BLORA PENUH GELORA

On 30 December, 2014 by Aldo Sianturi
Kapan lagi difoto oleh "Tony Q Rastafara"!???

Kapan lagi difoto oleh “Tony Q Rastafara”!???

SUNGGUH LUCU! Bayangkan, hampir setiap hari saya melewati Jalan Blora di Jakarta tetapi sama sekali belum pernah tau dan datang ke Blora yang asli di Jawa Tengah. Begitulah kisah orang yang lahir dan besar di Jakarta. Anyway, akhirnya saya berkesempatan pergi ke sana setelah direstui oleh Keluarga Besar Tony Q Rastafara. Senangnya bukan main ketika menerima konfirmasi dari Mas Cuz dan Mas Muslih. Terus terang, ketertarikan saya ke sana diawali oleh pertanyaan saya atas kaos yang sempat dipakai Mas Cuz bertuliskan “Samin” dan “Blora”. Setelah diberi penjelasan singkat, saya malah kepingin segera berangkat.

Beruntung Tony Q Rastafara diundang tampil di perhelatan hari jadi Blora ke 265 Tahun. Akhirnya Tanggal 12 Desember 2014 kami semua bertolak dengan Kereta Api Gumarang dari Stasiun Senen menuju Stasiun Cepu. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar 12 jam. Apalagi kalau bukan senda-gurau, teh manis panas dan kacang yang membuat kami tetap terjaga melupakan jarak tempuh. Rombongan kami tiba di Stasiun Cepu dini hari dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Blora membelah hutan jati yang gelap gulita. Sekilas saya juga mendengar berita tentang demo rakyat yang menolak dioperasikannya pabrik Semen Gresik di Rembang. Ini penting!

Sepanjang perjalanan saya menyerap cerita tentang dunia kayu jati dan ungker yaitu kepompong ulat jati yang sejatinya memiliki protein tinggi. Saya begitu menikmati perjalanan ini, apalagi di minggu yang sama waktu saya cukup padat dihabiskan untuk bekerja  mengurusi banyak pertemuan. Sampai di hotel, saya mendapatkan saudara baru seperti Mas Catoer, Herry Gemblax dan Ndok. Ternyata sebelum kami semua beristirahat, suguhan nasi pecel yang dibungkus dengan daun jati tersedia untuk disantap dengan kerupuk gendar plus tempe goreng. Speechless!

Menuju Soundcheck

Menuju Soundcheck

SABTU SERU Sudah menjadi kebiasaan saya kalau berada di tempat lain pasti susah tidur. Akhirnya saya putuskan berkeliling kota dengan naik becak. Sepanjang jalan saya diceritakan tentang seisi kota. Suasana kota Blora tenang sekali dan semua orang memberikan senyum tulus, mungkin karena saya mudah ditandai kalau saya bukan penduduk asli Blora dan dianggap turis lokal. Tujuan yang saya minta dipenuhi oleh pebecak yaitu mengantar ke pasar tradisional. Buat saya pasar adalah refleksi dari setiap area di muka bumi. Dengan bermodalkan kemampuan berbahasa jawa yang sedikit sekali, saya beranikan diri nongkrong di tengah pasar memesan kopi panas dan bertukar cerita dengan penduduk setempat.

Ketika mengarah kembali ke hotel, ternyata saya diajak berpindah mobil mengikuti Mas Cuz dan Mas Didik untuk menyantap Sate Blora. Nah ini dia! Bukan main memang rasa dan harga terlalu jauh untuk dibandingkan dengan Jakarta yang menjulang. Datang ke sebuah daerah yang memiliki harga jual yang murah selalu membuat saya tertegun dan berpikir. Kalau saya pindah ke sini, memang semua murah tapi saya mencari uang dengan cara apa. Pasti ada jalan, tapi butuh nyali. Kemudian saya kembali berpikir kalau saya di Jakarta, semua mahal tapi saya mengerjakan bidang yang saya kuasai. Puyeng! Perjalanan ke luar Jakarta selalu mengingatkan saya sewaktu tinggal di Medan beberapa tahun.

Bercanda bersama Susilo Toer (Adik Pramoedya Ananta Toer) di Blora.

Bercanda bersama Susilo Toer (Adik Pramoedya Ananta Toer) di Blora.

Yang membuat saya lebih tersengat adalah ketika saya dapati kalau Blora adalah kota kelahiran dari penulis idaman saya mendiang Pramoedya Ananta Toer. Saya pernah bertemu beliau di Toko Buku QB Kemang diperkenalkan oleh teman saya Richard Oh dan sering sekali saya membicarakan karyanya dengan teman saya Oscar Lawalatta. Ketika saya tau saya akan diantar ke rumah dimana ada perpustakaan kecilnya, saya semakin meluap emosi kegirangannya. Serunya lagi ketika saya post berita ini di Path, teman saya Richard Oh langsung meminta tolong untuk dibantu dicarikan foto untuk memperkuat pembuatan film atas karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Perburuan. I like this kind of impromptu!

Kami semua akhirnya kembali ke hotel untuk beristirahat dan Tony Q Rastafara ternyata telah tiba dari Semarang. Semua duduk di lantai dan saling berkelakar. Ada yang berbeda dengan kebanyakan rombongan musisi yang saya pernah ikuti. Rombongan ini santai sekali dalam artian mereka punya cara dan waktu sendiri untuk membicarakan perihal band. Hampir tidak pernah saya lihat siapapun saling tunjuk atau saling tanya perihal urusan panggung. Tiba-tiba saya mencium ekonomi kreatif ketika saya melihat Akar Merdeka membagikan kaos cukilan sebagai materi promosi kepada kami semua. Hal ini harus diangkat untuk mendapatkan indeks distribusi menggila. Sekitar jam 3 sore kami bertolak ke Pendopo Kabupaten Blora untuk menghadiri Press Conference versi mini sekaligus Jumpa Fans yang dipandu oleh Bapak Djoko Nugroho yaitu Bupati Blora.

Pesta Sate Blora

Pesta Sate Blora

BICARA MUSIK Dengan berjalan kaki menuju panggung di alun-alun, jadwal selanjutnya adalah Sound Check yaitu bagian terpenting bagi musisi untuk Live Show. Tujuan sound chek adalah untuk mendapatkan kualitas suara terbaik, baik untuk stage monitor dan FOH (Front Of House). Sound check yang baik memerlukan kerja sama antara band dengan stage crew dan engineer. Setiap player band harus menjaga level dari amplifier yg digunakan agar levelnya bisa terjaga dengan baik. Good Performer + Good Mix = Great Sound. Semua musisi di atas panggung begitu telaten untuk mendapatkan balance yang baik dari setiap instrumen.

Sejak sore hari saya sudah yakin bahwa nanti malam penampilan mereka akan bermutu. Setelah beberapa jam beristirahat melepas lelah, Tony Q Rastafara meminjamkan iPhone-nya kepada saya untuk mendengar beberapa rekaman lagu yang dipersiapkan untuk album barunya. Seperti biasa saya brutal honest, saya sampaikan faktor yang saya rasa dan harapan yang saya inginkan sebagai pendengar. Setelah itu kami semua menuju ke venue dan saya ikut nanti ke sisi panggung bersama para tamu VIP. Agak awkward memang berada di sana karena nawaitu saya adalah joget, tapi kadung sampai dan alun-alun yang tadinya kosong kini dijejali oleh audiens yang rela datang dari beragam kota seperti Jakarta, Semarang, Jepara, Rembang, Kudus dan sebagainya.

Yo Maaaaan!

Yo Maaaaan!

Ternyata dimanapun kita berada selalu punya kesempatan untuk kita mengetahui banyak hal lebih dalam. Tony Q Rastafara yang terlihat asik sambil memanggul gitar fender electric-nya langsung mengisahkan pengalamannya kepada saya, “Aku ini kalau manggung nggak pernah pake daftar lagu (set-list). Semua mengalir saja. Semua tidak diatur-atur. Hal ini juga saya buat agar teman-teman di band tidak merasa kagok dengan aturan”. Ini adalah sebuah iklim kebiasaan yang sederhana tapi menurut saya justru membutuhkan ruang kedekatan untuk menempel dengan karya cipta tersebut. Langsung beliau mengisi pangggung dan membuka penampilannya dengan lagu kesukaan saya yaitu Kong Kali Kong!

Alhasil di atas panggung selama hampir 2 jam, semua orang menari, meracau dan melupakan semua persoalan untuk larut dengan musik Reggae dengan rasa Indonesia. Kenapa saya bilang seperti itu, karena setelah saya perhatikan baik dari hasil rekaman di album dan beberapa kali panggungnya, Tony Q Rastafara punya keberanian menjamu audiens dengan etalase musik yang bersenyawa dengan musik tradisional dan bunyi-bunyian instrumen tradisi dari Indonesia seperti kendang dan suling. Racikan tersebut terasa sekali bila dimainkan di luar Jakarta. Satu hal yang saya amati juga adalah sosok Tony Q Rastafara sudah melekat dengan suku Samin – Sedulur Sikep sejak beberapa tahun lalu.

Ada hukum simbiosisme mutualisme yang organik di sana. Sering sekali saya akhirnya membaca dan menganalisa jauh tentang Wong Samin atau Sedulur Sikep tentang falsafah hidupnya dan eksistensinya sampai hari ini dengan konsentrasi utama di Blora. Saya seperti bertemu Tuhan berada di Blora. Saya seperti ditunjukkan kalau titik nol atas revolusi mental dimulai dari Blora, dimana kita kita bisa mengaplikasikan poin demi poin yang dijadikan sebuah parameter cara hidup berbangsa. Semua hal ini saya rekam di dalam kepala saya dan akhirnya saya muntahkan di blog ini sebagai perjalanan yang paling menarik di Tahun 2014. @2014 (Aldo Sianturi / Foto: Mas Cuz).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense