ADJIE – “BERPIKIR KERAS UNTUK ROCK IN SOLO”

On 17 August, 2014 by Aldo Sianturi
Rock In Solo

Rock In Solo

Selain mengunjungi Mas Idud (Sentana Art) di Solo, saya juga membuat janji untuk bertemu dan berkenalan dengan Stephanus Setiadji Anugrah Hendranoto yang sering disebut Adjie di bulan Mei 2014. Namanya sering saya dengar sejak acara “Rock In Solo” yang dibicarakan di Twitter sekitar 3 tahun silam. Sebuah keharusan bagi saya untuk bertemu Adjie sebagai insan yang telah berkontribusi terhadap bisnis musik. Di sebuah hotel retro di daerah Laweyan, Surakarta bernama Roemahkoe Heritage, kami bertemu dan langsung bercerita tentang skena musik Rock di Solo yang dikenal luas melalui kiprah band Tranchem pada era 70an dan Kaisar yang menjuarai Festival Rock Se-Indonesia (1991).

Adjie adalah salah satu penggagas “Rock In Solo” yang ditenggarai sebagai acara metal terbesar yang dikemas untuk memenuhi kebutuhan para penggemar musik cadas dengan sentra konsentrasi area Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dia juga seorang personil band “Down For Life”. Kedua provinsi ini diamini menjadi basis penggila musik cadas terbesar di Indonesia. Bersama sejumlah teman, Adjie membentuk music promoter bernama The Think Organizer untuk bermimpi, berpikir dan memutuskan format ideal dari sebuah acara musik rock yang melebur dengan budaya setempat. Melalui kerja keras dan dukungan banyak orang, maka perhelatan yang pantas disebut menjadi salah satu sejarah musik Rock di Indonesia ini bisa terlaksana dengan baik.

RIS3

Para pekerja Rock In Solo yang dinamakan Dewan Jenderal adalah Local Genius yang memiliki indeks Local Wisdom di atas rata-rata. Rock In Solo adalah acara yang sukses mendatangkan beragam nama besar band rock dunia seperti Cannibal Corpse, Behemoth, Death Angel, Kataklysm, Deranged, Ishtar bermain satu panggung dengan beragam band dari Indonesia seperti Down For Life, Seringai, Navicula, Burgerkill, Gigantor, Suri, Rajasinga, Extreme Decay, Bandoso. Rock In Solo telah berlangsung sejak tahun 2004 dan kedua kalinya di tahun 2007 dan hadir setiap tahun sekali sejak tahun 2009-2013 dengan jumlah penonton dan pangung yang berkembang pesat.

RIS2

Sebagian besar kaum muda juga tahu kalau lewat acara musik inilah nama Jokowi mulai menjadi pembicaraan yang intens di media sosial. Dia disimpulkan sebagai Walikota yang berbeda karena memiliki kecintaan kepada aliran musik rock. Predikat tersebut melekat sampai sekarang. Itulah mengapa ketika Jokowi terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia ke 7, begitu banyak band rock manca negara yang mengucapkan selamat. Inilah bagian dari kesenangan yang dipancarkan Rock In Solo, tetapi acara ini adalah acara yang selalu merugi dalam urusan keuangan meski dipercaya oleh jajaran tiket box di beberapa daerah.

Adjie menyampaikan bahwa aslinya mereka selalu merugi dalam urusan produksi. Beruntung para praktisi acara ini tidak ada yang memikirkan uang. Mereka bahu membahu untuk mengukir sejarah musik yang akan menjadi inspirasi setiap orang tanpa perspektif negatif. Beberapa kali nama Adjie muncul di media hampir membatalkan Rock In Solo karena berhubungan dengan kebijakan pendana dan sudah begitu banyak juga jalan yang ditempuh agar bisa sampai kepada titik impas seperti penjualan merchandise dan kerjasama dengan beberapa sponsor.

Acara berbasis komunitas ini tidak akan pernah usai dengan market demand yang sebegitu besar. Apalagi acara ini seperti memiliki garansi bahwa tanpa harus menjadi seorang metalhead, anda tetap bisa larut dalam kebersamaan yang apa adanya. @2014/AldoSianturi

Social Media

Twitter: @Rock_In_Solo

FB Fanpage: https://www.facebook.com/pages/ROCK-IN-SOLO/198492203622368

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense