30 DEEP QUESTIONS WITH DEWA BUDJANA

Dewa Budjana memilih realita sebagai gitaris. Dari jauh mungkin titian kariernya terlihat normal tapi semua itu harus diluruskan. Budjana adalah konsisten, pekerja keras, bukan pembuang waktu, produktif, bercita-rasa, pandai membawa diri, tidak pernah putus asa, selalu punya solusi dan ramah kepada setiap orang. Itulah kenapa Budjana sangat dicintai oleh kita semua sebagai teman dan role model musisi yang edgy! Sepakat?

1. Mas Budjana adalah salah satu gitaris yang mendunia dan sangat dicintai masyarakat Indonesia. Apakah karena apresiasi besar itu semua lantas Mas Budjana jadi sangat mengatur perilaku dan etika dalam menjalani keseharian? Pertanyaan yang saya ingin tanyakan dari dulu adalah tentang album religi, seperti apa alasan paling dasarnya Mas?
Wah seneng banget kalau dicintai masyarakat Indonesia, itu yang paling utama. Tetapi apa yang saya jalani semua natural saja. Mungkin saya satu-satunya musisi yang telah merilis album beberapa agama di Indonesia. Beberapa album Ramadhan dengan Gigi, album Christmas, album Hindhu dan album Budha. Karena bermain musik tidak harus melihat agama-nya apa, satu hal yang terpenting adalah ketika kita bisa membahagiakan orang lain, di situ sumber kebahagiaan yang kita dapat.

2. Sejarah mencatat ada 2 kelompok musik yang pernah diperkuat oleh Mas Budjana yaitu Squirell dan Hydro di Surabaya. Apakah di kedua band tersebut Mas Budjana telah memiliki wacana untuk beralbum atau belum? Apa perbedaan konten musik yang dilatih kedua band tersebut?
– Squirrell adalah Grup saya selama SMA di Surabaya, dimana saya mulai intens bermusik.
– Hydro (1988-1992) adalah Grup Café saya saat awal pindah ke Jakarta dan inilah awal mula saya ikut band Top40 (Café to Café).

3. Mari kembali ke masa lalu. Sebagian besar generasi milenial awal pernah tau kalau Mas Budjana sering sekali tampil bermusik di TVRI. Seperti apa jalan yang anda dapatkan sehingga akhirnya bisa tampil di layar gelas di masa yang serba sulit akses itu?
TVRI adalah bagian terpenting dari perjalanan saya menuju menjadi Musisi Profesional. Karena media saat itu hanya TVRI, jadi konten tontonan ya hanya melalui media itu saja. Beruntung saya mendapat kesempatan jadi pengisi tetap di TVRI. Jimmie Manopo adalah orang pertama yang mengajak saya untuk tampil di Telerama dan acara lainnya, semua serba kebetulan dan keberuntungan saja.

4. Siapa saja musisi yang paling sering tampil dengan Mas Budjana saat itu? Apakah mereka musisi senior semua atau seusia?
Jimmie Manopo (musisi lebih senior dari saya), juga Orkes Telerama kebanyakan musisi-musisi yang lebih tua usianya. Di acara-acara lain, saya juga sering bermain dengan musisi muda seperti: Iwang Noorsaid, Roedyanto, Cendi Luntungan dan Indra Lesmana.

5. Di tahun 80an, apakah Mas Budjana sudah punya fix income dari bermusik? Seperti apa kondisi keuangan anda saat itu? Darimana saja sumber keuangan yang diterima bulat setiap bulan dan bagaimana anda mengaturnya sehingga kebutuhan bulanan terpenuhi? Apakah anda sangat berhemat sejak punya job pertama sampai sekarang?
Sebelum mulai ikut dalam grup Hydro, sekitar 1985 saya tergabung dalam Ireng Maulana Associates. Jadi saya sebagai musisi panggilan untuk di lounge-lounge hotel yg dikelola oleh Ireng Maulana. Di sana saya belajar memainkan lagu-lagu Standard Jazz dan tentunya sudah ada fix income dan saya juga mulai bekerja sebagai session guitarist untuk beberapa musisi di studio rekaman.

6. Siapa musisi yang tidak akan pernah Mas Budjana lupakan jasanya seumur hidup? Atas dasar apa anda merasa berterima kasih atau berhutang budi kepadanya?
– Jimmie Manopo (Beliau mengenalkan saya untuk bisa tampil di TVRI)
– Jack Lesmana (Beliau mengajarkan saya tentang Jazz)

7. Sejak usia berapa Mas Budjana berniat untuk berkarier total sebagai gitaris sebenarnya? Di fase awal tentunya banyak pilihan untuk menjadi piawai pada instrumen musik lain, apa niat utama untuk serius mempelajari gitar? Apakah pernah mencoba untuk menekuni posisi lain?
Sejak usia 11 tahun, saya mulai tertarik gitar di Klungkung, Bali. Saya tidak punya pilihan lain karena cuma instrument itu yang paling mungkin didapatkan.

8. Apakah Jazz adalah aliran musik yang Mas Budjana sangat minati, pelajari, seriusi dan tekuni? Di saat hingar bingar musik rock gempita di tahun 80an, apakah ada keinginan untuk pindah aliran musik dengan bergabung ke band rock?
Awalnya saya suka music Folk (Leo Kristi, Harry Roesli, John Denver dan lainnya). Sejak pindah ke Surabaya (SMP), saya mulai ngeband dan terpengaruh dengan musik-musik dari John McLaughlin, Yes, Gentle Giant, Chick Corea)

9. Apakah jaman dulu Mas Budjana juga pernah menjadi guru gitar privat atau mengajar di sekolah musik? Siapa saja gitaris yang pernah dilatih langsung?
Secara khusus belum pernah jadi guru, tapi waktu saya belajar di sekolah “Forum Jack & Indra Lesmana” (cikal bakal Farabi), saya pernah jadi asisten Alm. Oding Nasution yang saat itu telah menjadi pengajar tetap. Saya ingat sempat menggantikan Oding untuk mengajar Abdee, Marshall dan Boris.

10. Setelah mengantongi jam terbang bermusik yang semakin tinggi, apakah saat itu Mas Budjana mudah untuk didekati untuk diajak gabung dengan kelompok musik lain?
Sebagai “Sessionist” tentunya harus fleksibel dan harus gampang untuk bekerja-sama.

11. Begitu banyak gitaris di kehidupan ini yang punya keinginan bahkan ambisi memiliki signature status seperti Mas Budjana. Apa sebenarnya yang membuat mereka tidak dapat merealisasikan tujuan mulianya? Apakah karena tidak fokus atau memang tidak punya kemauan yang kuat atau bingung untuk menjadi diri sendiri? Apa opini Mas Budjana atas situasi ini dan apa kiat yang bisa disampaikan?
Mungkin hanya kebetulan dan saya beruntung saja. Tentunya saya cuek untuk selalu terus berkarya.

12. Dunia rekaman adalah hal yang berbeda, apalagi ketika masih di jaman rekaman analog dengan pita. Bagaimana perkenalan Mas Budjana dengan studio rekaman? Bekal apa yang dibawa saat rekaman pertama kali? Apakah masih ingat rekaman pertama kali dengan siapa dan di studio mana?
Kebetulan saya sudah mulai mengenal studio saat masih SMP di Surabaya dan ketika SMA saya semakin rutin masuk studio. Karena bertepatan juga kebagian mengisi acara rutin di TVRI Surabaya yang mengharuskan sering kenal studio. Ketika pindah ke Jakarta pada tahun 1985, saya sudah tidak asing dengan konsep studio rekaman, tapi tentunya terus belajar di setiap studio.

13. Bagaimana pengalaman rekaman Mas Budjana selanjutnya? Apakah lantas jadi keranjingan untuk mengulik dan mempelajari seluk beluk rekaman? Apakah saat itu lebih nyaman bekerja sebagai musisi pendukung? Bagaimana episode ini berjalan?
Terlibat sebagai session guitarist tentunya untuk segala genre. Saya pernah rekaman dengan Indra Lesmana, Erwin Gutawa, Elfa Secoria, Dedi Dores, Nike Ardila. Soundtrack Catatan Si Boy 2 (1987/Team Records) adalah album dimana saya untuk pertama kali ikutan bermusik untuk sealbum penuh bersama Erwin Badudu dan Harry Sabar. Diantara tracklisting keseluruhan, ada lagu “Emosi Jiwa” yang dinyanyikan oleh Yana Julio dan Lita Zen.

14. Spirit Band adalah kelompok musik yang pernah dinaungi Mas Budjana dan berhasil merilis 2 album yang bertajuk Spirit dan Mentari. Saat itu semua anggotanya adalah musisi muda. Bagaimana indeks penampilan band ini saat itu? Apakah cukup padat? Kenapa band ini tidak panjang usianya seperti Krakatau atau Karimata?
Mungkin kesibukan saya terlalu banyak, sehingga thn 1992 saya mengundurkan diri dari Spirit dan mereka tetap jalan tanpa saya.

15. Mas Budjana punya hubungan cukup dekat dengan mendiang Jack Lesmana, apa saja pembobotan yang diterima langsung dari ikon musik jazz yang dikenal cukup ketat dalam urusan bermusik tersebut? Apakah petuah yang tidak terlupakan darinya?
Satu hal yang paling saya ingat, Om Jack belum pernah memaksakan saya harus ikut gaya bermainnya. Sejak awal ketemu, saya disuruh main dengan bebas. Anggapan saya, mungkin saya harus mengasah cara main sendiri. Hal lain yang saya banyak pelajari adalah lebih ke kehidupan beliau. Itu pelajaran yang jauh lebih penting daripada belajar telnik.

16. Dalam waktu bersamaan, Mas Budjana juga membentuk grup Java Jazz bersama Indra Lesmana. Bagaimana rasanya bermusik dengan putra mendiang Jack Lesmana yang sangat dihormati? Apa opini anda terhadap kemampuan bermusik Mas Indra? Apa juga konsep yang dipapar oleh Java Jazz?
Adalah sebuah cita-cita saya bisa main bareng Indra dan saya belajar banyak sekali dari musisi-musisi yang jauh lebih bagus dari saya.

17. Di titik apa sebenarnya Mas Budjana merasa yakin memiliki amunisi untuk semakin mengukuhkan profilnya di blantika musik Indonesia? Dorongan apa yang akhirnya hadir terus menerus untuk punya perbedaan dalam mempersiapkan konsep bermusik sebagai solois?
Selama aktif sebagai sessionist, saya selalu membuat karya-karya instrumental, karena hal itu yang tidak bisa saya ditinggalkan sejak di Surabaya dan beberapa simpanan lagu itu yang menjadi bahan album solo saya.

18. Beberapa gitaris di Indonesia diketahui pernah mengenyam sekolah gitar di luar negeri. Apakah pernah terbersit bagi Mas Budjana untuk punya tekad mengambil investasi pendidikan seperti itu? Apakah tidak mungkin dilakukan karena jadwal main yang padat atau jalan tersebut tidak pernah menjadi daftar pilihan?
Cita-cita saya ketika lulus SMA adalah belajar musik di Amerika, itu yang belum pernah kesampaian hingga saat ini, karena gak ada biaya ha ha ha. Ketika punya duit dari Gigi, saya batal terus untuk berangkat sekolah, karena keasyikan ngeband.

19. Kapan kali pertama Mas Budjana tampil bermusik di luar negeri? Apa yang anda pikirkan setelah acara tersebut rampung? Apakah ada satu enerji untuk persiapan masa depan? Apakah perjalanan bermusik ke luar negeri mengembangkan rencana-rencana awal yang telah dikantongi saat itu?
Tahun 2002 saya rekaman untuk pertama kali di Amerika, semua serba nekat dan kebetulan beruntung saja, akhirnya berlanjut terus selalu rekaman di Amerika. Ini jadi bagian saya belajar menggantikan cita-cita saya untuk bersekolah di Amerika sebelumnya. Jadi setiap rekaman album itu adalah sekolah buat saya.

20. Semua musisi dunia saling berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Bagaimana Mas Budjana mempersiapkan kemampuan berbahasa sehingga akhirnya mempermudah interaksi? Apakah hal tersebut sempat menjadi kendala dan solusi apa yang ditempuh?
Kemampuan Bahasa Inggris saya sangat secukupnya dan bukan masalah untuk jadi musisi yang rekaman dengan musisi asing. Yang penting saya punya karya dan mereka mau memainkan karya saya, itu yg paling utama.

21. Ketika JAMZ Jazz Club di Panglima Polim berjaya, sesering apakah Mas Budjana tampil di sana? Seperti apa ketertarikan audiens terhadap musik jazz saat itu? Apakah jazz telah menjadi persembahan musik yang disukai oleh segmentasi audiens di Ibukota?
Saya sering tampil secara rutin dan JAMZ Panglima Polim menjadi bagian sejarah buat musisi-musisi jazz di Indonesia dan saat itu audiens sangat menikmatinya.

22. Apakah Mas Budjana mengambil keuntungan untuk bermain musik bersama beragam musisi jazz dunia ke JAMZ Panglima Polim yang tampil silih berganti? Apakah anda cukup gencar melakukan pendekatan langsung atau sebaliknya, mereka yang mencoba mendekati Mas Budjana?
Bisa saling silang dan berjalan natural saja.

23. Tiba-tiba di tahun 1994, Mas Budjana diberitakan secara luas oleh berbagai media bersama para personil Gigi melalui debut album berjudul Angan yang disusul dengan album Dunia dan ¾. Melalui ketiga album ini sosok Mas Budjana semakin dekat di hati audiens yang terpikat oleh lagu hits yang sangat populer. Bagaimana anda memaknai perjalanan musik yang atmosfir audiensnya jauh berbeda?
Semua saya anggap jalan yang memang harus saya jalani dan bertemu teman-teman Gigi juga bagian dari Karma saya sebagai manusia.

24. Ketika Kang Baron tidak lagi bergabung di Gigi sebagai gitaris, seperti apa adjustment yang diambil Mas Budjana dalam urusan sumber suara instrumen gitar yang telah terbangun corak awalnya. Seperti apa penyesuaian teknikal yang harus diselesaikan dan kenapa tidak mencari gitaris lain untuk menjaga format keaslian grup?
Sesuatu yang sangat berat ditinggal Baron, tapi itu juga bagian yg harus saya jalanin dan jadi tantangan baru buat saya. Dan gak ada yang menyangka, tokh akhirnya Baron kembali ke Gigi sebagai manager.

25. Akhirnya pada tahun 1997, album solo pertama Mas Budjana berjudul Nusa Damai dirilis. Gambar sampul album ini magnetik sekali, dimana Mas Budjana tampil bebas dengan gugusan properti gitar yang melatari. 10 lagu di album ini juga punya 2 judul yang boleh dibilang tidak biasa didengar oleh awam seperti Kromatiklagi dan Dialisis. Pergulatan apa yang terjadi dalam mempersiapkan debut album ini? Pesan apa yang ditransmisikan sebenarnya kepada pendengar musik?
Nusa Damai adalah simpanan karya-karya saya selama mulai hidup di Jakarta. Judul-judul lagu dalam album ini merupakan semua pengalaman di sekitar saya.

26. Setelah album pertama diapresiasi khalayak luas, selanjutnya seiring dengan waktu proyek solo terus bergulir sampai sekarang. Apa yang dapat disimpulkan dari keseluruhan format solo untuk album Gitarku, Samsara, Home, Dawai In Paradise, Joged Kahyangan, Surya Namaskar, Hasta Karma, Zentuary, Mahandini. Apakah pesan yang ingin diterima oleh audiens dalam garis besar?
Semua jadi bagian waktu ke waktu dan sebagai story-telling kehidupan saya. Satu hal yang selalu saya sebut, Seniman harus berkarya, karena karya akan menjadi terapi/obat bagi dirinya sendiri, kalau malas berkarya maka akan lebih banyak mengomel dan bikin badan tidak sehat.

27. Menilik proyek solo album, Mas Budjana punya banyak kesempatan bekerjasama dengan musisi dunia seperti John Frusciante, Jordan Rudess, Marco Minnemann, Peter Erskine, Jimmy Johnson, Vinnie Colaiuta, Tony Levin, Gary Husband, Antonio Sanchez, Jack de Johnette. Bagaimana proposal anda terhadap semua musisi dunia ini? Seperti apa skema bisnis yang terjadi dengan semua musisi? Apakah orientasi mereka murni ke monetisasi?
Selalu saya sebut Natural aja dan saling terkait, mereka mau karena saya sudah main dengan musisi sebelumnya, itu yg jadi referensi setiap musisi saat diajak kerja sama. Kadang saya cuma menghubungi lewat e-mail mengajak mereka dan kebetulan mereka semua mau.

Dan juga secara kebetulan, akhirnya saya jadi yang paling banyak rekaman dengan musisi asing. Tapi yang utama saya harus prioritaskan adalah musisi-musisi yang besar secara nama. Artinya kalau mereka punya nama besar tentunya mereka punya kredibilitas yang besar juga dan inilah yang saya anggap bahwa dari setiap rekaman, saya bisa selalu belajar. Saya juga tidak pernah nyangka kalau akhirnya saya jadi berteman dengan Frusciante, Mc Laughlin, Steve Lukather, Steve Vai. Mereka semua cukup rutin mengirimkan kabar via e-mail.

28. Saya mendapat informasi dari Danny Ardiono (Sound Engineer) kalau tanggal 12 Juni 2020, hari Jumat akan diadakan konser live tapping Zentuary dari Tebing Breksi Jogjakarta via loket.com, dimensi apa yang Mas Budjana persiapkan untuk sebuah konser sehingga punya rasa yang saling menguatkan dengan albumnya? Idealisme apa yang dikejar dan dipertahankan?
Konser adalah bagian penting dari Musisi dan albumnya. Konsep venue terbuka dan menyatu dengan alam adalah konsep saya sendiri yang disetujui oleh sahabat saya Lemmy Ibrahim sebagai Promotor. Buat saya, mengadakan konser di tempat-tempat yang eksotis bisa membuat perpaduan musik dengan sekitarnya menjadi saling mengisi dan beberapa musik yang saya buat sangat memerlukan tempat interaksi alam yang ada. Mungkin ini salah satu konser terbesar yang pernah saya lakukan dan tidak akan terlupakan.

29. Apa perspektif Mas Budjana terhadap pandemic global ini? Apakah sampai tahun depan orang akan punya kesabaran menonton live streaming show meski mutu internet di Indonesia selalu naik turun? Apakah anda memiliki ide untuk sesama musisi dalam mengolah situasi di masa sulit ini?
Manusia selalu diajarkan untuk fleksibel dan pandai beradaptasi. 3 bulan ini kita banyak belajar hal baik yang bisa jadi bekal nantinya menghadapi New Normal. Sekitar 2 bulan penuh saya mengerjakan konsep “Remote Live Online” bermusik jarak jauh tanpa direkam bersama Indra Lesmana & Djundi Karjadi, kami mencoba terus hal yang belum pernah dilakukan di manapun. Semoga nantinya kegiatan ini akan menjadi sesuatu yang mudah dilakukan oleh semua orang.

30. Mas Budjana sudah punya museum gitar sendiri dan sudah merilis buku sendiri. Apalagi yang akan dirilis di masa depan sebagai bagian dari personal branding? Hal apa yang belum kesampaian dikerjakan sampai saat ini?
Museum Guitar adalah cita-cita pribadi. Saya mulai mengoleksi gitar-gitar yang dilukis oleh perupa-perupa legendaris di Indonesia sejak 2002 dan 2013 dirilis dalam bentuk buku yang ditulis oleh Mas Bre Redana. Nah sejak 2006 mulai terpikir untuk me-museum-kan gitar-gitar langka yang saya miliki dengan lukisan-lukisan yang keren itu. Sayang sekali, Museum Guitar belum bisa berdiri karena kendala kerjasama saat 2013 dengan hotel dan akhirnya harus saya kembalikan ke cita-cita awal sebagai Museum Pribadi. Semoga kelak akan bisa direalisasikan.

@2020/AldoSianturi/Photo: Dewa Budjana Photo Assets, Aryono Huboyo Djati, Didiet Sakhsana, Istimewa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *