30 DEEP QUESTIONS WITH ANANDA SUKARLAN

Ananda Sukarlan diapresiasi oleh bangsa lain di berbagai benua.  Sang musisi nan jenius. Dia musisi Indonesia yang mendunia lewat jalur musik klasik. Sayang sekali, kita semua kurang mengapresiasi musik klasik dan musikalitasnya. Padahal musik klasik adalah “Mbah” segala aliran musik. Sayang sekali! Semoga kita dapat  menggali bingkai-bingkai pemikiran Ananda Sukarlan yang tidak pernah berpikir hanya untuk dirinya sendiri. 

1. Siapa yang memperkenalkan musik klasik kepada anda di waktu kecil? Motivasi apa yang membuat anda lantas mempelajari piano? Apakah bermusik adalah sebuah tradisi panjang di dalam keluarga anda?
A: Waktu kecil ada piano bekas tinggalan teman keluarga Belanda. Karena saya tujuh bersaudara (saya bungsu), kakak saya yang nomor 3 saja yang di les-in karena orang tua kami bukan orang kaya. Dia pulang les piano, dia ngajarin adik-adiknya. Nah karena saya masih kecil saya nggak dihitung ikut diajari main piano. Tapi saya bikin berisik, main piano sendiri. Akhirnya orangtua bilang, itu adikmu diajari saja daripada bikin berisik. Malah ternyata saya yang paling berminat. Kakak-kakak saya enggak ada yang lanjut.

2. Apakah anda kemudian disertakan ke sekolah musik atau mengundang guru privat untuk mengajar piano secara intens oleh keluarga? Apakah anda belajar langsung dari para pemain piano handal? Apa yang membuat ketertarikan anda semakin besar dengan musik klasik? Akhirnya yang anda ingin kuasai apakah permainan piano atau musik klasiknya sendiri?
A: Nah, terus saya ternyata cepat sekali nangkepnya. Kemajuannya katanya pesat banget, bahkan kakak saya yg udah les beberapa bulan udah keduluan “ilmu”nya dengan saya, sampai akhirnya dia menyerah. Kebetulan sekolahnya udah mulai sibuk, dan dia bilang ke mama, “udah lah biar si Ananda aja yg les, duit lesnya buat dia aja”. Saya sih ga ada yg memotivasi, mendorong…. emang tau2 udah nempel aja ama piano dan di otak saya mulai terbentuk permutasi nada-nada sejak kecil. Soal kenapa saya jadi bisa gampang banget main piano, itu misteri yang baru terpecahkan pada usia 28 tahun: saya ternyata pengidap Asperger’s Syndrome. Baca deh https://health.detik.com/true-story/d-4036865/kisah-ananda-sukarlan-idap-sindrom-aspergers-hingga-jadi-pianis-andal

3. Seperti apakah lingkungan musik anda masa kecil dan remaja? Apakah anda punya ketertarikan lain kepada aliran musik lain seperti Jazz, Rock, Punk, Disco sebelumnya? Musik klasik tidak selalu populer bagi semua orang. Bagaimana anda masuk ke dalamnya, ketika pasti sebagian besar teman anda mendengarkan musik pop yang populer?
A: Ada keluarga Belanda, teman mama yang balik ke negaranya, meninggalkan koleksi piringan hitamnya yang ada puluhan. Itu semua musiknya Rachmaninoff, Tchaikovsky, Mozart, Bach dll. Kata kakak2 saya, dari sejak pulang sekolah ampe tidur saya dengerin itu aja, sama main piano, lupa mandi, makan, belajar. Itu juga ternyata aspek dari Asperger’s Syndrome itu sih. Saya bisa ingat semua simfoni Rachmaninoff atau Prokofiev yang panjangnya sampai 40 menit.

Tapi kakak2 saya juga punya kaset The Beatles, Queen, Elton John dan lainnya, tapi 3 itu yang jadi favorit saya. Jadi musik mereka juga jadi bahan acuan sampai sekarang (ditambah Michael Jackson, Pet Shop Boys dan Lady Gaga sih sekarang). Juga mama punya kaset The Beach Boys. “God only knows what I’d be without you”, mom!

4. Tahun 80an, musik klasik sempat mendapatkan perhatian melalui program di TVRI. Kemudian dengan bertambahnya stasiun TV di Indonesia, apakah menurut pengamatan anda atas indeks eksposur atas musik klasik lebih memiliki perkembangan atau tidak sama sekali? Apa opini anda terhadap keengganan para produser televisi mengekspos musik klasik di Indonesia?
A: Saya ingat, setiap Kamis malam ada program musik klasik dari NHK, Jepang di TVRI. Itu yang saya tunggu2 banget. Tapi kemudian stop tayang dan stasiun TV lain nggak nyiarin apa2. Nah, setelah 1987 saya nggak bisa bilang apa-apa karena saya lulus SMA dan kemudian kuliah ke Belanda.

5. Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah di Kolese Kanisius, anda pindah ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan di Royal Conservatory of Den Haag. Siapakah yang menyarankan untuk berkuliah di sana? Apa yang membuat tekad anda bulat untuk belajar musik? Kenapa harus ke luar negeri? Apakah anda tidak pernah terpikir untuk masuk ke fakultas ekonomi, teknik sipil atau hukum di Indonesia seperti kalangan umum? Apa sebenarnya keinginan jangka panjang anda saat itu?
A: Saya beneran hanya berminat ke musik, dan kemampuan saya di Matematika, Arsitektur dll. Itu nol besar. Totally useless! Bahasa saya lumayan, gak bego2 amat. Ortu juga kebingungan, karena untuk musik klasik saat itu (sampai sekarang juga sih) hanya bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri. Untung waktu itu saya “ditemukan” oleh Pak Fuad Hassan (saat itu menteri P&K), lewat Ibu Pia Alisjahbana yang ngotot bahwa saya “jenius” (kalau saja beliau tau, saya ngitung duit kertas, ngiket tali sepatu aja ga becus!), dan pak Fuad kok setelah dengar saya main piano juga ikutan percaya! Pak Fuad bilang ada beasiswa G2G dengan Belanda, saya ikutan tes, dan ehm … lulus dengan cukup mudah sih.

6. Apa saja manfaat yang anda berhasil dapatkan sejak berkuliah di sana dan setelah lulus, seperti apa pengembaraan anda di dunia musik? Apakah anda langsung kembali ke Indonesia atau tetap di negara yang sama atau pindah ke sebuah negara? Saat itu bagaimana anda menilai penerimaan musik klasik di Indonesia?
A: Saya lulus dengan Summa Cum Laude (bahasa Belandanya 10 met onderscheiding, yaitu nilai 10 tapi extra), terus mengikuti beberapa kompetisi piano dan menang. Untuk saat itu (sampai sekarang), kompetisi itu adalah “pintu” untuk berkarir, anak tangga pertama yang harus dilewati. Saya pernah menulis tentang itu untuk para musikus klasik Indonesia: https://seword.com/umum/bagaimana-cara-memenangkan-kompetisi-piano-tNstLNZDSW

Nah saya inget pertanyaan orangtua bahwa di Indonesia itu musikus klasik itu bukan “makan apa?” tapi “apa makan?”, sedangkan karir udah lumayan di Eropa. Saya pikir, ya ngapain pulang kalau gitu ….

7. Kapan anda memutuskan untuk berkarier sebagai musisi di dunia panggung? Sejak kapan anda memilih untuk menjadi solois? Apakah anda pernah berkecimpung di dunia orkestra? Seperti apa pengalaman anda?
A: Sebetulnya saya tidak memutuskan, hidup saya tuh persis kata John Lennon “Life is what happens to you when you’re busy making other plans”. Beneran kecemplung aja, karena kontrak untuk konser dan rekaman berdatangan setelah para promotor melihat saya di berbagai kompetisi. Itu uang, masa saya tolak? Banyak yang nggak tau, sebetulnya saya itu nggak suka bepergian dan punya sedikit phobia dengan kapal terbang. Jadi, saya udah ke seluruh negara Eropa Barat, Amerika, Australia dll tapi saya benar2 menganggap itu kerja. Udah 20 x lebih saya ke Paris, dan baru ke 20 x nya saya menyentuh menara Eiffel dan naik perahu di sungai Seine, itu juga karena pacar! Jadwal saya ke satu kota itu biasanya cuma: airport – hotel – besoknya ke galeri lukisan, gedung konser, pulang. Saya nggak suka jalan-jalan, apalagi belanja. Dunia orkestra juga sering, sebagai solois, conductor (biasanya untuk karya-karya sendiri) dan menulis untuk orkes.

8. Sepertinya anda telah menemukan kalau piano adalah kanal imajinasi anda yang sangat lebar. Apa sebenarnya ambisi anda secara musikal, edukasional dan spiritual?
Mungkin karena Asperger’s Syndrome saya, saya hanya ingin menuliskan apa yang ada di kepala. Saya ini orang yang sangat membosankan, kalau dibolehkan, saya duduk aja di depan kertas pentagram dan computer, nulis musik sepanjang hari. Bagian dari Asperger’s itu namanya synesthesia, yaitu semua yang saya lihat itu berbunyi. Istilahnya “mendengar bentuk, mendengar warna”. Makanya saya tuh nggak kayak Beethoven yang terinspirasi megahnya gunung atau birunya langit. Saya tuh ama cangkir kopi, gagang pintu, keset “welcome” aja berbunyi dan bisa jadi musik. Soal bagus atau jeleknya bunyi itu, itu lain hal. Itu yang saya butuh teknik, ilmu untuk memilah-milah mana bunyi yang bisa saya olah jadi musik untuk saya berikan ke publik, mana yang saya simpan sendiri. Tapi pada dasarnya, semua bunyi itu jadi material yang potensial untuk diolah.

9. Apakah Indonesia punya masa depan yang menjanjikan bagi musik klasik dalam konteks finansial dalam jangka panjang? Seperti apa pengamatan anda terhadap besaran yang bisa dicapai dari musik klasik? Apakah yang membuat para seniman musik klasik tetap setia di jalurnya?
A: Ada atau tidaknya masa depan, itu tergantung dari kita. Gersang? Ya dikasih pupuk. Terus ditanami bibit2 unggul. Kalau Jepang, Korea, Australia dan negara2 Amerika Selatan yang tidak punya tradisi musik klasik bisa memasukkan devisa negara dengan itu, kenapa kita tidak? Kita punya kelebihan: material untuk dikembangkan ke dalam musik piano, simfonik dll itu kita punya yang paling kaya sedunia, yaitu kekayaan lagu-lagu daerah dengan melodi, sistim tangganada dan intervalik, ritme dan harmoni masing-masing daerah.

10. Selalu berada di lingkungan musik klasik, apakah yang ada di pikiran anda dulu terhadap musisi besar? Modal dan karakter apa yang harus dimiliki oleh musisi besar dari perspektif kecil anda? Apakah penilaian itu berubah seiring usia? Seperti apa definisi anda atas musisi besar saat ini?
A: Dulu saya pikir, musisi klasik besar itu harus berkulit putih, keren. Sekarang sangat berubah. Dirigen Los Angeles Philharmonic itu Gustavo Dudamel dari Venezuela. Concertmaster-nya New York Philharmonic itu Frank Xin Huang dari Cina, begitu pula pianis2 paling terkemuka saat ini Yuja Wang dan Lang Lang. Concertmaster Berlin Philharmonic itu Daishin Kashimoto dari Jepang.

Ada artikel di Washington Post sekitar tahun lalu berjudul “The Future of Classical Music is Chinese”, itu sebetulnya karena pemerintah Cina tahu apa yang harus dilakukan, dan yaahh dengan sedikit tangan besi sih dan investasi yang besar sebetulnya kenyataan itu bisa “dikudeta” oleh Indonesia. Itu gabungan antara komunikasi budaya dengan identitas yang kuat aja sih. Sederhananya, kalau kita ngobrol sama orang, kita harus mengerti lawan bicara kita tapi jangan jadi ngikutin mereka.

11. Apakah anda sering memenangkan kompetisi bermusik di tingkat dunia? Apa saja yang pernah anda raih? Apakah untuk ikut kompetisi adalah sebuah pengalaman yang penting bagi seniman musik klasik? Apakah status pemenang adalah sangat penting dan bergengsi sebagai impresi khalayak luas?
A: Ini cek point no. 6 di mana sudah saya jawab deh. Soal kompetisi, saya juga pernah menulis di https://serikatnews.com/menang-kompetisi-piano-buat-apa/ . Biasanya kompetisi piano batas umurnya sekitar 27 atau 28, saya juga berhenti ikut kompetisi pada usia 26. Daftar kemenangan kompetisi yang saya raih ada di https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/musik-tidak-kalah-penting-dari-politik-dan-ekonomi/ .

Tapi sebetulnya orang yang banyak berjasa di karir saya justru datang setelah periode kompetisi itu berakhir. Misalnya Sir Michael Tippett dan Ratu Sofia (yang sudah turun tahta tahun 2014 tapi sekarang kembali support dengan …. ) . Mereka2 ini tidak akan bisa mengenal saya kalau bukan dari konser2 saya, dan itu terjadi karena saya memenangkan kompetisi.

12. Siapakah komposer idola anda, baik yang telah masih aktif dan sudah tiada? Apa pengaruh mereka dan musik mereka buat anda?
A: Saya beruntung telah bekerjasama dengan para idola saya dgn merekam semua karya mereka untuk piano solo (ada di iTunes) : selain Sir Michael Tippett yang saya sebut di atas, juga Toru Takemitsu (yang sering bikin musik untuk filmnya Akira Kurosawa) dan Peter Sculthorpe. Dua-duanya dianggap sebagap pencetus, atau pelopor dari identitas musik klasik negara mereka, yaitu Jepang dan Australia. Selama bekerja mempersiapkan karya-karya mereka, saya juga jadi belajar banyak dari mereka, dua-duanya “menusuk” saya dengan pertanyaan “pianis dan komponis Indonesia kok nggak ada Indonesia2-nya?” Itu tahun 90-an, dan mereka yang selalu mendorong saya untuk menggali musik tradisi Indonesia. Surat-suratan dengan mereka (masih dalam bentuk kertas) itu yang membantu saya menemukan jati diri saya sendiri sih. Mereka bukan hanya besar jasanya untuk negara mereka, tapi juga ke si anak Indonesia berusia 20-an yang masih bloon waktu itu.

13. Bagaimana anda melihat para seniman musik klasik di Indonesia. Bagaimana juga mereka melihat anda sebenarnya yang anda pernah dengar? Apakah anda punya sesuatu yang dapat diberikan kepada mereka agar bisa diapresiasi di negara selain Indonesia?
A: Karya yang ditulis khusus oleh seorang komponis untuk seorang musisi (pianis, instrumen lain maupun penyanyi) itu sangat berguna untuk karir sang musisi, karena itu menjadi “trademark” dari sang musisi itu. Walaupun ditulis oleh para komponis Eropa, karya-karya yang ditulis khusus untuk saya itu jadi sangat Indonesia, seperti misalnya Simfoni no. 2 “Nusantara” oleh David del Puerto https://www.youtube.com/watch?v=J5IBBQ4f6B4 yang saya bawakan di debut saya di Venice Biennale. Itu karena kepribadian sang musisi/pianis biasanya “masuk” ke musik yang memang didesain untuk sang pianis. Saya punya keuntungan di situ: Del Puerto itu instrumennya gitar, jadi karya pianonya harus dimainkan orang lain. Jadi Simfoni-nya ini sudah membawa saya ke-mana-mana karena banyak produser konser yang ingin memprogramnya.

Nah, ada 200-an karya musik yang telah ditulis untuk saya dari komponis berbagai negara, dan karya-karya itu yang menjadi “senjata” saya sewaktu saya muda, belum bisa membawakan karya-karya sendiri. Sampai usia hampir 40-an, saya konser sekitar 50-80 x dalam setahun, itu karena saya punya karya-karya yang didedikasikan ke saya itu yang “highdemand” untuk dimainkan.

Nah, itu lah tradisi yang saya lanjutkan, saya beri “modal” yang saya bisa berikan ke para pianis muda Indonesia. Setelah menganalisa permainan mereka, saya tulis karya untuk mereka. Terus anda bertanya, lah tapi kan saya sendiri main piano? Iya, tapi apa saya bisa terus-terusan main piano? 20 tahun lagi, waktu saya usia 70, apa permainan saya masih seperti sekarang? Dan kemudian setelah saya pergi dari dunia ini? Semoga masih banyak yang membutuhkan Rapsodia Nusantara, dan pianis-pianis yang sekarang usianya masih belasan atau 20-an inilah yang akan memainkannya di kemudian hari.

Tapi ada juga kasus unik, misalnya setiap pemenang Ananda Sukarlan Award itu saya hadiahkan Rapsodia Nusantara yang benar-benar saya desain dengan teknik, karakter sang pemenang. Untuk Anthony Hartono (pemenang ASA 2014, sekarang menetap di Singapura) saya menuliskan Rapsodia no. 17, tapi sampai sekarang namanya tetap melekat dengan Rapsodia no. 10. Ini karena no. 10 memang lebih “high-demanded”, dan memang dia spektakuler banget, lebih keren daripada saya sendiri malah mainnya karya itu. Coba cek konsernya di festival di Finlandia main no. 10: https://www.youtube.com/watch?v=rCQbqsU6RaM

14. Bagaimana anda menggambarkan gaya bermain anda dan bagaimana semua itu tumbuh atau berubah seiring waktu? Dapatkah anda sampaikan karakter anda dalam bermusik itu seperti apa?
A: Walaupun saya sadar di tahun 90-an bahwa identitas keindonesiaan saya itu adalah modal utama saya untuk berkarir di Eropa, saya dulu masih berpikir bahwa untuk balik ke Indonesia, saya tetap harus “Beethoven-ian, Bach-ian” dll. Jadi sewaktu balik ke Indonesia tahun 2000, waktu itu diundang Gus Dur sebagai seniman pertama yang masuk lagi ke istana setelah era Soekarno, ya saya mainnya Beethoven lah. Apalagi udah di-woro2, Gus Dur itu sukanya musik Beethoven loh. Setelah kelar konser (yang beliau tonton dengan memakai sarung dan sendal jepit sementara pejabat dan undangan2 yang lainnya keren2!), saya ngobrol lama dengan beliau dan langsung ditanya “anda itu orang Indonesia kok mainnya Beethoven melulu?”.

Saya jawab, karena memang dosen saya di Conservatory memang menyarankan untuk tidak memainkan karya saya sendiri sebelum karir saya sebagai pianis itu mapan. “Lah kamu kurang mapan apa” tanya Gus Dur. Ya iya sih … cuma saya jadi keenakan hahaha ….. Udah gitu saya sempet melirik ke beliau pas main, kelihatannya ketiduran, tapi terus beliau bilang setelah itu “wah di bagian sini tadi rada kurang solid ya” (kayaknya pas bagian saya melirik beliau deh hahaha, saya emang rada grogi waktu itu, lah presiden yang ngundang, saya sama sekali tidak punya referensi siapa itu beliau –karena zaman itu saya belum internetan–, terus beliau sendiri ketiduran! Udah gitu itu pejabat2 lain yang datang kayaknya nggak begitu suka musik klasik sih, tapi ya terpaksa aja harus datang). Ternyata memang setelah itu saya dibilangin, Gus Dur itu kelihatannya selalu tidur, padahal menyimak abis!

Nah, sejak percakapan kami yang cukup membuka mata saya itu, saya sadar bahwa keindonesiaan saya juga dibutuhkan di negeri sendiri. Makanya sekarang saya udah hampir nggak pernah main Mozart dan Bach lagi, sudah banyak yang main itu di Indonesia. Saya punya kewajiban moral untuk memperkenalkan musik Indonesia ke orang Indonesia sendiri yang ternyata sekarang generasi mudanya udah nggak tau lagi O Inani Keke, Rasa Sayange dll.

15. Siapakah sebenarnya orang atau institusi yang peduli terhadap musik klasik dan perkembangannya di Indonesia? Apa sebenarnya dasar mereka menyokong musik klasik? Apakah mereka sekedar suka atau bagaimana hati mereka disentuh oleh musik klasik?
A: Saat ini pak Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan, dan juga Pak Ahmad Mahendra kepala Direktorat Perfilman, Musik dan Media Baru dibawah Ditjen tersebut sangat mendukung musik klasik, terutama yang beridentitas keindonesiaan yang kuat. Kalau dari swasta banyak. Yayasan Habibie-Ainun, Keluarga Panigoro dari MEDCO, Keluarga Alisjahbana dari FEMINA Group, kaya.id , bahkan sekarang partai politik seperti Partai Solidaritas Indonesia pun menggunakan musik klasik untuk penggalangan dana mereka.

Pak Prabowo Subianto, Pak Luhut Panjaitan, Ibu Sri Mulyani, Ibu Retno Marsudi, mereka suka datang ke konser saya, mereka benar-benar ada kebutuhan emosional dengan genre musik ini. Mereka juga tahu, untuk berkomunikasi, berdiplomasi internasional, musik inilah yang punya daya komunikatif yang kuat, makanya waktu itu kami pagelarkan di World Culture Forum. Banyak koq yang suka musik klasik, buktinya konser online saya yang diproduksi Dirjen Kebudayaan sejak Mei lalu selalu mendapat views rata-rata 4000-5000-an dan naik terus setelah itu.

16. Sejak kapan anda mulai masuk ke rekaman membuat album. Apakah anda selama ini merilis sendiri atau mendistribusikan lewat perusahaan rekaman? Yang mana yang paling efektif untuk musik anda?
A: Waktu masih muda saya dikontrak oleh perusahaan rekaman, Naxos misalnya. Setelah itu saya memproduksi sendiri, “indie” ceritanya nih hehe. Ada yang kerjasama sih, seperti semua karya yang diminta BJ Habibie, itu dengan Yayasan Habibie-Ainun, dan kami pasarkan bersama saja. Nah, karya terakhir saya untuk BJ Habibie “Sebuah Simfoni Untuk Perempuan” nih saya masih galau, apalagi beliau sudah tidak ada. Sudah direkam sih, tinggal di release. Tapi selama 2 tahun ini penjualan CD sangat menurun, saya dengan yayasan itu masih brainstorming, ini enaknya diapain?

17. Sudah berapa dan apa saja judul album anda selama ini? Kenapa tidak banyak media yang mempromosikan album anda secara masif? Apakah musik anda tidak pernah diperkenakan kepada media dengan gencar?
A: Iya sih ini saya kurang banget nih, mikirnya cuma bikin musik ama main piano melulu hiikss ….. Tapi saya tuh CDnya pernah menang beberapa penghargaan di luar negeri sih. Radio Nacional de Espana bahkan pernah bikin program khusus dengan rekaman-rekaman saya, dimana saya jadi “Cover Boy” majalah bulanan mereka sebagai Musician of the Month (saya lampirkan fotonya).

Dengan paradigm shift publik terhadap konsumsi musik, posisi saya masih “wait and see” karena memang genre ini bukan genre yang komersial. Tapi kadang-kadang saya terlalu lama sih “wait”nya .. ehm …. Sampai sekarang sudah 15 CD, dan CD terakhir adalah “A Virtuosic Christmas, vol. II” yang release tahun lalu. Di situ saya main lagu-lagu natal yang saya bikin variasi & fantasi dengan cukup virtuosik.

18. Melalui rilis album, apakah angka penjualan yang sangat anda kejar atau apa misi anda dengan merilis album berulang kali? Apakah musik klasik berubah secara artistik karena pasar digital?
A: Bukan angka penjualan karena kami musikus klasik tuh “tahu diri” bahwa peminat klasik itu sedikit. Apalagi musik klasik sulit didengarkan di mobil, misalnya, karena memang butuh rentang desibel yang besar (kadang bisa sangat lembut, kadang keras banget jadi memang harus didengar di ruangan yang sunyi, bukan di mobil dengan segala hiruk pikuk di luar yang masuk walaupun jendela ditutup) serta fokus untuk menikmati strukturnya. Kalau satu CD bisa terjual 10.000 keping saja kami mah udah bahagia.

Rekaman buat kami lebih sebagai bentuk dokumentasi, karena walaupun musik klasik itu tidak “ngehitz”, tapi biasanya bertahan lama. Btw, anda semua tahu kah, bahwa musik yang paling banyak memasukkan uang dari royalty sebelum adanya The Beatles itu adalah Romeo & Juliet-nya Sergei Prokofiev? Bukan musik pop, rock n roll dsb loh. Itu disebabkan karena musik itu selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang, masih terus dimainkan.

Di era digital, secara struktural bisa saja berubah sih. Saya sendiri sekarang berpikir ulang kalau mau menuliskan “intro” yang kepanjangan hihihi … tapi tidak style-nya. Style itu “how I am” sih, jadi susah untuk diubah.

19. Anda menguasai musik klasik sejak remaja dan bagaimana anda bersinggungan dengan musik tradisi Indonesia? Apakah menurut anda musik tradisi kita itu dapat dieksplorasi seluas mungkin? Apa saja yang pernah anda buat untuk mengoptimalkan kebudayaan Indonesia?
A: Hal ini baru saya sadari setelah ngobrol dengan 2 tokoh di atas, Toru Takemitsu dan Peter Sculthorpe (baca point no. 12), serta Gus Dur dan kemudian BJ Habibie (baca points berikut). Apa yang saya eksplorasi dari musik tradisi itu baru 0,000001% dari posibilitasnya.

20. Dapatkah ceritakan tentang style komposisi anda? Seperti apa proses anda menyiapkan sebuah komposisi dan apakah anda selalu bereksperimen dengan karya-karya anda? Apa tantangan yang paling anda suka dalam urusan komposisi?
A: Menyiapkan komposisi itu sangat nggak keren, nggak “glamour”. Di tempat tidur, kertas-kertas pentagram berserakan, komputer nyala, kadang-kadang bikin kopi. Terus kalau musik kamar atau orkes, ya rehearsals dengan para musisi, itu ya tetap aja pakai celana pendek dan kaos. Nggak banget deh … Saya sih selalu bereksperimen, tapi apa yang dipagelarkan itu adalah hasil eksperimen, bukan eksperimen itu sendiri. Publik bukan kelinci percobaan, saya hanya bertugas memberikan yang terbaik. Kalau itu masih tidak disukai publik, ya sorry aja ….. saya jadi ingat, pak Habibie kan selalu minta saya bikinin musik baru. Paginya sewaktu rehearsal terakhir, beliau selalu nongol dan nanya “Gimana simfoninya kali ini?” Jawaban saya “ya saya bisanya cuma gini loh Pak, semoga berkenan”. Saya rasa itu jawaban saya untuk publik umum, selalu, dengan setiap karya saya.

21. What’s next for you? Apakah anda punya ketertarikan untuk menciptakan komposisi untuk musik elektronik atau media digital? Kira-kira apa yang akan anda lakukan dalam waktu 10 tahun? Apakah anda memiliki proyek impian atau kolaborasi dalam pikiran untuk masa depan?
A: Saya masih ingin kolaborasi dengan seniman-seniman bidang lain dengan lebih intense. Selama ini saya sudah membuat ratusan “tembang puitik” berdasarkan puisi para sastrawan Indonesia dan luar negeri, kolaborasi dengan beberapa koreografer dan juga sekali dengan visual artist Tero Annanolli dari Finlandia, yang menginspirasi karya saya “Annanolli’s Sky” untuk piano quintet. Media digital adalah media yang saya belum explore sama sekali, padahal setelah konser online dan video-video pendidikan saya yang diproduksi oleh Direktorat Perfilman, Musik dan Media baru 2 bulan terakhir ini saya jadi melihat potensinya yang luar biasa. Maybe that’s the next for me?

22. Apakah anda memiliki tempat konser favorit untuk tampil dan apa alasannya? Apakah di Indonesia sudah ada tempat yang mumpuni dan apakah anda punya saran tempat di dunia yang paling pas untuk diadopsi oleh Indonesia?
A: Gedung konser yang saya pernah main, dan suka, ya banyak, seperti Concertgebouw di Amsterdam, Berlin Philharmoniker dll. Tapi sekarang saya justru inginnya main di tempat-tempat yang justru bukan untuk konser. Sewaktu jadi duta Greenpeace, saya main piano di atas kapal Rainbow Warrior mereka, waktu itu di selat antara Singapura dan Malaysia. https://mediaindonesia.com/read/detail/162764-ananda-sukarlan-digandeng-greenpeace.

Saya juga ingin sih main di tempat terbuka, seperti tahun 2018 opera saya “Saidjah dan Adinda” diperdanakan di lapangan parkirnya Museum Multatuli di Rangkasbitung. Intinya, saya ingin konser untuk publik yang tidak suka, bahkan menganggap musik klasik itu kuno, membosankan dan ribet. Kalau saya memuaskan pecinta musik klasik, saya ok aja, tapi kalau publik yang tidak suka jadi suka, nah saya merasa puas. Dan publik itu tidak ada di gedung konser, adanya di luar.
Kalau Indonesia mau bikin gedung konser klasik, yang paling bisa “dijiplak” saat ini mungkin Pierre Boulez Saal di Berlin bikinan arsitek Frank O. Gehry dengan konsep moduler-nya. Itu “versi canggih”nya Soehanna Hall yang multifungsi. Kalau PB Saal itu akustiknya memang hanya untuk musik klasik, beda dengan Soehanna. Menurutku, gedung konser zaman now harus dengan sistem multifungsi atau moduler. Gedung “kaku” versi Concertgebouw akan banyak tersia-sia karena tidak setiap hari kita mengadakan konser orkes yang anggotanya puluhan (bahkan ratusan kalau ditambah paduan suara).

23. Anda pernah tinggal di Spanyol dalam waktu yang lama, seperti apa hubungan anda dengan negara itu? Apa yang membuat negara tersebut suka dengan anda dan musiknya? Kenapa di Indonesia tidak ada yang terpikat sedalam mereka?
A: Saya masih bolak-balik ke sana, sih. Well, negara-negara Eropa tentu menghargai para musikus asing yang mau mendalami tradisi mereka. Ah di Indonesia banyak kok yang memang mencintai musik klasik, tapi mungkin jumlahnya nggak banyak.

24. Seperti apa rutinitas anda bermusik di Spanyol. Kenapa anda kembali lagi ke Indonesia dan bukan menetap di sana lebih lama lagi? Seperti apa apresiasi masyarakat Spanyol dengan musik klasik?
A: Di sana saya terlibat dalam kompetisi untuk musik kamar (grup musik max. 5 musikus), dan juga mulai tahun ini menjadi Presiden Dewan Juri Queen Sofia Prize, penghargaan musik klasik terbesar di Eropa. Selain itu ya menulis musik dan konser-konser, itu sama lah di mana-mana. Apresiasi publik di Eropa sih memang besar, cuma ada 2 hal yang negara2 Asia unggul dari mereka: rejuvenasi publik dan inovasi dalam penyelenggaraan konser. Ini bahan cerita panjang, kapan2 aja ya.

25. Apakah anda merasa frustrasi untuk mempromosikan musik klasik di Indonesia? Apa saja yang sudah anda lakukan dan akan terus anda lakukan agar masyarakat Indonesia membuka hatinya dalam beragam titik dukung?
A: Noooo, kebalikannya. Ini lahan yang masih perawan, kita bisa mulai tanpa melakukan kesalahan2 yang dilakukan oleh negara2 lain. Musik klasik bukan tradisi kita, jadi kita justru bebas membuat cara-cara mempromosikannya tanpa terikat tradisi dan pakem2 seperti di Eropa yang buat saya sangat konservatif dan tidak inovatif. Kita bisa melakukannya dengan cara yang sangat out of the box.

26. Banyak yang tidak menyangka kalau anda ternyata sangat vokal pada politik praktis yang tidak transparan dan hanya setengah memihak. Seperti apa kedalaman anda terhadap dinamika politik di Indonesia? Apa yang anda perjuangkan?
A: Wah, semua penduduk di Eropa tuh begitu kok. Buat saya, melek politik harusnya sesuatu yang normal di negara demokratis yang menjamin kebebasan berekspresi warganya. Mungkin kita masih trauma dengan kehidupan 32 tahun di bawah kediktatoran? Saya kuliah di Belanda mulai usia 18, dan di sana melihat fakta bahwa orang bisa mengkritik siapapun di pemerintahan, dengan cara yang juga etis. Jadinya kebiasaan itu dibawa-bawa deh sampai sekarang.

Banyak orang mengira saya seorang “Jokower”, sebetulnya juga tidak. Justru karena saya memilih beliau, saya merasa saya berhak mengkritik beliau. Banyak kok kritik saya, misalnya soal kartu prakerja, soal pendidikan (di periode pertama), ke-cuekannya dalam investasi kesenian, sampai internet yang lemot. Tapi memang saya marah banget waktu Ahok dipenjara. Intinya saya paling anti dengan orang atau kelompok yang jualan agama apapun sampai membunuh, menteror atau ya memenjarakan orang yang bukan hanya tidak bersalah tapi sudah banyak berjasa untuk negaranya.

27. Apakah anda seorang pembaca buku? Apa saja yang anda baca selama ini? Siapa penulis yang anda sukai dan bagian mana yang selalu membuat anda larut dalam harmonisasi kalimatnya?
A: Banget, walaupun ternyata jumlah buku yang saya baca akhir-akhir ini menurun karena adanya smartphone dan media sosial. Tapi selama 3 bulan terkungkung di rumah membuat saya banyak membaca lagi, antara lain menyelesaikan tetraloginya Pramoedya Ananta Toer.

Kalau penulis Indonesia, favorit saya a.l. Eka Kurniawan, cerpen Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma dan Leila S. Chudori. Kalau internasional Haruki Murakami, banget. Biasanya saya suka penulis yang mampu menciptakan suasana yang memungkinkan pembaca terbenam dalam cerita melupakan dunia luar.

Kalau plot Murakami menarik, tidak terlalu banyak tokoh dan alur cerita terus memberikan twist / kejutan secara bertahap. “Flow” dan struktur narasi begini yang menginspirasi saya juga dalam bermusik, karena musik klasik selalu butuh bentuk yang diciptakan sendiri oleh komponisnya, bukan bentuk “standar” seperti musik pop. Alur musik dibikin oleh komponisnya.

Selain itu saya ngefans banyak penulis klasik lah, namanya juga musisi klasik hahaha …. Henry James, Edgar Allan Poe, dan di atas segala-galanya Shakespeare dan Plato bukunya ada di sebelah tempat tidur saya.

28. Bagaimana anda melihat masa depan musik di Indonesia? Apa saja yang harus diperbaiki? Apa langkah yang paling mujarab agar bisa satu garis bersama musisi manca negara?
A: Yang paling urgent adalah Hak Cipta dan royalties (untuk semua genre musik), dan ini memang masalah para ahli hukum, walaupun tentu dengan bantuan arahan para musikus. Ini masih amburadul banget sehingga tidak ada satu pun karya saya yang saya mau daftarkan di Indonesia.

Yang kedua, semua subsidi seni pemerintah daerah, nasional dan asing harus dikurasi juga oleh tim yang bukan seniman (seniman hanya sebagai penasehat). Saat ini subsidi internasional masih dimonopoli oleh sedikit sekali badan pengelola dengan proses kurasi yang biasanya tidak cukup transparan.

Ketiga, kita harusnya punya pusat kebudayaan RI di beberapa negara, seperti Goethe Institut, The British Council atau Erasmus Huis. Negara dengan kebudayaan terkaya di dunia dan tidak punya pusat kebudayaan di negara asing? Itu absurd menurut saya. Kedutaan2 Besar banyak yang tidak bisa diandalkan, karena mereka biasanya mengundang grup-grup musik atau seniman tanpa kriteria artistik yang jelas.

Kedutaan Besar harus tahu, bukan bawa dangdut saja ke dunia internasional. Kita tahu lah, grup musik apa saja yang selalu diundang kedubes2 RI. Itu akhirnya untuk hiburan staff kedubes sendiri, tapi fungsi diplomasi kebudayaannya kebanyakan tidak tercapai.

29. Anda punya hubungan baik dengan mantan Presiden BJ Habibie. Apa yang anda dapatkan dari kedekatan tersebut dan bagaimana anda menyampaikan bahasa musik anda kepada Almarhum dan Keluarganya?
A: Saya sih tidak menyampaikan bahasa musik saya ke Alm. Justru beliau, lewat putranya Ilham yang mengundang saya satu sore di tahun 2013 untuk ngobrol, karena mereka sudah tahu semua tentang musik saya. Kami saling belajar, brainstorming. Kebanyakan sih kami ngobrol soal diplomasi kebudayaan, bagaimana mengangkat musik daerah ke ranah musik klasik yang bisa menembus panggung internasional karena daya komunikasinya yang kuat serta investasi dalam bidang seni.

30. Apakah anda memiliki saran untuk masyakarat saat ini mengenai situasi New Normal COVID-19? Bagaimana anda menghadapi masa-masa penuh tekanan ini? Apa yang akan berubah untuk komunitas musik klasik?
A: Wah, banyak kesempatan bisa diambil dari periode ini! Saya pernah diwawancara dan wartawannya menuliskannya cukup panjang di https://eksposisi.com/ananda-sukarlan-optimis-pandemi-virus-corona-cepat-berlalu dan https://akurat.co/news/id-1134096-read-new-normal-dan-tantangan-baru-bagi-musisi . Ingat, banyak masterpiece tercipta oleh orang yang sedang terkungkung, seperti Tetralogi-nya Pramoedya di Pulau Buru, atau De Profundis-nya Oscar Wilde yang ditulisnya sewaktu di penjara!

@2020/AldoSianturi/Photos: Special (Ananda Sukarlan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *