G2G UNTUK BISNIS MUSIK INDONESIA

On 1 December, 2013 by Aldo Sianturi
Music Talk!

Music Talk!

Setelah bertemu dengan Ibu Cokorda Istri Dewi yaitu Specialist Staff of Planning and Program for Minister of Tourism and Creative Economy di Gedung Sapta Pesona, Kemenparekraf sebulan lalu, saya diundang untuk menjadi salah satu pembicara di PPKI 2013 (Pekan Produk Kreatif Indonesia) pada hari Minggu, 1 Desember 2013. Arah pembicaran saya adalah pemberdayaan musisi independen di Indonesia. Tanpa persiapan, saya sangat siap untuk berbicara di depan audiens, karena memang begitu banyak di benak yang harus saya sembur dan bagi kepada siapapun. Salah satunya adalah skema G2G (Government To Government) atas bisnis musik. Acara ini dipandu oleh Wendi Putranto (Jurnalis Majalah RollingStone Indonesia) di T-Grill Restaurant, Epicentrum Walk, Jakarta.

Diantara respon yang saya sampaikan siang tadi, saya melihat bahwa kondisi peta musik di Indonesia sudah saatnya harus menjadi bagian navigasi dan advokasi negara. Implementasi ini harus dilewati secara berjenjang, melalui lobi dan kampanye program yang bertujuan untuk meningkatkan eksposur dan nilai ekonomi kreatif atas produksi musik di Indonesia. Selama ini semua musisi dan pelaku bisnis musik sudah bekerja keras, namun karena merasa dimarjinalkan oleh negara, maka komunitas besar ini memiliki rasa gerah atau persepsi negatif bilamana mendengar wacana yang mengarah ke area kenegaraan. Bagi saya, pemikiran tersebut sifatnya sementara.

Bersama Endah & Rhesa sebelum memulai Talk Show.

Bersama Endah & Rhesa sebelum memulai Talk Show.

Bilamana negara Indonesia mampu menciptakan sebuah ekosistem baru yang dihuni oleh kaum muda yang konsisten terhadap semua aspek produksi dan bisnis musik, maka tibalah saatnya untuk membicarakan Industri Musik. Saat ini semua hanya celoteh, kosong melompong dan belaka. Terlalu angkuh kita mengatakan ada industri musik di Indonesia, yang bila ditilik lebih dalam bahwa industri tersebut hanya semata sebagai proses produksi. Independensi yang dimiliki musisi di Indonesia harus terus diperbaiki dengan dukungan modal dan politik dari negara. Negara harus mengerti betul konten musik yang ada di kurun waktu 15 tahun terakhir ini. Negara harus dipandu, diedukasi dan diarahkan oleh sebuah tim profesional yang dibentuk dengan bertujuan untuk menciptakan beragam keuntungan atas bisnis musik. Komunikasi dua arah akan selalu membuahkan hasil optimal. Ini zaman kolaboratif.

Saya merasa bahwa suara yang saya sajikan tadi menjadi sebuah kanvas yang bisa diceritakan siapapun dan tidak berhenti hanya di sebuah perhelatan saja. David Tarigan yang juga duduk bersama saya berulang kali membenarkan opini saya bahwa situasi hari ini sangat kritis bilamana tidak diteruskan dalam basis G2G. Kami khawatir bahwa bila tidak ada kepastian atas muara ekonomi kreatif yang dilakoni oleh lapisan musisi, maka daya tahan mereka akan habis, merasa tidak peduli dan akhirnya enggan bermusik. Dengan beragam opsi kreatifitas di dunia, maka semua perpindahan amat mungkin terjadi. Mungkin kita semua sekarang masih bisa tersenyum melihat keberhasilan anak muda hari ini hadir di layar televisi tapi 10 tahun mendatang, apakah mereka masih di sana? Di medium tunggal tempat mereka dikenali. Mari kita renungi dan mulai memiliki visi apa yang diperlukan bilamana kita berbicara atas hubungan negara dengan negara. @2013AldoSianturi/Photo: Endah, Rendi Kopay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense