BESOK MALAM BERSAMA DIDI KEMPOT

Didi Kempot mendadak trending dibicarakan warganet di jagat media sosial. Didi bukan orang baru tapi dianggap seperti orang baru. Apa penyebabnya? Oleh: Aldo Sianturi.

Di ranah dunia rekaman musik modern, selebrasi rentang perjalanan musisi sering diperingati dengan merilis album baru, single baru dan memproduksi konser megah dengan bujet raksasa yang dipromosikan maksimal bersama sederet merek terkenal yang sedang gencar membakar uang. Bahkan untuk melengkapi konsep spektakuler, kolaborasi lintas musisi sering diracik sebagai gimmick untuk menebalkan greget atas sederet tembang hits yang dipresentasikan ulang di atas panggung konser.

Semua skema eksposur di atas bukan sesuatu yang umum di awal pemunculan Didi Kempot kurang lebih tiga dekade silam. Didi hadir di industri musik pada zaman keemasan penjualan kaset pita. Sejak resmi merilis lagu perdana berjudul “We Cen Yu (Kowe Pancen Ayu)” di tahun 1989 yang diedarkan oleh perusahaan rekaman Musica Studio’s, namanya mulai menjadi buah bibir. Pendengar awalnya rata-rata adalah lapisan masyarakat dengan latar belakang etnis Jawa dan diaspora etnis Jawa di Suriname.

Musisi senior ini lahir tanggal 31 Desember 1966 dengan nama Edi Supriyadi dari keluarga seniman di Surakarta. Ayahnya, Ranto Edi Gudel, seorang pelawak yang berpentas di Taman Sriwedari, Surakarta. Sedangkan ibunya, Umiyati adalah penyanyi keroncong. Sementara kakaknya, Mamiek Prakoso (Alm) tercatat sebagai satu anggota grup lawak legendaris Indonesia, Srimulat. Mengenal silsilah keluarganya, membuat kita secara spontan mengamini kekuatan atmosfer seni yang telah lestari di pilar persaudaraan Didi Kempot.

Kiprah awal Didi di masa muda adalah sebagai pengamen jalanan di Solo (Jawa Tengah) bersama teman-teman seperjuangan dengan sebutan unik Kelompok Penyanyi Trotoar (Kempot). Nama tersebut akhirnya melekat menjadi nama panggung Didi Kempot seiring dengan pengembaraan panjang berpindah kota. Meski sempat pontang-panting hidup berkesenian, namun Didi pantang menyerah dan tetap konsisten mencipta banyak lagu sambil mengasah kemampuan bermusiknya. Semua saksi mata perjalanan kariernya sepakat mengakui kalau semangatnya untuk maju tidak pernah luntur. Hasilnya setiap malam kita akan selalu punya waktu berkesenian bersama Didi Kempot!

WONG BEJO
Ketika dipinang oleh perusahaan rekaman nomor satu di Indonesia, Didi Kempot tergolong sebagai orang mujur dan beruntung (wong bejo). Kesempatan untuk bergabung dengan label besar adalah sangat sulit. Apapun ceritanya, momen ini adalah milestone yang penting bagi perjalanan musiknya sampai sekarang. Alasan menggaet Didi Kempot tentunya sudah tuntas melalui penilaian panjang mulai dari sosok, karakter, gaya bertutur, musikalisasi dan buah karyanya.

Menariknya adalah di masa yang sama, Musica’s Studio juga sudah memiliki penyanyi campursari bernama Manthous yang tersohor yang lahir di Playen, Gunung Kidul, Jogjakarta. Manthous dikenal atas kreativitasnya mempopulerkan aliran musik campursari yang sebelumnya diperkenalkan pertama kali oleh para seniman RRI Semarang yang dipelopori oleh R.M Samsi yang tergabung dalam kelompok Campursari RRI Semarang pada tahun 1953-an.

Didi tidak sedang diadu, karena sejatinya tidak pernah ada kompetisi dalam bermusik. Label legendaries itu telah memperhitungkan dengan seksama ceruk pasar musik campursari dan mengaplikasikan strategi bisnis untuk menguasai arena musik yang saat itu belum terlalu diperhatikan banyak pesaing lain. Didi Kempot adalah salah satu pendobraknya. Atas nama kejelian, kanibalisme terhadap karya Manthous tidak pernah terjadi atas musik Didi Kempot.

Bersandingnya kedua nama penting dalam lintasan musik campursari justru menjadi opsi dinamis bagi penyuka musik. Analogi saya seperti melihat Bruce Lee dan Jackie Chan, saling berbeda karakter tapi punya pesona yang melegenda. Manthous musiknya sarat dengan langgam Jawa dengan melodi pentatonik dan Didi Kempot sanggup menawan hati dengan Congdut (Keroncong Dangdut), sebuah kreasi baru yang didominasi melodi diatonik. Kelop!

Di bawah naungan Musica’s Studio, Didi Kempot tentunya menjadi rilisan prioritas. Peredaran kaset yang diperhatikan saksama tentunya menguntungkan profilnya dikenal sampai ke kota-kota kecil melalui agen-agen besar yang memegang peranan penting dalam gurita distribusi album. Belum lagi hubungan batin yang dimiliki dengan TVRI (Televisi Republik Indonesia) dan RRI (Radio Republik Indonesia) menjadi penentu absolut atas ketenaran seorang seniman di blantika musik Indonesia. Bayangkan, musik semanis apapun tanpa amunisi akan berbeda kisahnya di zaman dulu.

KONSEPTOR MUSIK JENIUS
Didi Kempot adalah seorang konseptor musik jenius. Dalam mengkonsep karya, Didi selalu berusaha tidak sama dengan banyak seniman. Sikap ini yang membuat buah karyanya selalu autentik, menarik, dan tidak mudah diduplikasi. Tema lagu yang dipakai juga selalu mengisahkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan sebagian besar lagu yang diciptakannya selalu menggunakan ungkapan bermakna konotatif dan mengangkat tema percintaan yang tidak berjalan mulus, tercerai-berai, hancur alias ambyar.

Kedalaman dan kepahitan cinta meruang bebas di setiap sekat lagu-lagunya yang berjudul “Cidro”, “Kalung Emas”, “Sewu Kuto”, “Banyu Langit”, “Tanjung Mas Ninggal Janji”, “Layang Kangen”, “Solo Balapan”, “Dudu Jodone”, “Terminal Tirtonadi”, dan lainnya. Bagi penyuka musiknya, Didi Kempot bak seorang malaikat penyelamat yang hadir tepat waktu di saat seseorang terkulai lunglai atas tragedi cinta yang pelik dan traumatik. Syairnya membius sakral setiap insan agar dapat berdamai dengan rasa sesak yang menguasai keruhnya emosi jiwa yang sedang tidak karuan. Tidak heran kalau sobat ambyar mengelu-elukan namanya dengan Lord Didi!

Didi paham betul target pasarnya siapa, itulah kenapa bahasa Jawa ngoko (bahasa sehari-hari) sengaja dipilih untuk menguntai fragmen-fragmen yang ada di benak menjadi lagu. Meski sadar kalau banyak orang yang tidak mengerti arti syairnya, namun Didi mempercayakan penuh kekuatan bahasa musik yang universal. Semua itupun terbukti. Racikan keroncong-dangdut (congdut) yang digagas luwes sangat ampuh menghanyutkan perasaan ambyar dengan musik bertempo cepat. Di ranah musik pop, Didi Kempot sanggup mengganti penyanyi Rachmat Kartolo (Alm) yang sebelumnya dikenal sebagai Bapak Patah Hati Nasional.

Sebagai musisi senior, karya cipta Didi Kempot berbanding lurus dengan masa aktifnya yang telah melampaui 30 tahun di dunia musik. Didi Kempot telah menciptakan lagu sebanyak hampir 700 judul lagu. Talenta yang luar biasa tentunya bagi seorang komposer yang super produktif. Sebagai musisi yang sangat sibuk berkarya, Didi Kempot tidak begitu ambil pusing dengan akumulasi royalti dari beragam partner yang selama ini mengeksploitasi karya ciptanya baik secara resmi maupun sebaliknya. Isu klasik yang jawabannya hanya dimiliki oleh musisi semata.

ORANG LAMA RASA BARU
Didi Kempot mendadak trending sejak dibicarakan oleh warganet di jagat media sosial pada pertengahan tahun 2019. Semua orang bersuka cita membahas lagunya, kiprahnya, dan sosoknya yang tegap dengan rambut panjang bergelombang. Didi bukan orang baru tapi dianggap seperti orang baru. Apa penyebabnya? Jawabannya adalah internet. Di mana puncaknya adalah dampak viralnya ekspresi sobat ambyar dari video dokumenter milik pemengaruh beken bernama Gofar Hilman yang menyambangi konser Didi Kempot di Jogjakarta.

Beberapa faktor lain yang melatari apresiasi tersebut adalah rasa penasaran anak muda yang sejak kecil telah akrab dengan seleksi musik Didi Kempot yang konon diputar sepanjang hari oleh orangtuanya dan komposisi musik keroncong dangdut dicampur racikan pop yang sama sekali tidak memiliki halangan untuk dinikmati meski dipersembahkan dalam bahasa Jawa. Penggemar Didi Kempot dikenal sangat loyal, mereka rela datang jauh-jauh untuk merayakan kegembiraan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu kenikmatan.

Hal penting yang juga tidak boleh dilupakan adalah dampak kolaborasi Lord Didi bersama Endank Soekamti di album ke-6 mereka yang berjudul Kolaborasoe melalui lagu “Parang Tritis”. Band beraliran pop-punk asal Jogjakarta ini memiliki penggemar tulus bernama “Kamtis”. Populasi penggemarnya besar sekali dan efeknya membuat profil Didi Kempot menancap di keseharian kaum milenial dan zilenial. Atas penggunaan banyak orang terhadap lagunya, mungkin saja suatu saat lagunya akan masuk ke Billboard Indonesia Top 100.

Fenomena demam ambyar pecah dan gelombang euforia domestik tidak terbendung lagi sejak hiruk-pikuk pasca Pemilu 2019. Berbagai stasiun televisi yang turut membesarkan nama Didi Kempot selama ini berlomba memberikan slot “prime time” dan secara spesifik menempatkan profilnya menjadi konten utama di setiap malam. Tidak berhenti di situ saja, setiap konser yang menghadirkan Didi Kempot selalu saja ludes tiketnya. Salam Ambyar!@2019/AldoSianturi

Notes: Artikel ini juga ditampilkan di Billboard Indonesia https://billboardid.com/besok-malam-bersama-didi-kempot/

Photo: Pio Kharisma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *