi di luar negeri tidak elok untuk disalin secara absolut, kita harus jeli mempergunakan kearifan lokal untuk dapat bekerja secara optimal tanpa terganggu oleh disrupsi yang tidak berbobot. Modal nyali saja tetap belum cukup untuk bisa unjuk gigi di koridor bisnis musik.

Hari ini semakin diperlukan kemampuan praktisi bisnis musik untuk menjahit kesenian dan teknologi dengan selaras. Sekarang praktisi bukan cuma bisa fasih mengucapkan Online & Offline adalah harga mati bisnis hari ini. Tapi yang paling kristal adalah para praktisi bisnis musik harus mampu menciptakan GTM Strategy (Go-To-Market Strategy) yaitu sebuah strategi pemetaan dan keputusan untuk mengawal validasi konten melalui proses penciptaan sampai penerimaan dengan piawai dan tuntas. Mentalitas hanya rilis saja, hanya launching saja sudah tidak pantas dilakukan oleh praktisi bisnis musik yang semakin dewasa.

Berangkat dari perubahan dynamic behaviour pada market mengharuskan praktisi bisnis lebih detail dalam merumuskan sebuah rencana. Dulu mungkin kita hanya butuh Marketing Plan, tapi sekarang kita butuh kompas baru yaitu GTM Strategy yang bisa diawali dengan masuk ke segmentasi dan mencari proposisi yang lebih akurat. Strategi ini sarat akan taktik yang dapat diimplementasikan dengan melakukan banyak efisiensi. Ini adalah sebuah formula baru yang saya pastikan akan membuat perencanaan kita tidak hanya bagus di kertas saja tetapi end-to-end sampai ke penetrasinya.

Tugas praktisi bisnis musik semakin tahun bukan semakin mudah. Semakin sulit dan semakin membutuhkan banyak masukan dari beragam konsultan yang konsisten dan up-to-date akan bisnis musik. Ketika menciptakan sebuah band atau produk musik, secara bersamaan harus sudah memikirkan proses penciptaan, proses pendekatan, proses pengembangan sampai proses sinkronisasi perjanjian dengan nawaitu awal penciptaan. Jadi tidak lagi menyatakan bahwa kita jalan saja dulu dan tergantung nanti ke depan akan seperti apa. Seiring  dengan waktu pemikiran seperti ini akan semakin sedikit jumlahnya dan tersisih tanpa sengaja.

Praktisi bisnis musik hari ini datang dari latar belakang yang berbeda. Ada musisi, akuntan, pekerja IT, makelar, penjudi, pedagang, lawyer dan promoter. Tidak ada yang mampu memastikan bahwa otomatis latar belakang musisi yang paling benar dan bersinar. Semua punya potensi untuk maju dan  cara berbisnis akan menjelaskan dengan terbuka seperti apa gaya bisnis yang diadopsi atau diaplikasi oleh praktisi tersebut. Hal ini sudah berulang kali terjadi dan menjadi warna-warni dunia bisnis musik yang dinamis. Hanya saja bisnis musik setengah-setengah dibantu oleh Pemerintahan Indonesia. Sepertinya orang yang mengurusnya tidak tepat atau dijegal kanan kiri.

PHYSICAL VS DIGITAL | Sampai hari ini perspektif antara produk fisik dan digital masih belum dipahami secara sederhana. Masih ada pergunjingan siapa paling benar. Yang paling benar adalah dengan merujuk kepada Online & Offline maka telah tercipta 2 jalur distribusi untuk produk fisik dan digital dengan skala kasus yang berbeda di setiap negara. Tidak penting lagi bagi praktisi untuk memiliki pemikiran lebih berpihak sehingga menjadikan pribadi yang apriori.

Geliat kaum muda yang kembali mengulang produksi piringan hitam adalah kegiatan yang menopang jalur distribusi fisik dan geliat anak muda yang berjibaku untuk bisa mendistribusikan kontennya di Digital Platform melalui agregator lokal maupun dunia adalah contoh jalur distribusi digital terus berjalan. Keduanya tidak pantas dibenarkan dan disalahkan. Juga musti dimengerti bahwa ada kelompok Unsigned yang berjalan konservatif tanpa embel-embel kerjasama.

Begitu juga dalam domain B2B (Business 2 Business) dimana label rekaman mendistribusikan produk musiknya melalui Kentucky Fried Chicken, Texas Music, Bakmi GM yang kita ketahui memberikan kontribusi finansial tinggi sekaligus visibilitas produk yang baik. This is a real sales game! Sementara mengenai Disc Tarra, Duta Suara, MusikPlus tidak mendapat jatah menjual album yang sama adalah kebijaksanaan pemangku industri musik yang harus memberikan alasan tepat untuk menjaga harmonisasi ekosistem di industri distribusi. Satu hal yang penting anda lakukan di 2015 adalah membuat produk fisik anda tersedia di area E-Commerce. Pelajari dari sekarang!

SIKAP ATAS DISTRIBUSI AUDIO DIGITAL | Semua pencipta yang telah menyelesaikan produksi rekaman pada umumnya ingin mempersembahkan karya cipta dengan beragam metode entah gratis atau komersil. Intinya ada satu faktor kepuasan dan kebanggaan ketika melihat dan mengkomunikasikan bahwa karya ciptanya telah tersedia sebagai konten digital di platform yang sedang ramai dibicarakan masyarakat umum. Dulu kebanggaan itu ketika menyebutkan bahwa RBT (Ring-Back-Tone) sudah ada di Telco sekarang ketika sudah ada di iTunes.

Pergeseran parameter yang mengandung kadar gengsi ini dibiarkan saja. Ini adalah ekspresi dan selama memberikan denyut positif yang mengarah ke teritori penjualan maka lumrah saja. Hanya saja yang ingin saya sampaikan di sini adalah diperlukan kerja keras selama aktif di bisnis musik. Mentalitas cepat puas dan tidak mau repot harus dikikis dari sosok praktisi. Bukan berarti ketika konten musik tersedia di iTunes, Guvera, Deezer, Spotify, Amazon, Rdio, MelOn, maka selanjutnya tinggal duduk manis. Kenapa sebelumnya hal ini terjadi, otomatis karena kurangnya pemahaman.

Itulah kenapa saya menekankan perlunya GTM Strategy untuk menjadi titik awal dalam melanjutkan investasi bisnis musik yang harus bisa diterjemahkan ke dalam keuntungan. Diperlukan pemahaman yang tidak melulu kepada berapa besar persentase yang diterima. Maaf, bagi saya hal ini terlalu remeh. Yang paling penting adalah bagaimana Digital Footprint dari profil artist dapat diakses dengan mudah oleh siapapun di seluruh dunia dan diperkuat oleh slot-slot komunikasi yang bisa diintegrasikan dengan aktifitas Online & Offline.

Kenapa saya meremehkan pembagian keuntungan menjadi urusan wahid. Karena yang pertama sebagai praktisi bisnis seharusnya sudah punya ambang batas pemahaman pembagian yang realistis dan tidak. Yang harus ditilik adalah selain split pembagian keuntungan apalagi yang bisa didapatkan dengan bekerjasama. Bila sudah win-win solution otomatis akan membangun konstruksi Trust yang tinggal tergantung bagaimana kedua belah pihak menjalaninya.

Yang kedua adalah musik punya jodoh sendiri. Kalau orang suka ya suka. Kalau orang tidak suka ya tidak suka. Saklek! Dalam distribusi digital yang transaksi pembelian kebanyakan masih mempergunakan kartu kredit belum potong pulsa maka penjualan yang terjadi mengacu kepada 2 fokus selera yaitu Premium dan Grassroots Market. Katakan pemilik kartu kredit adalah Kelas Menengah tetapi selera musik mereka dua sisi. Hal ini diterjemahkan ke dalam volume pembelian. Untuk apa ngotot masalah pembagian tetapi realisasi adalah tuna penjualan.

APALAGI SETELAH MONETISASI? Begitu juga dengan urusan aset video yang diklaim serius di bisnis musik Indonesia. Virus Monetisasi sedang menjalar ke semua benak bahwa berbisnis video musik di YouTube adalah penuh peruntungan. Sejauh pengamatan saya selama 2 tahun ini, semua YouTube Channel yang menghasilkan uang dipicu oleh 2 indikator yaitu memiliki konten musik yang berbicara atas nama generasi dan indeks keartisan dari kanal tersebut di atas rata-rata. Tetapi raihan keuntungan di YouTube adalah seasonal tidak konsisten setiap bulan akan tinggi terus atau rendah terus.

Indikator tadi harus disadari tidak abadi dan akan mempengaruhi CPM (Cost-Per-Impression) dan RPM (Revenue-Per-Impression). Sekali lagi tidak boleh cepat puas. Music Business is all about investment. Faktor investasi tidak boleh ditiadakan. Disinilah paradigma bisnis harus dihadirkan, agar anda bisa memiliki varian konten yang akan memberikan keuntungan. Sangat tidak mungkin membuat kenyang penduduk YouTube hanya dengan 1 video sepanjang masa, unless konten tersebut sangat legendaris untuk ukuran dunia seperti Psy – Gangnam Style? Ini one in a million!

Ada 3 E kenapa orang ke YouTube: Edukasi, Entertainment, Ekspresi. Hal ini menjadi tugas GTM Strategy. Karena Konten tersebut harus mampu berbicara dari target demographic, geographic, topic, user’s interest, platform, content label yang direkam dalam Analytical Tool. Untuk mampu meraih semua ini maka faktor Optimisasi adalah yang selanjutnya harus dikuasai oleh praktisi. YouTube sebagai phenomenal discovery tool atau raksasa video platform sudah menciptakan area-area yang harus dipenuhi dengan fakta yang akan menciptakan integrasi viral tanpa batas.

Optimisasi adalah menyangkut bagian-bagian yang dapat ditemui di dashboard YouTube Channel seperti Deskripsi, Tagging, In Video Programming, Anotasi dan sebagainya. Semua ini butuh pengetahuan sementara di beragam kanal YouTube di Indonesia semua ini tidak dianggap penting dengan mengisinya. Yang paling penting adalah bagaimana video tersebut live dan monetized. Mentalitas ini sama seperti saat kita berbicara distribusi audio. Kita harus melihat bagaimana Annoying Orange begitu serius dan aktif memproduksi berbagai video tanpa henti yang pada akhirnya membentuk algorithma yang krusial dalam discovery area dari konten.

Sekarang saatnya bekerja dan tidak terlampau banyak lagi bertanya tentang hal mendasar. Bagi praktisi yang tertinggal tidak boleh manja melainkan ngebut dengan akselerasi kerja optimal. Uang sudah di depan mata tapi untuk mendapatkan uang tersebut dalam jumlah besar maka investasi bidang video adalah sesuatu yang harus masuk ke dalam grand design bisnis musik anda di tahun 2015. Kalau bisa malah buatlah satu tim video spesial untuk mendulang uang dari video aset yang bukan hanya bisa mendapatkan uang dari YouTube semata.

KAMPANYE SOSIAL MEDIA | Mungkin anda mulai jengah mendengar kata Social Media. Tapi ini adalah spot yang tidak mungkin bergeser dari pelataran digital business. Platform ini sudah tidak bisa ditawar menjadi pelengkap komunikasi atas keberadaan konten anda di semua platform. Saya meminta anda untuk kembali lagi ke Facebook, Twitter dan Google+ ketika perjalanan bisnis musik 2015 ada pada sketsa GTM Strategy. Kalau perlu berinvestasilah di sana dengan melakukan belanja kuota tampil.

Mungkin anda mengira bahwa Path paling utama sebagai media promosi. Saya setuju, tapi tidak dalam skala luas. Indeks integrasi komunikasi yang dimiliki Path masih terbatas. Sementara di 3 platform yang saya sebutkan tadi kontributif. Bila anda praktisi bisnis musik, maka anda harus mengundang artis anda untuk mengerti tentang semua hal ini juga. Jangan anda sendiri saja yang menelannya.

Anda harus mengedukasi artis anda agar memahami partisipasi apa yang harus didahulukan untuk kesuksesan. Anda harus sampaikan bahwa mereka harus kembali giat berkomunikasi via Social Media. Cuma kali ini berbeda, mereka harus mempromosikan dimana konten mereka berada.  Anda harus Copy Buy-Link lagu atau album dari iTunes, Guvera, Deezer dan mempromosikan URL tersebut ke semua orang. Bukan masalah anda bila link tersebut tidak dibaca dan dibaca. Keajaiban selalu ada di dunia ini.

Edukasi yang diberikan tadi juga harus diviralisasikan kepada Follower atau Subscriber dari akun Official Social Media dan disitulah akan terjadi indeks penjualan yang berbeda. Karena mungkin saja pembeli konten digital anda datang dari negara lain atau diaspora Indonesia yang ada di benua lain. Komunikasi marathon seperti ini hanya dapat dibicarakan panjang lebar lewat Social Media. It’s good if you have newsletter tapi hal tersebut terlampau resmi. Kita harus mengeksplorasi hal-hal yang cutting-edge di dunia ini melalui GTM Strategy. Semoga anda sukses sampai akhir tahun 2015. @2015-AldoSianturi (Photo: Spesial)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense