30 DEEP QUESTIONS WITH SYAHARANI

 

Syaharani selalu menginspirasi bursa musik domestik melalui bakat, karakter dan rekam jejaknya. Jazz merekomendasi namanya hingga dikenal luas. Namun “Ra” seorang musisi perempuan yang lentur tanpa sekat. Dia belajar banyak dari asam garam musisi senior yang menjangkau cakrawala. Jangan hanya mengenal namanya saja karena Syaharani memang berbeza!

1. Saira Syaharani Ibrahim. Dapatkah dijelaskan arti dari nama lengkap tersebut?
S: Wanderer – Happy – Giving Harmonious – Queen dari berbagai Bahasa, banyak makna. Papa saya Hasan Ali Ibrahim dengan marga Ibrahim dan Mama saya, Elly Zapantis memberi nama yang bermakna pada anak-anaknya. Terimakasihhh

2. Ra lahir di Kota Malang, namun dapatkah ceritakan latar belakang suku, keluarga, urutan anak dan hubungan anda dengan Kota Malang sekian lama sampai hari ini?
S: Keluarga kami, kalau di musik disebutnya fusion, mix. “A good mix takes a good ingredients and good hand (Allah)”. Ada Jawa Tengah, ada Sulawesi Selatan, ada Yunani, ada Hindi. Seru! Tinggalnya di Malang dan Batu waktu kecil, jadi dimana tanah dipijak, di situ langitnya biru lah..hahhaah.

3. Apakah anda berasal dari keluarga Musisi? Seperti apa kenangan awal anda bermusik?
S: Saya menyebut keluarga saya penikmat hidup. Orang-orang yang tidak terikat terlalu banyak hal, menikmati alam, menikmati musik, suka masak, suka makan, suka berkumpul, suka piknik. Ibu saya menulis puisi yang dia simpan, bahkan sampai saat ini usianya 84, dia masih juga menyanyi dan corat-coret beberapa gambar di buku diary-nya. Lalu om saya juga bermain gitar dan menyanyi. Piringan hitam masa lalunya berjudul ‘Bunga Lily” oleh Andre & Leon (Orkes Pelangi) – Republic Manufacturing Company (Remaco). Leon adalah seorang luthier (pemahat) gitar. Namun dari sisi ayah, lebih cenderung ke pedagang dan filsafat.

4. Pada umur berapa anda mulai bernyanyi di depan umum dan lagu-lagu apa saja yang anda nyanyikan? Seperti apa perjuangan anda dalam berkarier? Apakah anda pernah mengalami kesulitan untuk bisa maju?
S: Menyanyi di depan umum, awalnya adalah bergabung di paduan suara. Umur 7 tahun. Menyanyi untuk lomba sekolah, umur 9 tahun dan seterusnya berbagai macam lomba dan diajak oleh para musisi senior. Menyanyi dalam jalur karir, baru kuliah, nge-band di café, awalnya saya nikmati saja semua susah senangnya, keluhan dalam diri itu agak jarang saya tanggapi.

5. Kapan tepatnya anda bernyanyi secara komersil dan di mana saja dulu anda bernyanyi secara reguler?
S: Di Malang bersama band kakak-kakak ITN (Institut Teknologi Nasional) dan kakak-kakak Universitas Brawijaya di The Amsterdam Café Malang lalu beberapa tempat, bentuknya show, tidak regular. Kemudian sempat pindah ke Bali untuk tampil di Bali Padma (Lounge/Bar) cukup lama. Selain itu Jaya Pub Bali, Hyatt, Aman, Jordania dan banyak tempat lagi. Seru sekalian punya kesempatan untuk tau banyak tempat. Traveling is my first name.

Saya dulu ke Jakarta sekitar tahun 88an setelah mendapat arahan dari Bapak Sofyan Ali (Promotor). Mulai ikut test TVRI (Dulu tampil di Program Wajah Baru, harus melalui test bernyanyi). Kemudian saya mendapatkan kesempatan berduet di album Titi DJ 1989 (JEP’s Records) yang berjudul ‘Mumet’ dan akhirnya saya bisa melihat proses rekaman album dan mendengar langsung cerita seputar sistem distribusi independen album Iwan Fals – Mata Dewa dan beberapa artis besar. Beliau sangat banyak memberi wejangan.

Pada pertengahan tahun 1997, saya kembali lagi ke Jakarta bermusik dan memulainya bersama Todung Pandjaitan, Taufan Gunarso, Andy Ayunir. Momen ini menjadi awalan saya untuk mengamati dan belajar seluk beluk produksi musik. Kemudian lanjut bermusik di Jamz Jakarta bersama Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, As Mates dan bersama para senior Jazz Indonesia seperti ireng Maulana, Bubi Chen, Embong Rahardjo, Pattiselano Brothers, Didi Chia, Benny Likumahuwa, Idang Rasjidi, Kiboud Maulana, Margie Segers, Jefferey Tahalele, Cendy Luntungan, Sutrisno (saxophone) sampai sekarang.

6. Apakah bernyanyi adalah sesuatu yang sangat ingin anda lakukan di dalam hidup atau apakah anda memiliki pekerjaan lain sebelum/sambil menjadi penyanyi muda?
S: Saya dulu dipungut oleh salah satu pelatih bulu tangkis di Kota Batu (Malang). Saya melakukan latihan intensif sejak usia 8 tahun. Saya ingin jadi pemain bulu tangkis, tapi di usia 13 tahun, ankle kaki kanan saya lepas, kecelakaan saat lomba. Jadi saya tidak bisa melanjutkannya. Kemudian saya kembali lagi ke Malang untuk melanjutkan kuliah sambil bernyanyi dan akhirnya sempat bekerja di Bank Umum Nasional sebagai Customer Service selama kurang lebih 1 tahun. Riwayat BUN ini berakhir pada tahun 1998. Surviving life is awesome, latihan mandiri. Menjadi penyanyi bukanlah cita-cita saya dulu, tidak pernah membayangkan bisa memproduksi album sendiri.

7. Apakah karier musik anda adalah pilihan pribadi yang sangat mantap? Seingat saya dulu adik anda juga aktif bernyanyi dan sempat diapresiasi generasi tahun 90an. Kemanakah dia? Apakah kalian saling mendukung dalam urusan musik?
S: Alin. Nama artisnya Syiana, judul albumnya “Frustasi” rekaman di BMG yang diproduseri oleh Mas Gilang Ramadhan. Dia memutuskan untuk tidak melanjutkan berkarir di dunia rekaman. Maka sejak saat itu sampai sekarang, dia menjadi partner kerja saya.

8. Apa yang mengarahkan anda ke musik dan jazz?
S: Dari kecil, Mama saya suka mendengarkan jazz dan orchestra semi klasik. Awalnya ya itu, “Tresno jalaran soko kulino”. Saya juga tidak pernah masuk sekolah musik khusus namun hanya ikut pembinaan vokal di gereja (paduan suara kecil) dan kemudian mengikuti Sanggar Vokal Geronimo milik Anton Issoedibjo di bilangan Blok M, Jakarta Selatan. Dulu saya berlatih bersama dengan Oppie Andaresta. Sebetulnya tidak ada yang mengarahkan saya ke musik, karena saya adalah penikmat segala genre baik musik maupun kesenian tari/teater/lukis/grafis dll.

9. Apa arti jazz untuk Syaharani?
S: Seperti naksir kepada seseorang dan nggak pernah merasa bosan untuk menyimaknya.

10. Apakah bermain jazz harus membutuhkan banyak pengetahuan tentang teori musik?
S: Iya. Itulah kenapa saya selalu menyebut saya ini sebagai penyanyi dan entertainer. Karena saya merasa masih kurang memahami ilmu teori musik, meskipun ada beberapa hal yang telah saya pelajari melalui perjalanan.

11. Apakah ada serangkaian usaha yang ditempuh sehingga anda begitu kuat dikenali sebagai jazzer?
S: Ini adalah kepercayaan dari pendengar dan penikmat musik serta dari para senior-senior yang sangat saya hormati. Saya sangat menghargainya dan selalu berusaha untuk selalu tampil sebaik mungkin. Mood Management dan Stage Philosophy adalah hal yang selalu saya gali secara terus menerus.

12. Musisi jazz mana yang memiliki pengaruh besar pada anda dan mengapa?
S: Ya semua senior-senior yang saya tulis di atas tadi. Karena mereka menunjukkan, bagaimana berharmoni dengan kehidupan bukan cuma dengan musik. Karena musik adalah bagian dari kehidupan kita, bagian dari semua orang di seluruh dunia tanpa terkecuali.

13. Apa kesalahan paling umum yang anda lihat pada vokalis jazz pemula dan teknik apa yang bisa anda sarankan kepada mereka untuk mengatasinya?
S: Menyanyi itu menggunakan organ tubuh, jadi maintenance-nya sedikit beda dengan instrument (alat musik). Tiap orang punya perbedaan dan yang harus dipahami adalah untuk memeliharanya dengan sepenuh respek. Itu saja pesannya. Nggak ada yang salah, semua dasar pengajaran di sekolah vocal rata-rata hampir sama. Penjiwaan tiap orang yang berbeda dan kadar bakat juga berpengaruh.

14. Anda pernah tampil bernyanyi di North Sea Jazz Festival, tahun berapakah anda berangkat ke Belanda untuk pertama kalinya? Siapa yang memilih anda untuk bergabung? Dan berapa kali anda sudah tampil di sana?
S: Tahun 2001, Ireng Maulana beserta tim dan sponsor pendukung bersepakat. Saya hanya tampil sekali saja di sana dan selanjutnya saya memproduksi album di www.queenfireworks.com.

15. Bagaimana persiapan anda dan tim untuk tampil di sana? Lalu apa yang anda rekam dari sisi audiens ketika anda bernyanyi untuk mereka? Apa motivasi yang anda dapat setelah kembali dari perhelatan jazz dunia?
S: Selama melakukan latihan bersama tim, kami sama sekali tidak mengalami ketegangan. Itu yang amat saya syukuri, sangat memberi spirit. Seingat saya para senior-senior Jazz tersebut sangat lugas dalam mengkritik tetapi renyah dalam menyampaikannya. Audiens di ruangan ‘khusyuk’ dan terus bertepuk tangan dan pada akhirnya berfoto bersama. Saya sebagai junior, ya kaget. Motivasi yang saya dapast adalah saya akan menyanyi karena melakukannya dengan penuh kebahagiaan. So simple.

16. Apakah setelah itu anda mulai sering tampil di berbagai event musik jazz di berbagai dunia lain? Di negara mana saja anda sudah tampil di luar Indonesia? Apakah anda punya booking agent saat itu dan seperti apa hubungan anda terakhir kali dengan para booking agent dunia?
S: Tidak, saya diajak beberapa event hanya melalui Kedutaan Besar saja. Saya pernah tampil di Berlin, Paris, Washington DC. Saya tidak bergabung dengan Management/Agency. Itu mungkin yang jangan ditiru. Hahaahhaha.

17. Kapan pertama kalinya anda punya rekaman album sendiri? Apa judulnya dan apa nama labelnya? Apakah anda sebelumnya sangat memimpikan ingin memiliki album personal seperti musisi perempuan lainnya? Apa yang ada di benak anda saat pertama kali bersiap untuk beralbum?
S: Tahun 1998 saya ditemui Sandy Tok (Sangaji Music) di Jamz Jakarta dan diajak rekaman di Singapura bersama Om Bubi Chen, Benny Likumahuwa, Oele Pattiselano, Jeffrey Tahalele, Cendy Luntungan dan Sutrisno. Rekamannya mempergunakan pita, beliau tidak mau rekaman digital dan tidak mau di edit. Saya senang bisa ‘lulus’ dari proses rekaman “Live” itu, rekaman pakai pita harus sesempurna mungkin. Kalau diulang melulu maka akan ‘merusak’ mood musisi lain juga.

18. Syaharani bukan seorang penyanyi yang muncul di bisnis musik lewat album rekaman dulu tetapi perjalanan panggung yang sudah tak terhitung. Apakah anda punya rasa sentimen terhadap perjalanan karier bermusik yang tidak sama dengan penyanyi lain?
S: Iya, bahkan ketika memulai produksi “Queenfireworks’, kami lebih banyak manggung dengan lagu ciptaan kami dulu, baru uangnya kemudian ditabung untuk produksi rekaman. Contohnya yaitu saat manggung di UMM Malang, kami menampilkan lagu-lagu ciptaan Queenfireworks, walaupun belum ada rekaman CD. Memang ada sponsor yang suport manggung di masa yang sangat ‘underground’.

19. Lalu perubahan apa saja yang terjadi setelah album pertama keluar? Apakah anda langsung mempersiapkan album selanjutnya atau anda malah kurang nyaman dengan situasi yang dihadapi? Saya ingin sekali mengetahui episode ini.
S: Giving – intinya itu. Menerima segala kritik, input dan nasihat, diolah untuk diberikan lagi pada kehidupan dan lebih banyak orang.

20. Banyak sekali orang yang mengapresiasi karakter vokal anda, bahkan mungkin mereka ingin sekali punya range vokal yang lebar ketika menyanyikan lagu jazz. Tetapi sepertinya anda justru tidak begitu nyaman disebut sebagai penyanyi jazz? Apa yang merisaukan anda dan bukankah realitanya memang seperti itu?
S: Saya pikir, saya ini hanya seorang anak desa, saya tidak bersiap untuk semua itu. Tetapi saya belajar menerima dengan usaha memperbaiki diri selalu. Stardom itu tidak ada di kamus hidup saya. Saya ini penganut ilmu alam. Langit itu jauh, tetapi bisa dihayati dengan mencintai bumi dan segala makhluknya (Semoga ini tidak sulit diterima)

21. Tentunya adalah alasan kuat kenapa Syaharani hadir dalam format ESQI:EF (Queenfireworks) yang sangat jauh berbeda dengan kebiasaan khalayak menikmati pakem jazz yang kental sebelumnya. Apakah anda menyadari kalau keputusan itu lantas membuat penggemar solidnya menjadi kebingungan meskipun dari proyek terbarunya Syaharani punya penggemar baru? Apakah Syaharani pernah mendengar keluh kesah tersebut langsung dari penggemar atau tidak sama sekali?
S: Pada awalnya, saya hanya berpikir, saya tetap akan menyanyikan lagu2 ‘Jazz Standard’ (standard book of jazz) dalam setiap konser, tapi saya juga penasaran untuk terlibat penuh dalam memproses sebuah lagu hingga bisa nyaman dinyanyikan dan dinikmati. Itu sebabnya proyek saya dibantu oleh Donny Suhendra dan Didit Saad, kami lantas menggubah lagu. Selain itu, ternyata ada banyak pengetahuan baru di dalam produksi. Ini seru. Harus belajar menabung serius dan memberikan waktu penuh buat banyak hal yang saling berkaitan Saat itu rasanya ada energi baru. Jadi harus dijadikan sesuatu/karya. Ini perihal hasrat berkesenian.

Terus terang, saya nggak berpikir meninggalkan lagu2 “jazz standard, karena kami juga membuat versi-versi berbeda atas lagu-lagu itu dalam konser. Karya proyek Queenfireworks> ESQI:EF (Syaharani & QueenFireworks) bukan sebagai pembatas, tetapi penyambung genre. Dalam visi itu kami memulai. Denny Sakrie menyebutnya sebagai Hibrida-Musik. Pandangan beliau sudah jauh di depan. Kami baru sadar setelah beliau mencuatkan itu press rilis kami. Bahwa ada penikmat baru dari generasi yang berbeda, saya kira itu konsekuensi logis. Tapi yang penting berkarya itu, ‘positive energy spending’ jadi ada maknanya kehidupan berkesenian .

22. Bagaimana anda menilai eksplorasi yang ditempuh dalam pakem bermusik? Apakah yang sangat mempengaruhi Syaharani begitu bernyali muncul dengan presentasi musikal yang sangat permisif terhadap aliran musik lain, seperti folk, reggae dan pop?
S: Ya arena visinya: Karya proyek Queenfireworks > ESQI:EF (Syaharani & QueenFireworks) bukan sebagai pembatas, tetapi penyambung genre. Kenapa begitu? karena dalam buku “Life Stage Delight” yang saya tulis (2008; Gramedia) menyampaikan: perkembangan musik itu seiring perkembangan budaya, manusia juga melakukan ‘cross genre’ dalam kehidupan sehari-hari seperti pernikahan antar suku, antar negara, menciptakan masakan dari bahan2 antar daerah/negara dengan rasa baru yang seru, meng’koneksi’kan teknologi dan segala penemuan dengan segala aspek kehidupan termasuk musik . Ketika Kak Aldo nge-DJ juga adalah bagian dari itu heheheh. Kesenian itu ya kehidupan itu sendiri.

23. Apa sebenarnya yang tidak berubah dari Syaharani?
S: Tetap butuh piknik alam terbuka, jarang mandi kecuali saat wabah Covid-19. Ini berubah. Tetap harus ada pertemuan dengan keluarga dan sahabat-sahabat. Tetap tidak berhasil diet, karena doyan makan.

24. Musisi dapat membawa instrumen musiknya ke pertunjukan, dimana mereka tahu instrumen tersebut akan bekerja setiap saat. Tetapi ketika instrumen anda adalah suara, bagaimana anda memastikan instrumen itu selalu siap untuk sebuah pertunjukan? Seperti apa anda melatih vokal sepanjang masa?
S: Pernafasan adalah hal yang tidak mungkin kita tinggalkan saat kita hidup-maka berlatih dalam berbagai kesempatan. Tidak perlu khusus bahkan sampai tegang dan stres. Kita lakukan seperti kita bernafas dan kita tingkatkan lagi dengan belajar dari yang lebih tahu dan paham.

25. Ra telah mencapai banyak hal dalam karier, saya hanya ingin tahu apakah anda masih memiliki harapan, impian, dan ambisi?
S: Wah, perjalanan ini penuh harapan dan usaha, walau sekecil apapun. Ambisi adalah kata yang ‘garang’ sekali buat diungkapkan. Buat saya, lebih suka pakai kata Kerja-kerja-kerja seperti Pak Jokowi. Hahahahaha

26. Apakah selama ini anda tidak pernah berniat untuk berkarier di negara lain yang punya pasar musik yang jauh lebih stabil dari Indonesia dalam perihal nilai ekonomi? Seperti apa pertimbangan anda?
S: Pasar di Indonesia ini kan besar. Yang dari luar saja berusaha untuk masuk ke sini. Artinya situasi tersebut patut dicatat. Untuk bisa besar di industri Internasional, kita tidak bisa berdiri sendiri. Harus bergabung dengan managemen Internasional dan ada regulasi antar negara, pengetahuan bisnis industri internasional dan saya belum pernah menjajaki kemungkinan itu, terus terang saja. Saya sepakat bahwa nilai ekonomi terus harus ditingkatkan. Ini sudah banyak dilakukan teman-teman indie pada masa kini. Saya mengakui, itu keren dan tidak mudah.

27. Bagaimana anda menggambarkan pasar musik Indonesia? Apakah ide yang paling realistis agar musisi yang eksploratif seperti anda mendapatkan prioritas dari para penggerak acara di nusantara? Apakah saran anda untuk cara mereka mengurasi line-up musisi?
S: Penikmat musik di Indonesia ini, daya tangkapnya luar biasa luas. Bisa menikmati musik Didi Kempot dan bisa nonton konser jazz juga. Range-nya bisa begitu dan asik. Saya nggak punya saran kurasi, kecuali buat ‘Conceptive Concert’. Sebab banyak penyelenggara dan sponsor yang menghitung jumlah penonton sebagai hal yang utama. Jadi hanya butuh komitmen dari semua pihak bila benar-benar mau ada kurasi. Dukungan dari negara juga sangat dibutuhkan, jika kita mau melihat, musik ini sebagai ‘agen’ untuk memuliakan kebudayaan dan meningkatkan devisa .

28. Bisnis musik telah berubah cukup signifikan sejak pertama kali anda mulai berkarier. Apakah atas kesukaan mereguk kopi maka apakah anda juga bercita-cita untuk memiliki kedai kopi atau minat bisnis lainnya. Apakah penting bagi musisi akhir-akhir ini untuk memiliki semacam cadangan ketika karier musik itu mulai tidak menentu komersialisasinya?
S: Sejak kecil, minuman semacam jamu herbal. Kopi, Teh dan Wine sudah menjadi hal yang selalu ada di rumah. Selain sebagai minuman yang bermanfaat, juga bisa diolah berbagai rupa. Saya suka minum kopi dan mengolah nya dalam beberapa variasi, dari kecil juga saya latihan sama Mama-Papa. Jadi terbawa sampai sekarang, seperti ritual yang asik. Memiliki kedai, yes! Saya ingin. Tapi harus belajar banyak sisi, terutama sisi bisnisnya. Saya ini nggak kental jiwa bisnisnya. Maunya bagi-bagi gratis hahahaha, jadi harus tandem sama rekanan yang bisa jadi ‘rem’ dan juga membuka wawasan wirausaha. Semoga ketemu. I just can’t do it alone.
Namun saat ini saya sudah menjadi endorser berbagai varian kopi. Mungkin ini sebuah start yang baik.

29. Seperti apa karakter asli seorang Syaharani?
S: Apa yang aku lihat dalam diriku belum tentu juga harus dilihat orang lain. Biar mereka yang berkomentar:)

30. Syaharani adalah pribadi yang sangat hangat dan antusias mendukung siapapun. Seperti apa anda menerjemahkan rasa cinta yang selama ini anda dapatkan dari siapapun yang bersinggungan dengan anda? Di usia sekarang, bagaimana anda memaknai cinta?
S: Tuhan memberi, Alam memberi. Termasuk memberi konsekuensi sehingga kehidupan bisa berlangsung dan memiliki keseimbangan. Why don’t we?

@2020/Aldo Sianturi | Photo Credits: Syaharani, Istimewa

One Reply to “30 DEEP QUESTIONS WITH SYAHARANI”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *