DEDE, BALIGONG, MUSIK, PIRINGAN HITAM

On 9 May, 2014 by Aldo Sianturi

BG1

Namanya adalah Laurensius Dede Zacharias, tetapi semua orang memanggilnya dengan Dede. Ia lahir di Bandung pada tanggal 8 Agustus 1950 dan sudah 30 tahun lebih tinggal di Bali. Saya menyambangi tokonya yang bernama BALIGONG di Jl. Sahadewa 6A Kuta, Bali dan langsung membahas katalog rekaman Lokananta yang menggiurkan. Toko ini menjual CD rekaman katalog terpilih dan piringan hitam. Keberadaan BALIGONG saya tahu dari Blog Wahyu Acum (Bangkutaman) dan setelah bertanya kepadanya dan Alvin (The Teenage Death Star). Kemarin, tidak luput kami membicarakan Odeon yaitu perusahaan percetakan piringan hitam di Semarang di sekitar tahun 1917. Pembicaraan kami semakin melebar kepada perihal keluarga dan rencana bisnis masa depan.

BG2

Kang Dede adalah pebisnis musik. Dia mengawalinya sejak berdomisili di Bandung. Dia menyampaikan bahwa pada tahun 1965, karena sekolah etnis Cina ditutup pemerintah Indonesia, maka dia harus berhenti bersekolah dan tenggelam kepada urusan musik yang pada zaman itu begitu meriah dan begitu hebat. Pada tahun 1969, dia bekerja sebagai karyawan di toko kaset yang bernama Dunia Baru, kemudian pindah ke Irama Ria lalu Suara Kenari. Di masa itu, semua orang bebas melakukan penggandaan konten dan menjualnya secara bebas.  Ada yang bilang pembajakan dan ada yang bilang penggandaan. Semua punya perspektif yang saling berbeda, ada yang pengen mereka dilibas tapi ada yang pengen mereka bebas. Pendeknya saat itu retailnya mampu menjual 10 s/d 20 kaset sehari dengan harga per unit Rp, 1,000.

Kang Dede Muda Setelah Merekam Kaset Pesanan

Kang Dede Muda Setelah Merekam Kaset Pesanan

Jam terbang merekam kaset pesanan membuat Kang Dede memiliki kesiapan untuk merilis produk sendiri, dia lalu menciptakan album berseri dengan nama Apple, laris dan sampai sekarang masih dicari oleh kolektor. Kebisaan dalam mengoperasikan alat perekam menjadi tiket bekerja di Golden Lion di Pluit yang dimiliki oleh Oyok Iskandar. Grafik penjualan album melonjak sampai ribuan keping album dalam sehari. Mereka sampai kewalahan dan permintaan semakin naik dari luar kota. Retail ini akhirnya berekspansi ke Bali dengan nama Musician’s Cassette yang beralamat di Jalan Legian No: 62, kini menjadi toko RipCurl. Di retail ini dulu dia bertemu dengan David Bowie dan Jimmy Page secara langsung. Dia pun memilih menetap di Bali sejak perusahaan dia bernaung harus ditutup karena Indonesia telah ikut dalam konvensi Bern perihal hak cipta setelah kasus besar kompilasi Live Aid yang diprakarsai oleh Bob Geldof.

Suasana Toko Kaset di Bali Tahun 80an

Suasana Toko Kaset di Bali Tahun 80an

Kaset Primadona Penjualan Tahun 80an

Kaset Primadona Penjualan Tahun 80an

Hampir setiap hari dia berada di Bali Gong bersama istrinya. Jam terbangnya sebagai retailer perlu diteladani oleh semua pemilik toko. Dia selalu bisa kelop berbicara dengan semua umur, orang dan latar belakangan pengetahuan musik yang berbeda. Dia mampu menjelaskan katalog musik yang setipe dan mampu menceritakan sejarah yang paling dalam. Inilah yang dimiliki orang dulu dibanding anak muda sekarang. Meskipun ada internet, tapi menjelaskan asal usul musik, musisi dan perusahaan rekaman masih tetap dikuasai oleh para senior. Dari bisnis yang dijalaninya, Kang Dede sudah memiliki asset yang mungkin akan dicairkan untuk mengembangkan potensi penjualan musik. Dia yakin bahwa musik akan jalan terus tapi harus dipegang oleh orang yang menguasainya. Silakan sambangi tempatnya dan berdiskusi lepas dengan Kang Dede saat anda berada di Bali. @2014/aldosianturi/Photo: Aldo Sianturi & Koleksi Kang Dede

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense