ANTON KURNIAWAN “PERSPEKTIF ‘BAND MANAGEMENT’ DI MASA DEPAN”

On 13 September, 2012 by Aldo Sianturi

Prolog: Mr. Anton Kurniawan adalah sahabat yang saya hormati. Perkenalan saya dengan beliau terjadi di Yogyakarta, ketika saya ditugasi menulis kisah personil Sheila On Seven. Saya kerap memanggilnya dengan Papa Ton, semenjak Duta merekomendasikan nama tersebut. Dia adalah orang sederhana, kreatif, penuh wibawa, tenang dan penyuka musik beraliran rock. Dia mengundurkan diri menjadi Manager Band Sheila On Seven per tanggal 1 April 2010 dan sejak itu beliau pernah menjadi Executive Label di Warner Music Indonesia dan berkarier di sebuah Content Provider di Jakarta. Dia adalah sumber pengetahuan bisnis musik di Indonesia. Berikut adalah tulisan panjang dan bermutu yang baru lima menit lalu saya terima. Terima kasih saya untuk anda yang mengambil inspirasi dari tulisan ini dan secara khusus saya ucapkan banyak terima kasih untuk Papa Ton! Dia bukan sejarah musik tapi pribadi di bisnis musik yang bisa membuat sejarah baru yang dinamis. Befriended with him at Twitter: @antonkurniawan

ANTON KURNIAWAN “PERSPEKTIF ‘BAND MANAGEMENT’ DI MASA DEPAN

Akhirnya saya mendapat kesempatan dari mas Aldo Sianturi untuk menulis artikel ini, meskipun sebenarnya saya jarang sekali menulis bahkan untuk mengisi blog pribadi sekalipun. Berikut adalah sedikit pemikiran dan pandangan saya mengenai perspektif ‘band management’ di masa depan. Hampir 12 tahun sejak akhir 1998 saya memanajeri sebuah band dari daerah, hingga akhirnya bekerja di sebuah label internasional sebagai ‘international-marketing manager’ dan kemudian pindah ke sebuah perusahaan penyedia layanan konten sebagai music manager, dan pada April 2012 saya memutuskan untuk ‘beristirahat’ sejenak.

Melihat ‘terguncang’-nya industri musik Indonesia semenjak era ring back tone yang terpaksa harus ‘dihentikan’ sementara oleh Kemkominfo & BRTI Oktober tahun lalu dan hingga hari ini masih belum jelas kelanjutannya, membuat mereka yang terlibat di industri ini panik, bingung, masa bodoh atau bahkan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Sebaliknya hal tersebut menuntut kita semua khususnya mereka para band manager dan juga band management untuk berpikir lebih kreatif dan berinovasi tentang kira-kira model bisnis seperti apa lagi yang sekiranya pantas dan tepat untuk dilakukan. Bagaimana membawa sebuah band dan management-nya untuk tetap survive…

Kini rasanya tidak mungkin lagi kalau band kita tetap memaksakan untuk tetap berjualan CD album. Mungkin anak-anak yang besar di era 90’an ataupun kolektor musik masih senang membeli dan mungkin mengkoleksi CD, tapi bagaimana dengan anak-anak jaman sekarang yang besar di industri digital dan anak-anak kita nanti? Apakah kita hanya akan bergantung dengan retail KFC, Indomaret, Alfamart dll untuk menjual CD? Okelah kita masih bisa menjual (sedikit) CD bahkan vinyl, tapi tentunya ada hal atau ide lain yang bisa lebih kita pikirkan.

Berhubungan dengan konsep band management, ke depan menurut saya sebuah band tidak memerlukan lagi keberadaan perusahaan rekaman, karena kini peran dan fungsi perusahaan rekaman sudah tidak (bisa) seperti dulu lagi. Bukannya saya anti dengan major label, indie label ataupun label-label lainnya. Saat ini adalah masa transisi, masa-masa perubahan yang menurut saya sangat cepat. Memang hampir semua kemajuan di bidang teknologi dan internet seperti saat ini tidak terbendung, apalagi bila dikaitkan dengan musik dan perkembangan bisnis yang mengitarinya. Sekarang adalah saatnya bagi sebuah band dengan didukung tim management yang solid untuk mandiri dan berdikari. Kesempatannya terbuka lebar, dan hampir tanpa batas. Dan kini saatnya pula untuk mendefinisikan ulang prinsip DIY (Do It Yourself). Ini tidak hanya menyangkut untuk kepentingan band lokal, band nasional, band lawas, band papan atas atau apapun istilahnya, semuanya memiliki peran yang sama.

Saya melihat semua kesempatan ini bisa dilakukan secara mandiri oleh sebuah band berikut didukung penuh oleh perangkat management-nya. Melihat kondisi perkembangan musik dan teknologi saat ini, yang dibutuhkan paling utama oleh ‘band management’ saat ini adalah dukungan dari teman-teman ‘social media manager’, ‘programmer”, ‘web developer’, ‘app developer’, ‘game developer’ dan mungkin saja keberadaan ‘venture capitalists’ yang mau bekerjasama untuk berinvestasi dan sharing, layaknya sebuah startup. Merekalah yang akan banyak membantu dan memberi dukungan untuk mewujudkan dan merilis sebuah model bisnis baru yang diinginkan. Kolaborasi antara seni dan teknologi tentunya sangat berpeluang besar dan memungkinkan di era seperti sekarang.

Kalau berbicara masalah ‘revenue’ yang nyata alias cari duit, banyak yang mengungkapkan kalau kegiatan dari panggung ke panggung adalah sumber pendapatan utama mereka para anak band. Memang tidak selamanya kita selalu mendapat dukungan sponsor secara penuh untuk menggelar konser atau tour. Sejauh pengamatan saya jika melihat kondisi beberapa tahun terakhir, kegiatan yang bersifat promo off-air atau tour panjang mulai terasa banyak berkurang. Sudah jarang kita melihat promo tour album baru artis A misalnya keliling 50 kota di Indonesia. Yang kita saksikan sekarang paling banter hanya beberapa titik di beberapa kota saja. Tentunya alasan ini ada menjadi pertimbangan tersendiri khususnya bagi sponsor (rokok) yang selama ini memang paling rajin mendukung kegiatan tour. Belum tahu apakah RUU Tembakau yang juga bakal mengatur tentang pengendalian iklan dan promosi, dan masih digodok saat ini, bila mungkin menjadi sebuah UU pasti bakal menjadi ‘ancaman’ untuk kegiatan konser-konser yang didukung perusahaan rokok? Tentunya ini juga perlu disikapi. Bukan tidak mungkin sekarang saatnya bagi sebuah band management untuk membuat tour sendiri secara swadaya, bisa dimulai dulu dari panggung-panggung kecil, atau bahkan mewujudkan konser rumahan keliling puluhan kota.

Saya percaya kita memiliki banyak manager band hebat dengan segala ide dan inovasi kreatifnya dan sangat berharap bahwa ke depan kita memiliki model bisnis baru yang bisa diterima dan diapresiasi dengan baik oleh masyarakat pecinta musik.

Sekedar tambahan dan sebagai catatan akhir, sekali lagi menurut saya urusan ‘band management’ semata-mata bukan urusan soal ‘perut’, bukan semata-mata soal uang. Di dalam band management hubungan antara artis dan manager memang dilandasi hubungan yang profesional, tapi tidak selalu berbicara soal uang dan uang. Percayalah bahwa semuanya akan tercapai, yang penting kita bekerja dan berusaha sebaik mungkin tanpa menyerah. Selamat meningkatkan citra musik Indonesia. Salam. (@antonkurniawan /Photo: Private)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense