ADA APA DI JALANAN?

On 31 March, 2014 by Aldo Sianturi
3 Gitar, 3 Pengamen, 3 Kisah

3 Gitar, 3 Pengamen, 3 Kisah

Apakah anda pernah miskin? Apakah anda pernah hidup di jalan? Apakah anda pernah menjadi pengamen bis kota di Jakarta? Saya pernah! Di tahun 90an, keluarga saya jatuh miskin, saya menjadi anak jalanan, agar bisa punya uang, maka saya ngamen di bis kota. Bersiaplah untuk menonton film “JALANAN” dan ingat: kamu gak harus berada di jalanan untuk menghargai perjalanan!

Saya berterima kasih atas semua pahit dan getir kehidupan yang telah memberikan begitu banyak pelajaran yang tidak pernah saya temukan di kurikulum sekolah umum. Memori itu kembali meruang di dalam batin ketika menghadiri Pre-Screening film “JALANAN” pada tanggal 28 Maret 2014 di @America, Pacific Place Jakarta. Saya diundang ke acara ini oleh Rudolf Dethu dan Lakota Moira yang membantu Daniel Ziv (Sutradara) mengamplifikasi promosi atas kebesaran film dokumenter yang telah memiliki predikat dunia sebagai pemenang ‘Best Documentary’ di Busan International Film Festival 2013.

Film ini sekarang sudah matang dan sebentar lagi siap disantap oleh jutaan pelahap konten visual di Indonesia. Judulnya singkat; JALANAN. Singkat tapi mengerikan! Karena di jalanan anda tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi satu detik ke depan. Anda harus punya sikap dan mental dinamis dalam menghargai sesama tanpa melihat latar belakang. Jalanan adalah jantung dari segala keberhasilan yang diumbar dalam multi seremonial. Jalanan menguji dan mencuci kelanjutan setiap pribadi di dunia untuk bisa hidup singkat atau panjang di sepanjang siang dan malam.

Kolongku, Hotelku

Kolongku, Hotelku

SKOR TINGGI
Ketika film ini berakhir diputar, saya meneteskan air mata. Film dokumenter ini memberikan kesempatan bagi pengamen jalanan untuk kembali berbicara setelah sekian lama ditepikan. Selama menonton JALANAN, saya teringat dengan film  lokal rilisan tahun 1985 berjudul “Damai Kami Sepanjang Hari”. Film yang diperankan oleh Iwan Fals ini adalah selebrasi pengamen era 80an yang diapresiasi oleh Sophan Sophiaan (Sutradara). Entah film ini orderan perusahaan rekaman atau bukan tetapi suka tidak suka pernah memiliki pengaruh besar terhadap kelangsungan hidup  pengamen masa itu.
 
JALANAN saya berikan skor tinggi. Observasi yang mengerucut kepada permasalahan urban mengandung nilai kritis yang diterjemahkan pada koridor positif. Dalam penuturan sinematik, film ini bercerita bukan berkompromi. Hal ini terlihat jelas dari struktur cerita yang memiliki kadar dramatik. Film ini diproduksi sejak tahun 2006 s/d 2013. Durasi panjang  merumuskan atensi megah dari setiap bagian cerita. Film ini memperkenalkan dan mengekspos celoteh dari sosok jauh tapi dekat milik 3 pengamen jalanan yang bernama Ho, Titi dan Boni. Kreatifitas pada komposisi visual (camera angles, camera movement, lighting, framing of shots) memperkuat cerita utama. Didukung oleh kualitas pengolahan suara dan musik yang baik dan utamanya adalah penyutingan gambar yang terkonstruksi dengan utuh.
 
 
Sewaktu Bertemu di SAE Institute Jakarta

Sewaktu Bertemu di SAE Institute Jakarta

SUTRADARA BULE
Daniel Ziv adalah Sutradara JALANAN. Saya kenal beliau saat menjadi kontributor tulisan musik untuk media besutannya bernama Djakarta. Saya gak kenal dekat, cuma setiap ketemu selalu saling sapa. Pertama kali saya mendengar film ini adalah ketika hadir di acara kecil di apartemen Pakubuwono Residence pada tahun 2007. Bagi saya dia orang gila, orang hebat! Dia memiliki indeks kecintaan terhadap Indonesia melebihi para pemegang Kartu Tanda Penduduk asli. Melalui dokumenter ini saya juga mengapresiasi indera penceritaan Daniel yang sempurna.
 
Perkenalannya dengan Ho, Titi dan Boni dimulai sejak tahun 2006. Sudah pasti, dia menghabiskan waktu dan amunisi lain untuk merampungkan film dokumenter ini. Modal sosial yang dimilikinya menjadi dukungan atas gelombang dukungan yang mengawal proses produksinya. Di acara kemarin, Daniel Ziv bersama Tika menceritakan suka duka memulai dan menuntaskan film JALANAN. Dia tetap seperti biasa, lempeng saja ketika saya tanya kalau film ini adalah pencapaian terbesar dia selama hidupnya. Saya yakin enerji kreatif yang dimilikinya akan membawa kita ke dimensi sinematik yang berbeda.
Duta Pengamen Jalanan Masa Kini

Duta Pengamen Jalanan Masa Kini

 
HO, TITI, BONI
Sepanjang film diputar, sosok Ho, Titi dan Boni mengaduk-aduk emosi audiens. Celotehan spontan mereka sering mengundang riuh tawa yang tidak berkesudahan dan penggeseran yang kerap dirasakan oleh mereka juga menjamah relung hati audiens yang notabene berkecukupan dalam perihal ekonomi. Mereka adalah duta pengamen jalanan yang tidak harus selalu seperti yang dirangkum dalam film. Mereka adalah orang bebas. Mereka bebas melakukan kesalahan lain dalam hidupnya. Mereka hanya singgah dengan misi tidak resmi untuk mereposisi alat ukur keduniawian hari ini. Versi hidup mereka terkini adalah cita-cita banyak anak jalanan.
 
Sebagai orang musik saya mengharapkan ketiga nama tersebut semakin memiliki kemauan dan waktu untuk memperkuat pengetahuan di bidang musik. Mereka beruntung dan sudah naik kelas. Untuk itu, batu loncatan ini harus diperpanjang lebih lama lagi. Mereka harus lebih menguasai formula mencipta lagu, mengasah kemampuan teknis, mempelajari bisnis musik dan mengaplikasikan ke dalam beragam bentuk penyajian dari pengamen jalanan yang masih tersebar di sudut kota metropolitan ini. Saya berharap mereka tidak lantas meninggalkan musik karena tanpa musik mereka tidak akan ada mewakili jalanan. Salam hormat! @2014/AldoSianturi/Photo: AldoSianturi
 
DETAIL FILM
Tayang di Bioskop tanggal 10 April 2014
Trailer: http://youtu.be/TtIOFyNyF6U
www.jalananmovie.com | facebook.com/JalananMovie | twitter.com/JalananMovie
Contact Person: Rudolf Dethu | rudolfdethu@jalananmovie.com | 08111882502

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Ad Sense